Saham Konglomerat Jadi Penopang IHSG saat Dana Asing Kabur Rp53,96 Triliun

Saham Konglomerat Jadi Penopang IHSG saat Dana Asing Kabur Rp53,96 Triliun

Dana asing keluar Rp53,96 triliun dari pasar saham RI sepanjang 2025 meski IHSG naik 13,72% ytd, dipicu kekhawatiran atas risiko fiskal dan pelemahan rupiah.

(Bisnis.Com) 16/10/25 14:30 5571

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham Indonesia kembali dibayangi derasnya arus keluar dana asing, meski indeks harga saham gabungan (IHSG) masih mampu bertahan di zona hijau. Sepanjang tahun berjalan, investor asing tercatat menarik dana hingga puluhan triliun rupiah dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data BEI, pasar saham Indonesia mencatatkan nilai jual bersih atau net sell asing sebesar Rp1,39 triliun pada perdagangan kemarin, Rabu (15/10/2025). Pasar saham Indonesia juga mencatatkan net sell asing sebesar Rp53,96 triliun sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025.

Sejumlah saham mencatatkan net sell asing tinggi di pasar saham. Saham bank jumbo PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya mencatatkan net sell asing sebesar Rp32,16 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) mencatatkan net sell asing sebesar Rp17,73 triliun.

Meski begitu, IHSG masih kokoh di zona hijau, menguat 13,72% ytd ke level 8.051,17 pada perdagangan kemarin.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan larinya dana asing didorong oleh sejumlah faktor, terutama kekhawatiran akan kondisi ekonomi domestik.

"Kekhawatiran dari asing belum berakhir, terutama terkait kekhawatiran fiskal yang prudent. Ketika mereka [asing] masuk juga akan melihat kondisi rupiah. Kalau risiko fiskal gede, rupiah terdepresiasi, mereka akan mikir-mikir," ujar Rully dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas Indonesia pada Kamis (16/10/2025).

Alhasil, pasar saham Indonesia saat ini ditopang oleh investor ritel domestik. Sementara, IHSG masih kokoh di zona hijau karena didorong oleh saham-saham multibagger besutan konglomerat. Sejumlah saham seperti bank jumbo yang biasa menjadi penopang indeks pun tidak terlalu berkinerja baik pada tahun ini.

"Saham-saham penggerak valuasinya sudah mahal, dari saham-saham konglomerat Prajogo Pangestu, Sinarmas, hingga Salim. PE [price to earning] ratio sudah ratusan kali. Sementara fundamental stagnan," ujar Rully.

Sebelumnya, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan jika arus dana asing terus keluar dari pasar saham Indonesia, tentu dampaknya akan cukup signifikan. Saham-saham big caps, terutama yang memiliki porsi kepemilikan asing yang besar, akan menjadi yang paling tertekan.

"Secara keseluruhan, indeks IHSG juga bisa turun lebih dalam, karena sentimen negatif yang menyebar luas akan mendorong investor untuk mengamankan dana mereka ke instrumen yang lebih defensif,” kata Ekky.

Selain tekanan pada pasar saham, outflow asing juga akan menekan nilai tukar rupiah, dan dalam kondisi ekstrem dapat menguras cadangan devisa Bank Indonesia karena intervensi untuk menjaga stabilitas.

"Namun, penting dicatat bahwa dampak tersebut akan menjadi lebih besar jika tren outflow ini berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi sentimen positif baru,” ujar Ekky.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#ihsg-kokoh #dana-asing-keluar #net-sell-asing #pasar-saham-indonesia #investor-asing #bursa-efek-indonesia #saham-bank-jumbo #bank-central-asia #bank-mandiri #kondisi-ekonomi-domestik #kekhawatiran-fi

https://market.bisnis.com/read/20251016/7/1920886/saham-konglomerat-jadi-penopang-ihsg-saat-dana-asing-kabur-rp5396-triliun