Rapor Kinerja Grup Djarum Q3: BBCA dan TOWR Kinclong, BELI & RANC Masih Tertekan
Emiten Djarum Grup menunjukkan hasil yang bervariasi sepanjang kuartal III/2025. BBCA & TOWR kompak bukukan laba, sementara BELI dan RANC masih merugi.
(Bisnis.Com) 06/11/25 14:42 29794
Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja keuangan emiten terafiliasi konglomerasi Djarum Grup milik Hartono bersaudara dalam periode sembilan bulan pertama 2025 menunjukkan hasil yang bervariasi.
Sebanyak empat dari enam perusahaan grup membukukan laba bersih, yang dipimpin BBCA hingga HEAL. Sedangkan, emiten teknologi dan peritel, BELI dan RANC kompak menderita kerugian.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) membukukan laba bersih Rp43,4 triliun dalam Januari-September 2025. Angka ini tumbuh 5,7% secara year on year (YoY) dibanding laba bersih Januari-September 2024 Rp41,1 triliun.
Dari sisi top line, Bank BCA meraup pendapatan bunga dan syariah bersih senilai Rp63,95 triliun, meningkat dibanding Rp60,93 triliun dalam periode yang sama 2024.
Sementara itu, emiten menara PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) membukukan pertumbuhan laba bersih 4,41% YoY menjadi Rp2,55 triliun. Pertumbuhan ini selaras dengan kinerja top line yang membaik, di mana pendapatan perseroan per kuartal III/2025 tumbuh 2,52% YoY menjadi Rp9,68 triliun.
Kemudian, emiten penyedia infrastruktur telekomunikasi PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (SUPR) juga membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 26% YoY dari Rp743,17 miliar menjadi Rp936,44 miliar.
Adapun, pendapatan SUPR dalam periode ini sebenarnya turun tipis 0,2% YoY dari Rp1,37 triliun menjadi Rp1,36 triliun. Namun, perseroan secara signifikan mampu menekan beban umum dan administrasi dari Rp65,62 miliar menjadi hanya Rp39,76 miliar. Alhasil, laba usaha perseroan mampu naik dari Rp944,66 miliar menjadi Rp955,91 miliar.
Seluruh pendapatan yang diraup perseroan merupakan pendapatan sewa menara telekomunikasi dari pihak ketiga. Pelanggan dengan pembelian terbesar adalah PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) dengan nilai Rp630,94 miliar.
Sementara itu, emiten rumah sakit terafiliasi dengan Grup Djarum, PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) tetap membukukan laba bersih meski nilainya susut. Hingga akhir September 2025, laba bersih HEAL susut 23,95% YoY dari Rp468,16 miliar menjadi Rp356,01 miliar.
Padahal, pendapatan HEAL dalam periode tersebut tumbuh 5,20% YoY dari Rp5,03 triliun menjadi Rp5,28 triliun. Namun, beban pokok pendapatan yang dibukukan perseroan naik 11,71% YoY menjadi Rp3,51 triliun, membuat laba bruto HEAL susut 5,70% YoY menjadi Rp1,77 triliun.
Berbeda dengan perusahaan Djarum Grup lainnya yang sukses membukukan laba, emiten teknologi PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli menunjukkan hal sebaliknya.
Blibli sepanjang Januari-September 2025 membukukan rugi bersih Rp1,84 triliun. Meski begitu, rugi ini menyusut 1,61% YoY dibanding rugi bersih periode yang sama 2024 senilai Rp1,87 triliun.
Padahal, dari sisi top line Blibli membukukan pertumbuhan pendapatan neto 25,62% YoY dari Rp12,13 triliun menjadi Rp15,23 triliun. Namun, perseroan turut menanggung beban penjualan senilai Rp1,53 triliun, beban pokok pendapatan Rp12,56 triliun, hingga beban umum dan administrasi Rp2,84 triliun, membuat Blibli membukukan rugi usaha senilai Rp1,68 triliun.
Nasib serupa juga dialami oleh emiten Grup Djarum di sektor ritel, PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC). Bahkan, torehan rugi bersih yang dibukukan perusahaan hingga akhir September 2025 berbalik dari kinerja laba bersih pada periode yang sama tahun lalu.
RANC membukukan rugi bersih sebesar Rp40,25 miliar, capaian ini berbalik dari laba bersih Rp45,80 miliar pada periode sembilan bulan pertama 2024. Sebenarnya, RANC membukukan pertumbuhan pendapatan neto 0,83% YoY menjadi Rp2,18 triliun.
Namun, di saat yang sama perseroan menanggung beban pokok pendapatan sebesar Rp1,65 triliun, beban penjualan Rp402,86 miliar, sampai beban umum dan administrasi mencapai Rp184,10 miliar. Dari sini, perseroan sudah membukukan rugi usaha senilai Rp19,34 miliar.
Selain itu, perbedaan signifikan antara kinerja per kuartal III/2025 dengan kuartal III/2024 adalah di periode tahun ini RANC tidak mencatatkan realisasi laba dari investasi, yang periode tahun lalu membukukan Rp110,71 miliar. Hasilnya, laba periode berjalan Januari-September 2024 mencapai Rp45,26 miliar, dibanding rugi periode berjalan Rp40,77 miliar di periode tahun ini.
Sebagai informasi, posisi Michael Hartono sebagai orang terkaya di Indonesia awal tahun ini lengser ke posisi kelima. Menurut data Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Michael Hartono di posisi awal 2025 mencapai US$1,3 miliar atau sekitar Rp21,19 triliun.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#bbca-kinerja #towr-pertumbuhan #beli-rugi #ranc-kerugian #djarum-grup #bbca-laba #towr-laba #beli-blibli #ranc-ritel #bbca-pendapatan #towr-pendapatan #heal-laba #supr-pertumbuhan #michael-hartono #in