Jangan FOMO! 10 Hal yang Wajib Dibaca Sebelum Membeli Saham IPO
Jangan FOMO! Pelajari 10 kiat penting agar keputusan investasi IPO Anda didasari analisis matang, bukan euforia pasar.
(Kompas.com) 01/07/26 11:08 264795
JAKARTA, KOMPAS.com - Minat investor ritel terhadap saham initial public offering (IPO) terus meningkat karena potensi keuntungan yang besar pada awal perdagangan.
Namun, investor diingatkan tidak membeli saham IPO hanya karena takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO).
Antusiasme investor meningkat seiring rencana beberapa perusahaan yang bakal melantai di pasar modal, salah satunya PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
Investment SpecialistKISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, mengungkapkan ada sepuluh hal penting yang wajib dipahami investor agar keputusan membeli saham IPO didasarkan pada analisis yang matang, bukan sekadar mengikuti euforia pasar.
Jangan hanya tergiur potensi cuan. Faris memastikan investor ritel perlu memperhatikan sepuluh faktor penting sebelum membeli saham IPO agar investasi didasarkan pada analisis, bukan sekadar mengikuti tren.
Membaca prospektus secara mendalam
Prospektus adalah "kitab suci" dalam investasi IPO. Di tahap ini, penjabarannya bukan sekadar membaca ringkasan, melainkan membedah bagian-bagian penting:
Struktur kepemilikan dan lock-up period: Mengecek siapa pembeli saham sebelum IPO (pre-IPO investor) pada harga berapa, dan apakah saham pendiri/investor awal dikunci (lock-up) selama 8 bulan. Jika tidak di-lock, ada risiko mereka langsung dumping (jual masif) saat IPO.
Opini auditor dan catatan atas laporan keuangan: Pastikan laporan keuangan memperoleh opini wajar tanpa pengecualian, serta teliti catatan atas laporan keuangan untuk mengetahui adanya kewajiban tersembunyi, transaksi afiliasi, maupun aset yang dijaminkan.
“Memastikan laporan keuangan diaudit secara wajar tanpa pengecualian, serta membaca "catatan kaki" untuk melihat kewajiban tersembunyi, transaksi afiliasi, atau aset yang dijaminkan,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (30/6/2026).
Melakukan tracking reputasi underwriter
Peran underwriter sangat penting karena berpengaruh terhadap likuiditas saham pada masa awal perdagangan.
Investor dapat melakukan backtesting dengan melihat lima hingga sepuluh IPO terakhir yang ditangani underwriter tersebut.
Dari sana dapat diketahui apakah saham-saham yang dibawanya cenderung mengalami Auto Reject Atas (ARA) beruntun, langsung Auto Reject Bawah (ARB), atau justru bergerak lebih stabil.
Karakteristik underwriter juga perlu menjadi perhatian.
Sekuritas berkelas Tier-1, baik asing maupun BUMN besar, umumnya menangani emiten dengan fundamental kuat.
Namun, harga IPO yang ditawarkan biasanya sudah relatif premium sehingga potensi kenaikan harga pada hari pertama perdagangan menjadi lebih terbatas.
Sebaliknya, sekuritas ritel atau menengah lebih sering membawa emiten berkapitalisasi kecil yang memiliki volatilitas tinggi.
“Sebaliknya, sekuritas ritel/menengah sering membawa saham "gorengan" berkapitalisasi kecil yang sangat volatil,” paparnya.
Alokasi dana IPO
Aspek berikutnya adalah penggunaan dana hasil IPO. Menurut Faris, alokasi dana akan menentukan arah pertumbuhan perusahaan pada masa mendatang.
Apabila sekitar 60-80 persen dana IPO digunakan untuk belanja modal (capital expenditure/capex), seperti pembangunan pabrik baru atau akuisisi, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan tengah mempersiapkan ekspansi untuk meningkatkan pendapatan.
Sebaliknya, apabila sebagian besar dana digunakan sebagai modal kerja, seperti pembelian bahan baku atau kebutuhan operasional harian, langkah tersebut dinilai kurang agresif.
Dalam beberapa kasus, kondisi itu juga dapat mengindikasikan perusahaan membutuhkan tambahan likuiditas untuk menopang operasional.
Mencari growth story atau potensi deleveraging
Investor juga perlu memperhatikan growth story atau narasi pertumbuhan perusahaan, serta potensi deleveraging. Menurut Faris, pasar saham bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap prospek masa depan.
Narasi pertumbuhan yang kuat, misalnya transformasi menuju bisnis energi hijau atau kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), berpotensi menarik minat investor institusi maupun pengelola dana.
Sementara itu, apabila sebagian besar dana IPO digunakan untuk melunasi utang berbunga tinggi, kondisi tersebut juga dapat menjadi katalis positif.
Pelunasan utang berpotensi menurunkan beban bunga secara signifikan sehingga laba bersih perusahaan dapat meningkat pada periode setelah IPO.
“Potensi deleveraging: Jika dana IPO mayoritas dipakai untuk membayar utang (refinancing), ini bisa menjadi cerita positif jika utang tersebut berbunga tinggi. Membayar utang bank akan memangkas beban bunga (interest expense) secara drastis, yang otomatis akan membuat bottom line (laba bersih) perusahaan melonjak tajam pada kuartal-kuartal berikutnya paska-IPO,” kata dia.
PEXELS/IAM HOGIR Ilustrasi saham, pasar saham.Apakah emiten bisa re-rating
Investor juga perlu menilai peluang terjadinya re-rating. Kondisi ini terjadi ketika pasar memberikan valuasi yang lebih tinggi kepada suatu saham dibandingkan sebelumnya.
Status sebagai perusahaan terbuka umumnya meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG), serta memperluas akses terhadap sumber pendanaan dengan biaya yang lebih murah.
Apabila saham ditawarkan pada valuasi Price to Earnings Ratio (PER) sebesar 10 kali, sementara rata-rata industri diperdagangkan pada PER 15 kali, maka terdapat ruang bagi saham tersebut untuk mengalami re-rating menuju valuasi yang lebih sesuai dengan industrinya.
Mengecek prospek industri
Selain melihat kondisi internal perusahaan, investor juga harus mencermati prospek industrinya.
Emiten tidak beroperasi secara terpisah dari kondisi makro ekonomi sehingga kinerjanya sangat dipengaruhi oleh siklus industri.
Perusahaan yang bergerak di sektor yang sedang berkembang, atau memperoleh dukungan regulasi maupun tren global, seperti rantai pasok nikel, kendaraan listrik, maupun infrastruktur telekomunikasi, umumnya memperoleh valuasi lebih tinggi.
Sebaliknya, perusahaan yang berada di industri yang mulai kehilangan prospek akan lebih sulit memperoleh apresiasi pasar meskipun valuasinya terlihat murah.
Memahami model bisnis emiten
Investor perlu menilai hambatan masuk (barrier to entry) dalam industri tersebut.
Industri yang membutuhkan modal besar dan memiliki regulasi ketat umumnya lebih sulit dimasuki pemain baru dibandingkan industri yang mudah terdampak disrupsi.
Pemahaman terhadap model bisnis emiten juga menjadi faktor penting.
Investor perlu mengetahui sumber utama pendapatan perusahaan serta bagaimana perusahaan menghasilkan keuntungan.
Faris menyarankan agar investor memperhatikan kemampuan perusahaan dalam memiliki pricing power, yaitu kemampuan menaikkan harga produk tanpa kehilangan pelanggan.
Investor ritel perlu mengamati siklus konversi kas (cash conversion cycle), yakni seberapa cepat perusahaan mengubah bahan baku menjadi penerimaan kas dari pelanggan.
Pada bisnis B2B, periode penagihan piutang yang panjang dapat memengaruhi arus kas operasional perusahaan.
Mengecek track record jajaran manajemen dan UBO
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menelusuri rekam jejak jajaran manajemen dan ultimate beneficial owner (UBO). Menurut Faris, kualitas sumber daya manusia di balik perusahaan sama pentingnya dengan angka-angka dalam laporan keuangan.
Investor perlu mengetahui siapa pengendali utama perusahaan.
Apabila pengendali atau kelompok usahanya memiliki rekam jejak kurang baik, seperti sering melakukan aksi korporasi yang merugikan pemegang saham minoritas atau pernah mengalami delisting, kondisi tersebut patut menjadi perhatian.
Di sisi lain, komposisi direksi juga perlu dievaluasi untuk memastikan perusahaan dipimpin oleh profesional yang memiliki pengalaman panjang di industri terkait.
Mitigasi potensi risiko bisnis
Investor juga perlu melakukan mitigasi terhadap berbagai risiko bisnis.
Jangan hanya berfokus pada potensi keuntungan, tetapi pahami pula risiko penurunan kinerja yang mungkin terjadi.
Salah satunya adalah risiko konsentrasi pendapatan.
Investor perlu mengecek apakah lebih dari 50 persen pendapatan perusahaan hanya bergantung pada satu atau dua pelanggan utama.
Ketergantungan yang terlalu besar dapat menjadi ancaman apabila pelanggan tersebut menghentikan kerja sama.
Selain itu, investor perlu mencermati risiko nilai tukar dan regulasi.
Misalnya, perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor tetapi menjual produknya dalam mata uang rupiah akan lebih rentan terhadap pelemahan nilai tukar.
Melakukan analisis SWOT dibandingkan peers (kompetitor)
Sebagai langkah akhir, Faris menyarankan investor melakukan analisis SWOT dengan membandingkan emiten IPO dengan perusahaan sejenis yang telah lebih dahulu tercatat di bursa.
Dari sisi strengths, investor perlu mengidentifikasi keunggulan kompetitif atau economic moat yang dimiliki perusahaan, seperti margin laba yang lebih tinggi atau efisiensi aset yang lebih baik dibandingkan pesaing.
Pada aspek weaknesses, investor perlu mengetahui kelemahan perusahaan, misalnya pangsa pasar yang masih kecil atau beban operasional yang lebih tinggi dibandingkan kompetitor.
Selanjutnya, pada aspek opportunities, investor dapat menilai apakah terdapat peluang merebut pangsa pasar setelah perusahaan memperoleh tambahan modal dari IPO.
Sementara itu, dari sisi threats, investor perlu mempertimbangkan apakah kompetitor memiliki sumber daya maupun posisi kas yang jauh lebih kuat sehingga mampu melakukan perang harga yang berpotensi menghambat pertumbuhan emiten baru tersebut.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#kisi-sekuritas #investasi-ipo #saham-ritel #analisis-prospektus