3 Ekonom Peraih Nobel 2025 Peringatkan Bahaya Proteksionisme

3 Ekonom Peraih Nobel 2025 Peringatkan Bahaya Proteksionisme

Tiga ekonom peraih Nobel Ekonomi 2025 menyoroti bahaya stagnasi dan proteksionisme yang bisa menghambat pertumbuhan dan inovasi global.

(Kompas.com) 14/10/25 20:09 3291

KOMPAS.com-Joel Mokyr, Philippe Aghion, dan Peter Howitt, menerima Hadiah Nobel Ekonomi 2025.

Penelitian mereka menyoroti ancaman stagnasi ekonomi dan bahaya kebijakan proteksionis terhadap pertumbuhan jangka panjang.

Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menyebut riset mereka memberi pemahaman baru tentang hubungan antara inovasi, “destruksi kreatif”, dan kemajuan ekonomi.

“Sepanjang sejarah, stagnasi ekonomi justru menjadi hal yang umum. Karya mereka mengingatkan kita untuk waspada terhadap ancaman yang bisa menghambat pertumbuhan berkelanjutan,” tulis Akademi dalam pengumuman Nobel Ekonomi.

Ketiganya berbagi hadiah senilai 11 juta krona Swedia atau sekitar 1,2 juta dolar Amerika Serikat, setara Rp 19,6 miliar.

Mokyr Peringatkan Kemunduran Ilmu Pengetahuan

Joel Mokyr, profesor di Universitas Northwestern, Amerika Serikat, menerima setengah dari total hadiah.

Ia mengaku terkejut ketika menerima kabar penghargaan karena sedang mengikuti berita kembalinya sandera Israel dari Gaza.

“Saya sama sekali lupa tentang Hadiah Nobel,” ujarnya kepada Reuters.

Mokyr meneliti akar pertumbuhan ekonomi dari sisi sejarah dan budaya pengetahuan.

Ia berupaya menjawab pertanyaan mendasar: “Mengapa kita jauh lebih kaya dan hidup jauh lebih baik daripada buyut kita?”

Ia kemudian menyoroti kemunduran dalam kebijakan riset ilmiah di negaranya.

“Serangan terhadap pendidikan tinggi dan penelitian ilmiah mungkin merupakan kesalahan terbesar dalam sejarah, atau setidaknya sejak Dinasti Ming di China melarang penelitian ilmiah,” kata Mokyr.

“Langkah seperti ini merusak diri sendiri dan sepenuhnya bermotif politik,” sambungnya.

Pemerintahan Donald Trump menyatakan Amerika Serikat tetap menjadi penyandang dana terbesar bagi penelitian ilmiah.

Pemerintah menyebut kebijakan efisiensi ditujukan untuk mengurangi pemborosan dan memperkuat inovasi.

Aghion: Deglobalisasi Mengancam Pertumbuhan Dunia

Philippe Aghion, profesor di College de France, INSEAD, dan London School of Economics, menerima separuh sisa hadiah bersama Peter Howitt dari Brown University, Amerika Serikat.

Aghion menilai momen penghargaan ini datang di tengah gejolak global.

Ia melihat dunia menghadapi dua arah berbeda: optimisme terhadap kecerdasan buatan, dan kekhawatiran terhadap gelombang deglobalisasi serta hambatan perdagangan.

“Segala sesuatu yang membatasi keterbukaan adalah penghambat pertumbuhan,” kata Aghion.

“Semakin besar pasar, semakin luas peluang bertukar ide, mentransfer teknologi, dan meningkatkan persaingan sehat,” sambungnya.

Ia menilai Eropa perlu berani mengembangkan kebijakan industri strategis tanpa takut melanggar prinsip kompetisi.

“Kita membutuhkannya di sektor pertahanan, iklim, kecerdasan buatan, dan bioteknologi,” ujarnya.

Howitt: Perang Tarif Hambat Inovasi

Peter Howitt menilai kebijakan proteksionis Amerika Serikat berisiko memundurkan ekonomi dunia.

“Kebijakan ini mengurangi efek skala, yaitu manfaat dari pasar yang besar. Perang tarif hanya memperkecil ukuran pasar bagi semua,” ujarnya.

Ia menilai kebijakan membawa kembali industri manufaktur ke Amerika tidak rasional secara ekonomi.

“Kita ahli mendesain sepatu lari, tapi lebih baik membiarkan orang lain yang memproduksinya,” kata Howitt.

Tradisi Panjang Nobel Ekonomi

Hadiah Nobel Ekonomi pertama kali diberikan pada 1969 dan menjadi kategori terakhir yang diumumkan setiap tahun setelah kedokteran, fisika, kimia, perdamaian, dan sastra.

Meski sering diperdebatkan di luar dunia akademik, penghargaan ini tetap menjadi tonggak penting bagi perkembangan teori ekonomi modern.

Para penerima sebelumnya termasuk Ben Bernanke, Paul Krugman, dan Milton Friedman.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

#nobel #nobel-ekonomi

https://money.kompas.com/read/2025/10/14/200930626/3-ekonom-peraih-nobel-2025-peringatkan-bahaya-proteksionisme