Harga Perak Melaju Lebih Kencang dari Emas, Simak Untung-Rugi jika Investasi
Harga perak melampaui emas pada 2025 karena pasokan terbatas dan permintaan tinggi akibat ketidakstabilan global, menjadikannya investasi menarik.
(Bisnis.Com) 14/10/25 14:14 2747
Bisnis.com, JAKARTA – Laju bullish harga perak di pasar spot menyalip penguatan emas sepanjang 2025. Sejumlah analis menilai, logam mulia berwarna putih itu memiliki potensi serupa dengan emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, kenaikan tajam harga perak dipengaruhi dua faktor utama, yakni ketersediaan pasokan global yang terbatas dan meningkatnya permintaan akibat ketidakstabilan ekonomi serta politik dunia.
Menurut Sutopo, fenomena short squeeze di pasar London memicu pelaku pasar berebut pasokan fisik perak, sehingga harga melesat. “Lonjakan harga ini bukan semata-mata didorong oleh sentimen makro, melainkan oleh masalah struktural pasokan fisik perak batangan,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Selasa (14/10/2025).
Ia menjelaskan, tingkat sewa perak di London melonjak hingga 34,98%, sedangkan pasokan perak yang beredar turun di bawah 4.000 metrik ton. Kondisi ini menciptakan anomali langka, di mana harga spot perak melonjak tajam sementara harga berjangkanya tertinggal—tanda kelangkaan pasokan fisik yang cukup serius.
Selain faktor pasokan, Sutopo menambahkan, gejolak makroekonomi turut memperkuat tren kenaikan harga perak. Kekhawatiran terhadap defisit fiskal nasional dan potensi perubahan tatanan moneter global mendorong investor mencari aset lindung nilai. Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, ancaman shutdown pemerintah AS, serta perang tarif AS–China juga menjadi pemicu tambahan.
“Proyeksi investasi jangka panjang di logam perak saat ini ditopang oleh fondasi ganda dengan menggabungkan peran historisnya sebagai aset safe haven dan permintaan industri yang terus bertumbuh,” kata Sutopo.
Ia menilai, permintaan industri energi baru dan terbarukan, termasuk sektor fotovoltaik, akan menopang harga perak secara fundamental. Secara historis, harga perak cenderung naik lebih cepat dibanding emas ketika suku bunga global menurun. Namun, dalam kondisi geopolitik yang mereda, harga emas justru turun lebih dalam dibanding perak.
“Bagi investor yang dapat menoleransi volatilitas, perak menawarkan narasi investasi menarik karena perannya sebagai aset lindung nilai moneter dan eksposur terhadap tren pertumbuhan energi hijau. Proyeksi harga perak dapat mencapai US$54,00 hingga akhir tahun,” ujar Sutopo.
Senada, pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan harga perak akan sejalan dengan laju kenaikan emas dunia. “Secara fundamental, penguatan perak tidak jauh berbeda dengan penyebab naiknya harga emas, yaitu ketidakstabilan geopolitik, perang dagang, hingga shutdown pemerintah AS,” tuturnya.
Menurut Ibrahim, harga emas yang sudah tinggi membuat sebagian investor beralih ke perak karena nilainya relatif lebih rendah untuk ukuran yang sama. Ia memperkirakan harga perak dapat menembus US$53,50 per troy ounce di akhir 2025. “Investasi perak masih menjanjikan sampai 2028, saat pemerintahan Trump berakhir,” katanya.
Berdasarkan data Trading Economics pukul 12.00 WIB, harga perak tercatat di level US$53,18 per troy ounce, menguat 80,12% sepanjang tahun berjalan 2025 (year to date/YtD). Sementara harga emas berada di posisi US$4.165,97 per troy ounce atau naik 56,77% YtD.
#harga-perak #investasi-perak #harga-emas #pasar-spot #logam-mulia #instrumen-lindung-nilai #pasokan-perak #permintaan-perak #short-squeeze #harga-spot-perak #gejolak-makroekonomi #aset-safe-haven #ene