Mutiara Gitbay Angkat Keunikan Perhiasan Lombok ke Pasar Nasional & Global
Mutiara Gitbay, didirikan oleh Ni Made Pipin Fitria Agustini di Lombok, memasarkan perhiasan emas dan mutiara secara daring. Fokusnya pada produk handmade dan kolaborasi UKM untuk pasar nasional dan g
(Bisnis.Com) 27/11/25 13:10 52311
Bisnis.com, JAKARTA - Ni Made Pipin Fitria Agustini tidak pernah membayangkan bahwa kepindahannya dari Semarang ke Lombok sekitar sebelas tahun lalu itu justru membuka jalan baru dalam hidupnya. Di pulau yang terkenal dengan pantai-pantainya yang masih eksotis itu, dia memantapkan diri untuk menjadi seorang wirausahawan.
Setibanya di Lombok, Pipin mulai mengamati potensi apa yang ada daerah barunya. Kala itu, katanya, dia ingin menjual produk yang benar-benar dari Lombok, sehingga punya karakter kuat dan bisa memiliki nilai tambah.
“Lombok memiliki salah satu sumber daya unggulan berupa mutiara. Saat itu saya melihat sebagian besar toko mutiara masih beroperasi secara offline. Saya melihat peluang di situ dan memutuskan fokus di penjualan daring, bukan membuka toko fisik seperti pelaku usaha lainnya,” ujarnya saat ditemui dalam acara Pertamina SMEXPO 2025 di BXC Mall 2 Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (25/11/2025).
Dirinya pun mendirikan Mutiara Gitbay. Pada awal usaha berdiri, Pipin menyebut produk yang ditawarkan masih beragam, dari rhodium, perak, hingga emas. Namun, dalam enam sampai delapan tahun terakhir, dia memutuskan untuk memusatkan arah usahanya pada perhiasan berbahan emas.
Menurutnya, sekitar 80 persen koleksi yang diproduksi kini berbahan emas, sementara produk non-emas hanya dikeluarkan untuk kebutuhan khusus, seperti pameran.
Dia menuturkan emas memang selalu jadi perhiasan yang tak ada matinya. Sebab, selain dipakai sebagai aksesori, pelanggannya kerap kali memanfaatkan emas sebagai sarana investasi maupun dana darurat. Pipin juga menjalankan program arisan emas yang ikut menopang penjualan.
"Keunikannya di sini adalah kami selalu membuat produk handmade. Untuk produksi perhiasan emas, kapasitas per bulannya berada di kisaran 50 hingga 75 pieces karena memang hanya ditangani oleh tiga orang pengrajin. Mencari tukang emas tidak mudah, karena pekerjaan ini membutuhkan tingkat kejujuran yang tinggi," imbuhnya.
Sementara itu, lini produk non-emas seperti rangkaian kalung dapat diproduksi lebih banyak. Dalam sebulan, jumlahnya bisa mencapai 100 hingga 200 pieces, mengingat proses pengerjaannya lebih sederhana dibanding perhiasan emas.
Menurut Pipin, tantangan terbesar dalam usaha perhiasan lebih banyak datang dari faktor eksternal. Salah satunya adalah fluktuasi harga emas, mengingat seluruh bahan baku inti usahanya menggunakan logam mulia tersebut.
Dia juga menghadapi tantangan dalam ketersediaan mutiara. Pada kondisi cuaca yang tidak stabil, ini dapat menurunkan kualitas plankton, yang mana merupakan sumber makanan kerang. Jika menurun tajam, hal itu dapat menyebabkan banyak kerang mati dan menurunkan hasil panen mutiara.
Berbagai siasat pun dilakukan. Misalnya, jika sebelumnya banyak menggunakan 22 karat, dia akan mengarahkan pelanggan untuk menilik ke 16 karat yang tetap bernilai investasi, tetapi lebih terjangkau. Strategi ini menjadi salah satu cara menjaga minat beli konsumen.
Untuk mutiara, situasinya lebih rumit. Namun, sebagai antisipasi, saat hasil panen melimpah, dia memilih membeli stok dalam jumlah lebih banyak sebagai persiapan di periode susah panen.
Menurut Pipin, salah satu hal penting bagi pelaku UMKM perhiasan ialah akses pasar. Dia pun bersyukur terpilih sebagai UMKM binaan Pertamina. Sebab, sejak bergabung, dia berkesempatan menjajaki pasar yang lebih luas, bahkan bisa mengenalkan produknya hingga di empat negara.
Hal itu, katanya, belum ditambah dengan mendapatkan akses pembiayaan, akses ke pameran nasional hingga empat hingga lima kali setahun, sampai berbagai pelatihan.
Ke depan, Pipin ingin mengembangkan Mutiara Gitbay dengan strategi kolaborasi dengan UKM dari berbagai daerah. Saat ini, dia sudah bekerja sama dengan pelaku usaha dari NTB untuk kemasan dan pengerjaan perak.
Dia berharap dapat bermitra dengan pengrajin lain, misalnya pengrajin batik dari Jogja untuk menggabungkan liontin mutiara dan kalung berbahan batik. Dia berharap rencana ini bisa terwujud pada 2026.
#mutiara-lombok #perhiasan-emas #bisnis-perhiasan #pasar-nasional #pasar-global #produk-handmade #arisan-emas #investasi-emas #fluktuasi-harga-emas #ketersediaan-mutiara #akses-pasar-umkm #kerajinan-pe