Dana IPO untuk Lunasi Utang, Strategi Cerdas atau Sinyal Bahaya bagi Investor?

Dana IPO untuk Lunasi Utang, Strategi Cerdas atau Sinyal Bahaya bagi Investor?

IPO untuk bayar utang sering tidak disukai investor. Tapi, di tengah suku bunga naik, ini adalah strategi cerdas untuk perbaiki kinerja.

(Kompas.com) 02/07/26 07:44 265836

JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan dana hasil penawaran dana perdana atau initial public offering (IPO) untuk pembayaran utang memang kerap kali membuat investor kurang tertarik dengan prospek calon emiten.

Padahal, pembayaran utang terutama di tengah tren peningkatan suku bunga BI bisa jadi sebuah strategi bisnis yang dapat dilihat hasilnya di masa depan.

Pengamat pasar modal sekaligus Director PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada mengatakan, secara umum perusahaan melakukan IPO sebagai bentuk pendanaan untuk kebutuhannya.

Sementara itu, salah satu kebutuhan perusahaan ialah untuk melakukan pelunasan utang.

"Bisa jadi dengan IPO saham maka si perusahaan tidak perlu berutang lagi untuk menutupi utang lamanya. Apalagi dana untuk menutupi utang tersebut dari dana IPO, alias menutup utang pakai dana orang lain," kata dia kepada Kompas.com, Kamis (2/7/2026).

Ia menambahkan, rencana perusahaan untuk melunasi utang melalui dana IPO saham memang kerap kali kurang disukai investor.

Pasalnya, aksi korporasi tersebut dianggap tidak memberikan nilai tambah jika dibandingkan penggunaan dana untuk ekspansi, buka usaha, melakukan penyertaan ke bisnis unit maupun usaha yang dianggap menghasilkan.

Namun demikian, dilihat dari sisi positifnya, adanya pelunasan sebagian atau seluruh utang perusahaan tersebut dari dana IPO saham akan membuat utang dari perusahaan tersebut turun atau berkurang.

"Sehingga ada ruang bagi perusahaan untuk memperbaiki kinerjanya," imbuh dia.

Dengan kata lain, manajemen tidak lagi hanya berfokus untuk mengurangi utang, tetapi bisa lebih berfokus pada pengembangan usaha.

Pengusaha juga dapat memperbaiki sejumlah rasio keuangan dengan adanya pelunasan utang tersebut.

Dengan demikian, valuasi perusahaan yang tecermin dari kinerja keuangan bisa lebih baik.

Investor perlu perhatikan struktur utang

Lebih lanjut, terkait dengan restrukturisasi utang, investor nantinya harus mempelajari struktur utang tersebut, tenor utang, maupun mekanisme utang tersebut.

Artinya, jika utang tersebut memiliki utang bertenor jangka pendek dan fixed rate maka perusahaan dapat menentukan dengan pasti besaran dan waktu pembayaran atas utang tersebut.

Sedangkan, ketika utang bersifat floating rate maka perlu ada penyesuaian ketika terjadi perubahan suku bunga pinjaman yang terimbas perubahan suku bunga acuan.

"Jadi, langkah IPO saham ini bisa jadi untuk restrukturisasi utang bisa jadi tidak tergantung rencana manajemen," terang Reza.

Bayar utang di tengah tren suku bunga tinggi

Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Andreas Kristo Saragih mengatakan, di tengah tren suku bunga BI rate yang tinggi, perusahaan memang sebaiknya segera melakukan pembayaran utang.

Musim pencatatan saham perdana yang akan dimulai Juli ini memang diwarnai dengan fenomena penggunaan dana initial public offering (IPO) untuk membayar utang.

"Kalau bisa ada kemampuan untuk bayar utang, karena refinancing pun pasti suku bunganya akan lebih tinggi," kata dia dalam Media Day.

Ia menambahkan, dengan adanya IPO perusahaan mendapatkan dana dengan biaya yang lebih murah.

"Pasti kan lebih murah cost of fund-nya dengan issue new shares," sambung dia.

"Saya rasa positif IPO-nya," timpal dia.

Calon emiten yang akan segera melantai di bursa yakni, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Niramas Utama Tbk.

(JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS), dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI).

Di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), calon emiten yang akan tercatat di bursa kompak untuk memprioritaskan pembayaran utang dari dana hasil IPO.

