Indeks MSCI World Melemah di Awal Kuartal III, Pasar Menanti Data Ekonomi AS
Pasar saham global melemah tipis di awal kuartal III. Investor menunggu data tenaga kerja AS, negosiasi Iran, dan arah suku bunga The Fed.
(Kompas.com) 01/07/26 15:33 265168
KOMPAS.com – Pasar saham global memulai kuartal III 2026 dengan pergerakan hati-hati.
Investor memilih menunggu sejumlah sentimen penting, mulai dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), negosiasi AS dan Iran, hingga peluang intervensi Jepang setelah yen menyentuh level terlemah dalam 40 tahun.
Indeks saham dunia MSCI World turun 0,1 persen pada awal perdagangan di Eropa. Pelemahan terjadi setelah indeks tersebut membukukan kenaikan sekitar 13 persen sepanjang kuartal II.
Capaian itu menjadi yang terbaik dalam hampir enam tahun, ditopang reli saham teknologi dan produsen semikonduktor.
Pelaku pasar juga terus memantau perkembangan di Timur Tengah. Iran pada Selasa (30/6/2026) menyatakan tidak akan bertemu dengan utusan utama AS yang telah tiba di kawasan tersebut.
Kedua negara masih memiliki perbedaan besar terkait kerangka kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ketidakpastian itu mendorong sebagian investor beralih ke obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik menjelang rilis data Non Farm Payroll (NFP) pada Kamis. Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Perhatian pasar juga tertuju pada pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam forum Bank Sentral Eropa.
Investor menunggu petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS, meski Warsh selama ini dikenal jarang memberikan panduan mengenai kebijakan ke depan.
Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka suku bunga, peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan akhir bulan diperkirakan sekitar 33 persen. Peluang kenaikan pada September berada di kisaran 67 persen hingga 88 persen.
Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 0,2 persen. Meski begitu, indeks tersebut masih bertahan setelah menguat sekitar 10 persen sepanjang kuartal II. Kinerja itu menjadi yang terbaik sejak akhir 2020.
Harga minyak yang turun setelah gencatan senjata Iran dan Israel membantu menopang pasar saham Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, investor masih meragukan apakah kondisi itu cukup untuk menggeser dominasi saham teknologi di AS dan Asia.
"Data PDB kuartal kedua tidak akan bagus. Tetapi jelas prospek pembukaan Selat Hormuz dan harga minyak yang lebih rendah merupakan faktor positif utama bagi Eropa," kata anggota Komite Investasi Carmignac Kevin Thozet.
"Saham-saham Eropa juga telah menjadi pendana perdagangan AI, jadi setiap pelemahan di sana diperkirakan akan menjadi pendorong relatif juga," lanjutnya.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang naik 0,6 persen setelah melonjak 37 persen sepanjang kuartal II. Penguatan didukung tingginya permintaan produk teknologi yang mengangkat optimisme produsen ke level tertinggi dalam delapan tahun. Aktivitas manufaktur Jepang juga mencatat kinerja kuartalan terbaik sejak 2014.
Sebaliknya, indeks utama Korea Selatan turun 2 persen setelah sebelumnya melonjak 68 persen sepanjang kuartal. Reli tersebut didorong euforia saham semikonduktor berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Booming industri chip juga mendorong ekspor Korea Selatan pada Juni menembus 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.795,5 triliun, dengan asumsi kurs Rp 17.955 per dollar AS. Nilai tersebut menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam hampir 50 tahun.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq masing masing turun sekitar 0,4 persen hingga 0,5 persen.
Investor kini menunggu musim laporan keuangan yang dimulai pada pertengahan Juli. Kinerja perusahaan teknologi dinilai menjadi faktor penting untuk mendukung valuasi saham yang sudah berada di level tinggi.
Goldman Sachs mencatat konsensus pasar memperkirakan laba per saham perusahaan tumbuh 22 persen dibandingkan tahun lalu. Sekitar 60 persen kenaikan laba diperkirakan berasal dari perusahaan pemasok infrastruktur AI.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,46 persen. Kenaikan tersebut meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap dan berpotensi membatasi penguatan pasar saham.
Penguatan imbal hasil obligasi juga mendorong dolar AS naik ke level 162,84 yen, tertinggi dalam empat dekade.
Pergerakan itu kembali memunculkan spekulasi intervensi pemerintah Jepang. Sebelumnya, Tokyo menghabiskan hampir 12 triliun yen atau sekitar 73,8 miliar dollar AS, setara Rp 1.325 triliun, untuk menopang mata uangnya pada April dan Mei, meski dampaknya dinilai terbatas.
Euro turun 0,2 persen menjadi 1,1398 dollar AS menjelang rilis data inflasi zona euro. Data tersebut diperkirakan menunjukkan tekanan harga terus mereda sehingga memperkuat ekspektasi Bank Sentral Eropa segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunga.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik tipis 0,1 persen menjadi 73,02 dollar AS atau sekitar Rp 1,31 juta per barel. Harga tersebut masih jauh di bawah puncak yang sempat dicapai pada Mei.
Harga emas turun 0,9 persen menjadi 3.970 dollar AS atau sekitar Rp 71,28 juta per ons, melanjutkan pelemahan yang terjadi sepanjang kuartal II.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang