Garuda Indonesia (GIAA) Finalisasi Inbreng Aset GMF dan Angkasa Pura
Garuda Indonesia finalisasi inbreng aset untuk pemulihan ekuitas, langkah strategis ini diharapkan meningkatkan ketahanan likuiditas dan daya saing.
(Kompas.com) 28/11/25 12:20 53628
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tengah melakukan finalisasi rencana inbreng aset GMF AeroAsia dan PT Angkasa Pura Indonesia (API), langkah strategis yang diyakini akan memperkuat fondasi bisnis GMF sekaligus meningkatkan ketahanan likuiditas Garuda Indonesia Group.
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, menjelaskan bahwa inbreng aset menjadi komponen utama dalam roadmap pemulihan ekuitas perseroan.
Melalui skema ini, GMF AeroAsia akan menerima aset non-tunai berupa lahan seluas 972.123 meter persegi senilai Rp 5,66 triliun dari API.
Aksi korporasi ini sejalan dengan rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) sebanyak 124,27 miliar saham Seri B.
Thomas menyebut, inbreng aset diproyeksikan dapat mengerek fundamental GMF secara signifikan, membalikkan posisi ekuitas dari minus 248,99 juta dollar AS menjadi positif 102,87 juta dollar AS.
“Progress roadmap bisnis yang semakin solid serta percepatan perbaikan posisi ekuitas positif kami harapkan dapat terwujud dalam waktu tidak lama,” ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (28/11/2025).
Ia menilai pengelolaan indikator kinerja yang prudent dan holistik akan membawa Garuda Indonesia memasuki fase ketahanan finansial yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Thomas juga menyampaikan bahwa proses rights issue di GMF telah diselesaikan pada akhir Oktober 2025, bagian dari rangkaian aksi korporasi di tingkat anak usaha.
Sejalan dengan roadmap aksi korporasi 2026, Garuda tidak menutup kemungkinan melakukan aksi lanjutan untuk memperkuat struktur bisnis grup, meski opsi tersebut masih dalam pembahasan dengan para pemangku kepentingan.
Emiten penerbangan juga menilai 2025 sebagai momentum penting untuk mempercepat pemulihan ekuitas dan meningkatkan daya saing.
Di sisi lain, dukungan penyertaan modal pemerintah melalui Badan Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) turut mempercepat proses pemulihan.
Dari total Rp 23,67 triliun, Garuda Indonesia menerima Rp 8,7 triliun untuk kebutuhan modal kerja dan pemeliharaan armada, sementara Citilink memperoleh Rp 14,9 triliun untuk modal kerja dan penyelesaian kewajiban pembelian avtur periode 2019-2021.
Hingga November, dukungan shareholder loan (SHL) memungkinkan Garuda menjaga serviceability atas 13 pesawat, sementara Citilink telah mereaktivasi 9 pesawat sejak September.
Dengan demikian, Citilink diperkirakan mengoperasikan 36 pesawat siap operasi hingga akhir 2025.
Per Oktober 2025, Garuda mengoperasikan 78 armada dengan 58 pesawat serviceable, sedangkan Citilink mengoperasikan 64 armada dengan 32 pesawat serviceable.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengatakan bahwa peningkatan kapasitas armada menjadi bukti kuat bahwa transformasi bisnis perseroan berjalan sesuai rencana. “Dengan terjaganya serviceability pesawat di Garuda Indonesia dan Citilink, kami melihat momentum pemulihan yang semakin solid,” ucap Glenny.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang#gmf-aeroasia #garuda-indonesia #inbreng-aset #pemulihan-ekuitas