Sedikit catatan, saat ini suku bunga acuan BI telah berada di level 5,75 persen.

Sejak Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga mencapai 100 basis poin (bps).

Berikut ini adalah prospektus ringkas dari calon emiten yang akan melantai di bursa efek.

PT Nitrasanata Dharma (JECX)

JECX mematok harga IPO saham sebesar Rp 1.250.

Adapun masa penawaran umum berlangsung pada Rabu (1/7/2026) sampai Jumat (3/7/2026).

Perusahaan pengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics ini menawarkan maksimal sekitar 487,98 juta saham atau setara 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO.

Dana dari IPO yang berpotensi dikantongi JECX mencapai Rp 609,97 miliar.

Ini terdiri dari Rp 406,65 miliar dari penerbitan saham baru dan Rp 203,32 saham hasil divestasi.

Dari jumlah tersebut sekitar Rp 49 miliar dana dari hasil penjualan saham baru JECX akan dipakai untuk pembayaran lebih awal sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Kemudian sebesar Rp 100 miliar digunakan untuk pembayaran lebih awal kepada PT Bank HSBC Indonesia atas sebagian pokok pinjaman.

Selanjutnya, senilai Rp 185 miliar akan disalurkan kepada perusahaan anak.

Secara perinci, sebanyak Rp 50 miliar untuk PT Nitra Sanata Bali, Rp 100 miliar disalurkan sebagai pinjaman pada PT Orbita dan Rp 35 miliar akan dijadikan pinjaman kepada PT JEC Candi Sejahtera.

Sementara itu, sisanya akan digunakan untuk modal kerja, yaitu biaya-biaya yang sehubungan dengan kegiatan operasional sehari-hari yang akan digunakan secara bertahap maksimal sampai 31 Desember 2027.

PT Prodia Diagnostic Line (PRDL)

Masa penawaran umum IPO saham PRDL mulai Rabu (1/7/2026) sampai dengan Jumat (3/7/2026).

PRDL menawarkan maksimal 522,90 juta saham di harga IPO Rp 120 per saham.

Jumlah itu setara dengan 30 persen dari modal disetor dan ditempatkan penuh pasca IPO.

Dengan demikian, perusahaan pembuatan dan pengolahan alat kesehatan diagnosis itu berpotensi mengantongi dana segar sebesar Rp 62,74 miliar.

Dana IPO bakal digunakan PRDL untuk beberapa hal.

Pertama, sekitar Rp 33,66 miliar dari dana hasil IPO setelah dikurangi biaya-biaya akan digunakan untuk pelunasan pokok fasilitas kredit kepada BCA dan Bank Panin.

Kemudian sekitar 28,92 persen akan digunakan sebagai belanja modal alias capital expenditure (capex).

Sisanya, 8,51 persen akan digunakan untuk modal kerja atau working capital.

PT Niramas Utama (JELI)

Produsen makanan dan minuman penutup dengan merek INACO ini memulai masa penawaran umum pada Rabu (1/7/2026) sampai dengan Jumat (3/7/2026). JELI menetapkan harga IPO sebesar Rp 900 per saham.

Berdasarkan e-IPO, saham yang ditawarkan JELI maksimal mencapai 266 juta saham.

Dana hasil IPO akan digunakan untuk empat keperluan.

Pertama, sebesar 56,70 persen akan dipakai untuk penyertaan modal kepada perusahaan anak, yaitu PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS) dalam bentuk ekuitas.

Nantinya, PT Niramas Pandaan Sejahtera akan memanfaatkan dana tersebut untuk belanja modal guna.

Aksi korporasi ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly JELI agar mendorong permintaan domestik dan ekspor.

Selanjutnya, sebesar 10,04 persen akan digunakan oleh JELI untuk belanja modal dalam rangka pembelian mesin yang terdiri tetapi tidak terbatas pada pembelian, pelunasan dan instalasi mesin produksi, peralatan dan perlengkapan.

Kemudian, sebesar 10,90 persen akan digunakan oleh JELI untuk pembayaran sebagian pokok utang jangka pendek KMK 2 kepada PT Bank Mandiri Tbk.

Per tanggal 31 Maret 2026 total pokok pinjaman adalah sebesar Rp 25 miliar.

