Meta Akui Pelaku Judol Mampu Kelabui Teknologi AI Miliknya
Spam di kolom komentar platform Instagram dan Facebook cukup ramai kendati perusahaan telah menerapkan AI
(Bisnis.Com) 01/07/26 10:03 264706
Bisnis.com, JAKARTA — Raksasa teknologi dunia, Meta, mengakui teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dibangun belum dapat membendung spam di kolom komentar platform Instagram dan Facebook.
Keterbatasan sistem moderasi otomatis ini membuat kedua media sosial tersebut menjadi wadah dengan sebaran komentar spam judi online (judol) terbesar di Indonesia, sehingga memicu desakan dari berbagai pihak agar korporasi segera meningkatkan efektivitas pengawasan ruang digital.
Kegagalan sistem AI dalam menyaring konten ilegal ini disebabkan oleh tingginya fleksibilitas para pelaku kejahatan siber dalam memanipulasi algoritma pemfilteran. Meskipun Meta telah menerapkan sistem penyaringan berbasis kata kunci dan deteksi pola visual, para pembuat konten spam selalu menemukan celah baru agar promosi ilegal mereka tetap lolos dan terlihat oleh jutaan pengguna aktif di tanah air.
Head of Public Policy Indonesia and Philippines Meta Berni Moestafa menjelaskan ada dua langkah dari sisi kebijakan ketika perusahaan mendeteksi sebuah pelanggaran saat mengambil tindakan penegakan aturan. Namun, efektivitas langkah tersebut sangat bergantung pada seberapa cepat sistem membaca perubahan taktik dari para promotor konten ilegal.
“Langkah-langkah pelaku memberikan iklan itu selalu berubah, mereka selalu beradaptasi, sehingga bagi kami tentunya ada kesempatan juga untuk bisa mengambil tindakan yang lebih preventif ketika si pelakunya sudah melakukan inovasi untuk me-evade langkah detection kami,” ujar Berni di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Kemampuan adaptasi pelaku yang sangat cepat ini membuat teknologi kecerdasan buatan milik Meta kerap tertinggal satu langkah dalam mendeteksi model enkripsi teks teranyar.
Inovasi taktik dari pihak luar ini memaksa tim pengembang internal untuk terus memperbarui basis data dan metodologi algoritma pemfilteran secara berkala agar tidak kecolongan di masa mendatang.
Di tengah keterbatasan teknologi kecerdasan buatan yang ada saat ini, kata Berni, pembersihan kolom komentar tidak bisa hanya mengandalkan sistem internal korporasi semata. Perusahaan membutuhkan pasokan informasi eksternal guna mempercepat proses pengenalan pola anomali yang baru diciptakan oleh pelaku di lapangan.
Meta memandang kerja sama dengan para pemangku kepentingan menjadi instrumen penting untuk menutup celah sistemik ini. Manajemen membutuhkan pasokan data rutin agar mesin pembelajaran pintar mereka dapat mengenali jenis gangguan baru secara lebih presisi.
Adapun investasi Meta di bidang kecerdasan buatan (AI) mencapai proyeksi belanja modal tahunan sebesar US$125 hingga US$145 miliar atau setara dengan Rp2.243 triliun - Rp2.602 triliun secara global. Raksasa teknologi ini secara agresif melipatgandakan anggaran tersebut dibandingkan pengeluaran tahun 2025 yang sebesar US$72,2 miliar, demi memenangkan persaingan infrastruktur dan pengembangan model AI.
Namun, di tengah investasi besar tersebut sistem AI yang dimiliki belum maksimal dalam mencegah spam judol di kolom komentar
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan berdasarkan laporan yang diterima, operasi spam tersebut dijalankan melalui sistem yang mampu memantau aktivitas media sosial secara real-time.
Sistem milik pelaku akan memantau aktivitas di media sosial sampai mendeteksi terjadinya lonjakan interaksi pada suatu akun. Setelah lonjakan interaksi terdeteksi, pelaku mengirimkan komentar yang memuat promosi ke akun tersebut. Pelaku dapat mengirimkan hingga ribuan komentar secara otomatis dengan menggunakan akun-akun yang dioperasikan oleh mesin maupun bot.
Dia juga menilai pola serangan yang semakin terorganisasi dan memanfaatkan teknologi menunjukkan bahwa penanganan spam komentar judol tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata.
Karena itu, lanjut Meutya, diperlukan kolaborasi lintas lembaga serta dukungan dari perusahaan platform digital untuk memperkuat upaya pencegahan dan penindakan terhadap penyebaran konten judol di ruang digital.
"Ini memerlukan kerja sama lintas lembaga dan tidak hanya pemerintah, tetapi juga pihak swasta dalam hal ini platform untuk menangani persoalan tersebut," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Meutya mengatakan spam komentar yang berisi materi promosi judol paling banyak ditemukan pada akun-akun media sosial pemengaruh (influencer) daerah yang memiliki interaksi tinggi.
"Target utama (spam komentar judol) bergeser teman-teman sekalian. Distribusi sasaran menunjukkan bahwa akun yang paling banyak di spam itu menyasar mereka yang memiliki engagement (interaksi) tinggi," kata Meutya.
Dilansir dari Antara, sebanyak 52% komentar judol yang terdeteksi ditemukan pada akun pemengaruh daerah, 31% ditemukan di akun instansi pemerintah, 12% ditemukan di akun media massa, dan 5 % ditemukan di akun tokoh publik serta politisi.
Adapun spam di kolom komentar juga meningkat sebesar 128% pada Juni 2026 dengan TikTok tercatat sebagai platform paling banyak komentar judol (35%), diikuti Facebook 28%, Instagram 22%, YouTube 10%, dan platofm X 5%
#meta #judi-online #facebook #instagram #kecerdasan-buatan #meta-ai