PBB Ramal Ekonomi Global Tetap Lesu pada 2026

PBB Ramal Ekonomi Global Tetap Lesu pada 2026

PBB memproyeksikan ekonomi global tetap lesu hingga 2026 akibat ketidakpastian perdagangan dan tensi geopolitik, dengan pertumbuhan stagnan di 2,6%.

(Bisnis.Com) 03/12/25 10:57 59030

Bisnis.com, JAKARTA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan perekonomian global tetap lesu pada 2026 akibat ketidakpastian perdagangan dan tensi geopolitik yang menahan investasi serta menekan fiskal banyak negara.

Hal tersebut tertuang dalam laporan terbaru Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) yang dirilis di Jenewa pada Selasa (3/12/2025).

Lembaga PBB itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melemah menjadi 2,6% pada 2025 dan tetap berada pada level yang sama pada 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan 2024 sebesar 2,9%, serta 0,4% di bawah rata-rata pra-pandemi.

Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan mengatakan perekonomian dan perdagangan global memang menunjukkan ketahanan sepanjang 2024 dan 2025, namun kondisi itu dinilai belum cukup menopang akselerasi pertumbuhan dalam jangka panjang.

“Ekonomi dan perdagangan global terbukti cukup tangguh pada 2024 dan 2025. Namun, fondasi ketahanan itu tidak akan berkelanjutan jika ketidakpastian tidak ditekan dan iklim investasi tidak kembali dapat diprediksi,” ujar Grynspan dilansir dari Bloomberg.

Laporan setebal hampir 200 halaman tersebut menyoroti sejumlah risiko signifikan bagi ekonomi dan pasar keuangan dunia, di luar arah kebijakan tarif Amerika Serikat yang terus berubah di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Negara-negara berkembang dinilai masih rentan terhadap volatilitas nilai tukar serta tekanan tarif tinggi atas ekspor ke pasar AS.

UNCTAD juga mencatat adanya kesenjangan yang mengkhawatirkan antara negara-negara ekonomi Global South—yang menyumbang lebih dari 40% PDB global, sekitar 50% arus investasi asing langsung, dan sekitar 45% perdagangan barang dunia—namun tetap berada di pinggiran pasar saham dan obligasi global yang menjadi sumber pendanaan pembangunan jangka panjang.

Meskipun sekitar 72% perdagangan global masih diatur melalui prinsip most-favored nation Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), sistem pembiayaan yang menopang 90% aktivitas perdagangan internasional justru jauh lebih terkonsentrasi.

UNCTAD menilai sistem keuangan global masih sangat bergantung pada praktik pasar lama, arbitrase regulasi, serta pelimpahan fungsi tertentu kepada otoritas swasta.

“Dalam jangka pendek, interdependensi ini dapat membantu mencegah fragmentasi dan memberikan sinyal bagi kalibrasi kebijakan, seperti yang terjadi pada April 2025,” tulis laporan tersebut, merujuk pada gejolak pasar ketika Trump mengumumkan tarif resiprokal paling agresif pada 2 April, serta reli pasar setelah kebijakan tarif tersebut dilunakkan, terutama terhadap China.

Namun dalam jangka panjang, UNCTAD menilai ketimpangan antara sistem perdagangan global berbasis aturan (rule-based) dan sistem keuangan global yang terpusat mencerminkan ketidakseimbangan struktural yang lebih dalam dalam perekonomian dunia.

Salah satu sorotan utama laporan tersebut adalah dominasi dolar Amerika Serikat dalam sistem moneter global. Meski pangsa dolar dalam cadangan devisa internasional terus menurun, hingga kini belum muncul mata uang yang dinilai mampu menjadi alternatif yang sepadan.

UNCTAD menyebut, kendati mengalami penurunan signifikan, dolar AS masih menguasai porsi cadangan devisa bank sentral global jauh lebih besar dibandingkan mata uang lainnya.

“Meski tren diversifikasi dari dolar dalam cadangan devisa resmi semakin jelas, belum terlihat indikasi munculnya mata uang lain yang berpotensi menjadi pengganti,” jelasnya.

#ekonomi-global #pbb-proyeksi #pertumbuhan-ekonomi #ketidakpastian-perdagangan #tensi-geopolitik #investasi-global #unctad-laporan #ekonomi-2026 #perdagangan-internasional #volatilitas-nilai-tukar #glo

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251203/620/1933759/pbb-ramal-ekonomi-global-tetap-lesu-pada-2026