Target Harga Tertinggi Saham Summarecon (SMRA) Rp800 Ditopang Fundamental Solid

Target Harga Tertinggi Saham Summarecon (SMRA) Rp800 Ditopang Fundamental Solid

Analis merekomendasikan beli saham SMRA dengan target harga Rp800, didukung fundamental solid meski laba bersih turun akibat beban keuangan tinggi.

(Bisnis.Com) 01/12/25 14:35 56554

Bisnis.com, JAKARTA — Analis memberikan rekomendasi beli untuk saham properti PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) dengan target harga paling tinggi sebesar Rp800 per saham. Adapun, kinerja solid perseroan walaupun ada anomali pada kuartal III/2025 disebut menjadi penopang.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan kinerja SMRA pada kuartal III/2025 memperlihatkan anomali akuntansi karena meski laba bersih dan pendapatan susut, fundamental operasional tetap solid.

Menurutnya, disparitas tersebut disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, penerapan PSAK 72 menunda pengakuan pendapatan dari penjualan properti hingga serah terima unit. Kedua, laba bersih tergerus oleh beban non-operasional berupa biaya keuangan yang membengkak mencapai Rp878,5 miliar.

Kendati demikian, prospek SMRA hingga 2026 diperkirakan membaik lewat fenomena catch-up laba dan didorong konversi unbilled revenue atau backlog Rp3,8 Triliun yang diakui sebagai pendapatan properti saat unit serah terima.

Sentimen positif terkuat adalah perpanjangan insentif PPN DTP [Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah] properti hingga 2027, yang akan menstimulasi penjualan dan mempercepat proses handover unit.

“Sementara itu, sentimen negatif utama adalah risiko biaya keuangan yang tinggi akibat suku bunga persisten, yang dapat terus menekan laba bersih meskipun pendapatan melonjak,” ucapnya kepada Bisnis, Minggu (30/11/2025).

Abida menjelaskan bahwa valuasi saham SMRA yang saat ini diperdagangkan pada rasio price-to-book value (P/B) 0,55 kali dinilai terlalu rendah dan di bawah nilai wajar seharusnya. Valuasi tersebut juga mencerminkan diskon substansial sebesar 50% hingga 60% terhadap Revalued Net Asset Value (RNAV).

“Valuasi yang tertekan ini merupakan cerminan dari laba bersih kuartal III/2025 yang terdistorsi oleh faktor akuntansi dan beban utang, padahal kinerja marketingsales menunjukkan fundamental yang kuat,” pungkasnya.

BRI Danareksa memberikan rekomendasi beli SMRA dengan target harga Rp800 per saham. Prospek ini tesis bahwa 2026 akan menjadi tahun normalisasi laba, ditopang konversi backlog pendapatan dan perpanjangan insentif PPN DTP.

Research Analyst MNC Sekuritas Muhamad Rudy Setiawan menuturkan bahwa katalis sektor properti akan dipengaruhi oleh pasokan rumah tapak yang diperkirakan tetap stabil pada 2026. Pandangan ini dipengaruhi oleh keputusan pemerintah yang menunda kenaikan PPN 12% dan memperpanjang insentif PPN DTP 100% untuk rumah di bawah Rp5 miliar per unit hingga Desember 2027.

“Para pengembang diperkirakan fokus pada segmen menengah dan menengah-bawah, sejalan peningkatan daya beli, permintaan kuat dari pembeli rumah pertama,” ujarnya dalam riset yang dirilis pada awal November 2025.

MNC Sekuritas lantas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor properti. SMRA, yang masuk dalam pilihan utama, disematkan rekomendasi beli dengan target harga diestimasikan mencapai Rp590 per saham. Saat ini, saham SMRA berada di level Rp385 atau mencerminkan penurunan 21,22% YtD.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#saham-smra #summarecon-agung #target-harga-saham #fundamental-solid #rekomendasi-beli-saham #kinerja-smra #laba-bersih-smra #pendapatan-properti #insentif-ppn-dtp #sektor-properti #valuasi-saham-smra #n-a

https://market.bisnis.com/read/20251201/189/1933172/target-harga-tertinggi-saham-summarecon-smra-rp800-ditopang-fundamental-solid