Mengapa Dollar AS Terus Menguat? Ini Tiga Faktor Pendorongnya

Mengapa Dollar AS Terus Menguat? Ini Tiga Faktor Pendorongnya

Dollar AS terus menguat hingga tertinggi dalam 13 bulan. Pelemahan yen, ekspektasi The Fed, dan booming AI menjadi pendorong utamanya.

(Kompas.com) 01/07/26 05:52 264472

KOMPAS.com - Nilai tukar dollar AS terus menguat hingga mencapai level tertinggi dalam 13 bulan. Penguatan dollar AS menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah, yang ditutup melemah ke level Rp 17.907 per dollar AS pada perdagangan Selasa (30/6/2026).

Dilansir dari Yahoo Finance, Selasa (30/6/2026), penguatan dollar AS ditopang sejumlah faktor.

Selain pelemahan yen Jepang dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), derasnya investasi ke sektor teknologi AS di tengah perkembangan AI juga ikut memperkuat dollar AS.

Sementara itu, di pasar domestik, rupiah ditutup melemah 56 poin atau 0,31 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelaku pasar juga masih mencermati sejumlah faktor dalam negeri, mulai dari neraca perdagangan hingga kondisi transaksi berjalan Indonesia.

Yen Jepang Terpuruk, Dollar AS Kian Perkasa

Salah satu faktor utama yang menopang penguatan dollar AS adalah pelemahan tajam yen Jepang.

Pada perdagangan Selasa pagi, yen sempat merosot ke level terlemah terhadap dollar AS sejak 1986. Mata uang Jepang itu menembus level 161,95 yen per dollar AS, sekaligus menjadi posisi terendahnya dalam hampir empat dekade.

Pada saat yang sama, US Dollar Index (DXY), yang mengukur kinerja dollar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, diperdagangkan tidak jauh dari level tertinggi 13 bulan. Indeks tersebut sebelumnya sempat menyentuh level 101,80

Sepanjang 2026, indeks dollar telah menguat sekitar 3,1 persen. Sekitar dua pertiga penguatan tersebut terjadi dalam sebulan terakhir seiring pelemahan yen dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Pelemahan yen terjadi meski Bank of Japan (BOJ) telah menaikkan suku bunga acuannya dari 0,75 persen menjadi 1 persen pada awal Juni.

Namun, tingkat suku bunga Jepang masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara maju lainnya. Kondisi tersebut mendorong investor menjual yen dan beralih ke mata uang yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, termasuk dollar AS.

Inflasi Tinggi Perkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Faktor kedua yang menopang penguatan dollar AS adalah meningkatnya keyakinan pasar bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan.

Dalam rapat kebijakan moneter pertamanya di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh pada Juni lalu, bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Meski demikian, berdasarkan data Bloomberg, pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

Bahkan, peluang kenaikan kedua sebelum Maret tahun depan diperkirakan mencapai hampir dua pertiga.

Ekspektasi tersebut didorong oleh inflasi AS yang masih bertahan di atas target The Fed sebesar 2 persen.

Indikator inflasi pilihan The Fed, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE), menunjukkan tekanan harga kembali meningkat pada Mei.

Sementara inflasi inti (core PCE), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi karena lebih bergejolak, mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023.

Secara umum, kenaikan suku bunga membuat aset berdenominasi dollar, seperti obligasi pemerintah AS, menawarkan imbal hasil yang lebih menarik sehingga meningkatkan permintaan terhadap mata uang tersebut.

Booming AI Tarik Investasi ke Amerika Serikat

Selain faktor suku bunga dan pelemahan yen, booming AI juga menjadi penopang penguatan dollar AS.

Analis strategi Goldman Sachs, Lexi Kanter, mengatakan pesatnya perkembangan industri AI mendorong investor global memborong saham-saham teknologi di Amerika Serikat.

Untuk membeli saham tersebut, investor harus menukar mata uangnya menjadi dollar AS sehingga permintaan terhadap greenback meningkat.

"Kalau pun ada, dollar sebenarnya tampak sedikit lebih lemah dibandingkan yang seharusnya terjadi hanya berdasarkan faktor ini," tulis Kanter kepada para kliennya.

Meski demikian, Kanter mengingatkan bahwa terdapat sejumlah risiko yang dapat menekan dollar AS, seperti berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga, kekhawatiran terhadap kredibilitas The Fed, hingga perlambatan ekonomi AS pada paruh kedua tahun ini.

Namun, ia menilai peluang penguatan dollar masih terbuka apabila pejabat The Fed menilai kebijakan moneter saat ini belum cukup ketat, terutama di tengah masih kuatnya belanja modal perusahaan yang berkaitan dengan AI.

Rupiah Tertekan, Pasar Pantau Neraca Dagang dan Data AS

Di dalam negeri, penguatan dollar AS ikut memberi tekanan terhadap rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah 56 poin atau 0,31 persen ke level Rp 17.907 per dollar AS pada perdagangan Selasa (30/6/2026).

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan investor masih menantikan rilis data neraca perdagangan Indonesia periode Mei 2026.

Menurut dia, penyusutan surplus perdagangan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sepanjang tahun ini sehingga dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah apabila tidak diimbangi masuknya aliran modal asing.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 mencapai 5,64 miliar dollar AS. Nilai tersebut turun tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih berada di atas 10 miliar dollar AS.

"Penyusutan surplus perdagangan tersebut akan berdampak langsung terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan. Pada kuartal I-2026, transaksi berjalan Indonesia telah mencatat defisit sekitar 4 miliar dollar AS," ujar Ibrahim.

Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk potensi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, perhatian investor tertuju pada sejumlah data ekonomi AS, seperti Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), Indeks Kepercayaan Konsumen, serta laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan menjadi petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#dollar-as #nilai-tukar-rupiah #dollar-as-menguat #yen-jepang #inflasi-as #suku-bunga-the-fed #nilai-tukar-dollar-as

https://money.kompas.com/read/2026/07/01/055200026/mengapa-dollar-as-terus-menguat-ini-tiga-faktor-pendorongnya