Bursa Jepang Tergelincir Akibat Krisis Politik dan Ketegangan Dagang AS–China

Bursa Jepang Tergelincir Akibat Krisis Politik dan Ketegangan Dagang AS–China

Bursa Jepang ditutup melemah jatuh akibat krisis politik domestik dan ketegangan dagang AS-China, dengan indeks Topix turun 2% dan Nikkei 225 anjlok 2,6%.

(Bisnis.Com) 14/10/25 15:12 2836

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa saham Jepang anjlok pada perdagangan Selasa (14/10/2025) setelah lonjakan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China kembali mengguncang pasar global.

Di saat bersamaan, krisis politik dalam negeri Jepang menambah tekanan setelah koalisi pemerintahan resmi runtuh.

Melansir Bloomberg, indeks Topix ditutup melemah 2%, sedangkan indeks Nikkei 225 anjlok 2,6%, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak April. Saham teknologi dan perbankan menjadi kontributor utama pelemahan, menghapus sebagian besar kenaikan yang sempat membawa indeks Jepang ke rekor tertinggi pekan lalu.

Ketidakstabilan politik kini menekan pasar obligasi. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang bertenor panjang naik, dengan surat utang 30 tahun sempat melonjak 5 basis poin akibat kekhawatiran pembengkakan anggaran fiskal. Sebaliknya, yield jangka pendek menurun karena ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) melemah.

Kecemasan pasar meningkat setelah China mengumumkan pembatasan baru terhadap perusahaan pelayaran, sebagai respons atas penyelidikan AS terhadap sektor maritim China.

“Ketegangan AS–China terus memanas, bahkan lebih agresif daripada yang diharapkan pelaku pasar,” ujar Michael Brown, analis senior Pepperstone Group.

Nilai tukar yen sempat berfluktuasi sebelum akhirnya menguat di sesi sore, seiring meningkatnya permintaan aset aman (safe haven). Penguatan yen juga terjadi setelah Menteri Keuangan Katsunobu Kato menyatakan pemerintah memantau secara ketat pergerakan nilai tukar yang dinilai tidak wajar.

Investor kini berhadapan dengan ketidakpastian politik pasca-pecahnya koalisi Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Komeito—aliansi yang telah bertahan 26 tahun—hanya beberapa hari setelah Sanae Takaichi diangkat sebagai ketua baru LDP.

Tak lama setelah peristiwa itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif terhadap China, memicu aksi jual di Wall Street dan menjalar ke pasar Asia.

Saham-saham teknologi berorientasi ekspor menjadi korban utama. Sony Group Corp. dan Hitachi Ltd. masing-masing turun lebih dari 3%, sementara SoftBank Group Corp. ambruk 6,1%. Saham perbankan juga melemah, di tengah pandangan bahwa krisis politik akan menunda langkah BOJ untuk menaikkan suku bunga.

“Krisis politik membuat bank sentral terpaksa menepi,” ujar analis Pelham Smithers, seraya mencatat peluang kenaikan suku bunga bulan ini merosot ke 10% dari 63% di awal Oktober.

Analis Homin Lee dari Lombard Odier Singapore menilai obligasi Jepang berpotensi mendapat dukungan kecil dari arus flight to safety akibat tensi AS–China, namun tetap sulit menguat di tengah ketidakpastian fiskal yang tinggi. Sementara itu, lelang obligasi 20 tahun yang digelar Rabu akan menjadi tolok ukur minat investor setelah hasil penjualan sebelumnya cenderung lemah.

Vishnu Varathan, kepala riset makro Mizuho Securities Asia, memperkirakan tekanan jual masih akan menekan pasar obligasi.

“Kekhawatiran nilai utang yang tergerus pasti mendorong yield naik, terutama pada tenor panjang. Risiko politik dan ketidakpastian fiskal mulai merembes ke pasar,” tulisnya.

Gejolak di pasar Jepang diperkirakan juga akan berimbas pada pasar obligasi AS dan Eropa, yang dalam beberapa bulan terakhir terpengaruh oleh kenaikan yield Jepang.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar tetap optimistis. Neil Newman, kepala strategi Astris Advisory Japan, menilai koreksi kali ini tidak akan menimbulkan guncangan besar seperti Agustus tahun lalu.

“Aturannya sederhana: beli saat pasar turun, jual saat naik, dan jangan panik,” katanya.

Richard Kaye dari Comgest Asset Management juga melihat gejolak saat ini hanya bersifat sementara.

“Menjelang akhir 2025, saya percaya realisme akan kembali. Friksi dagang kemungkinan mereda, dan kekhawatiran atas defisit fiskal pun berkurang. Saya perkirakan saham-saham domestik dan berkapitalisasi kecil akan memimpin pemulihan pasar,” ujarnya.

#bursa-jepang #krisis-politik-jepang #ketegangan-dagang #perdagangan-as-china #indeks-topix #indeks-nikkei-225 #saham-teknologi-jepang #obligasi-pemerintah-jepang #yen-menguat #tarif-china #saham-sony

https://market.bisnis.com/read/20251014/7/1920184/bursa-jepang-tergelincir-akibat-krisis-politik-dan-ketegangan-dagang-as-china