Sedangkan, sisanya sekitar 22,36 persen akan digunakan oleh JELI sebagai modal kerja, antara lain meliputi namun tidak terbatas pada pembelian bahan baku, pembayaran biaya operasional, serta kegiatan pemasaran.

PEXELS/ROMULO QUEIROZ Ilustrasi saham, pasar saham, bursa saham.

PT Rans Entertainment Indonesia (RANS)

Dalam prospektusnya, RANS menawarkan maksimal 2.525.000 saham atau setara dengan 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO.

Pada masa bookbuilding, RANS mematok harga di kisaran Rp 135-170.

Dengan demikian, RANS berpotensi mengantongi dana segar sebesar Rp 429 miliar.

Berdasarkan alokasi penggunaan dana IPO, RANS menganggarkan sekitar 6,98 persen untuk pembayaran lebih awal atas seluruh pokok utang kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Alokasi sekitar 18,64 persen akan digunakan sebagai belanja modal atau capital expenditure atas rencana ekspansi usaha dalam rangka pembangunan wahana bermain dan belajar edukatif dengan nama Cipungland.

Selanjutnya, sebanyak 37,61 persen dari dana IPO bakal digunakan oleh RANS untuk belanja operasional alias operational expenditure dalam rangka penyelenggaraan konser di berbagai kota di Indonesia.

Lebih lanjut, dana IPO sebanyak 8,15 persen akan digunakan oleh RANS untuk membentuk suatu entitas usaha baru bersama dengan partner usaha yaitu PT Global Teknologi dalam rangka pengembangan bisnis teknologi berbasis AI.

Selain itu, sebanyak 19,80 persen akan digunakan untuk ekspansi usaha melalui akuisisi kepemilikan saham pada PT Rans Kosmetika Indonesia atau dengan merek Slavina.

Terakhir, sisa dana IPO akan digunakan oleh RANS untuk melakukan penyetoran modal kepada entitas anak dalam bentuk setoran modal saham.

PT Bach Multi Global (BACH)

Di sektor industri penyedia peralatan pembangkit listrik dan infrastruktur telekomunikasi, BACH menawarkan 615 juta saham atau 15,06 persen modal setelah IPO.

BACH mematok harga IPO di kisaran Rp 400–Rp 500 dengan target dana maksimal Rp 307,5 miliar.

Dalam penawaran alias IPO, BACH menawarkan sebanyak 615 juta saham baru atau setara 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Melalui aksi korporasi tersebut, BACH berpotensi menghimpun dana sebesar Rp 246 miliar hingga Rp 308 miliar.

Dana hasil IPO akan dialokasikan sekitar 70 persen untuk modal kerja bisnis genset, terutama pembelian persediaan.

Selain itu, sementara sekitar 30 persen digunakan untuk pelunasan utang.

Sedikit catatan, BACH terafiliasi dengan grup Djarum melalui PT Global Telekomunikasi Prima yang dikendalikan keluarga Hartono.

PT Esa Medika Mandiri (EMMI)

Calon emiten dengan kode saham EMMI ini menawarkan sebanyak 522.857.000 saham, setara 30 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO.

Dalam masa penawaran awal alias bookbuilding, EMMI mematok harga di kisaran Rp 446–515 per saham.

Dengan demikian, EMMI berpotensi meraup dana segar maksimal Rp 269,27 miliar.

Selain itu, EMMI juga mengalokasikan sebanyak 10 persen dari saham yang ditawarkan dalam IPO atau 52.285.700 saham untuk program alokasi saham kepada karyawan perusahaan atau Employee Stock Allocation (ESA).

Tak hanya itu, rencananya sebesar Rp 50 miliar dari dana IPO akan digunakan untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman EMMI.

Lalu sekitar 11,8 persen akan dipakai untuk pembangunan gedung pabrik Cikupa.

Kemudian maksimal sekitar 68,7 persen dari dana IPO akan digunakan untuk keperluan modal kerja, antara lain pembelian barang terkait proyek serta pembelian bahan baku atau persediaan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#suku-bunga-bi #strategi-bisnis #valuasi-perusahaan #ipo-pembayaran-utang

https://money.kompas.com/read/2026/07/02/074400726/dana-ipo-untuk-lunasi-utang-strategi-cerdas-atau-sinyal-bahaya-bagi-investor-