4 Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda dan Tren Kecantikan

4 Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda dan Tren Kecantikan

Industri kosmetik Indonesia berkembang pesat selama empat dekade, dengan munculnya brand lokal dan global. Paragon dan Martha Tilaar menjadi pelopor kosmetik halal dan berbasis budaya lokal.

(Bisnis.Com) 25/11/25 11:45 60121

Bisnis.com, JAKARTA - Industri kosmetik terus berkembang dalam empat dekade terakhir, dan menjadi saksi munculnya maestro-maestro legendaris di dunia kecantikan.

Beberapa perusahaan kosmetik legendaris yang sudah berdiri sejak tahun 1960-an pun semakin memperkuat eksistensinya, alih-alih kalah dalam persaingan dengan brand lokal yang menjamur maupun brand dari luar negeri.

Selama empat dekade terakhir, berbagai tren kosmetik dan produk kecantikan mengalami banyak perubahan, mulai dari tren warna, tekstur, cara pengaplikasian, hingga muncul berbagai istilah baru di dunia perawatan kulit.

Tak hanya itu, berbagai brand juga menunjukkan resiliensinya, bagaimana mereka berhasil tak hanya menghadapi persaingan, tapi juga beberapa rentetan krisis selama berdiri.

Berikut ini rangkuman Bisnis mengenai perkembangan industri kosmetik dan kecantikan selama empat dekade terakhir

1985 - Lahirnya Legenda

Tahun 1985 menjadi salah satu tahun yan bersejarah bagi industri kosmetik dan kecantikan. Karena pada tahun ini, lahir sebuah perusahaan kosmetik, PT Pusaka Tradisi Ibu, yang kemudian menjadi Paragon Technology and Innovation. Perusahaan ini didirikan oleh Nurhayati Subakat dan menjadi salah satu pelopor kosmetik Halal di Indonesia.

Sosok Nurhayati Subakat di Balik Paragon Group

Besar di Padang, Sumatra Barat, Nurhayati menjalani pendidikan tinggi di Jurusan Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia berhasil menjadi lulusan terbaik S1 Farmasi ITB dan diwisuda pada 1975.

Nurhayati kemudian memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil, Padang. Dia lalu menikah pada 1978 dan pindah bersama sang suami ke Jakarta.

Di Jakarta, Nurhayati bekerja di perusahaan kosmetik Wella sebagai staf pengendalian mutu. Pengalamannya bekerja di bidang farmasi membuatnya ingin memulai bisnis sendiri.

Pada 1985, dia bersama sang suami akhirnya memulai usaha sendiri berbasis industri rumahan bernama Pusaka Tradisi Ibu. Produk pertamanya adalah perawatan rambut dengan merek Putri.

Lima tahun kemudian, pada Desember 1990, Nurhayati berekspansi menambah kapasitas produksi dengan mendirikan pabrik pertama di Kawasan Industri Cibodas, dan berhasil menciptakan bebrapa produk baru, salah satunya termasuk "Wardah" yang dia luncurkan pada 1995, dan menjadi pelopor kosmetik berlabel halal.

Selanjutnya, PTI juga meluncurkan merek kosmetik lainnya seperti Make Over sebagai kosmetik untuk pasar profesional dan Emina untuk remaja.

Pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu akhirnya mengganti namanya menjadi PT Paragon Technology and Innovation (PTI) yang kini telah menaungi sembilan merek seperti Putri, Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Laboré, Biodef, Instaperfect, dan Crystallure.

Paragon sendiri masih berstatus perusahaan tertutup sehingga valuasi kekayaan keluarga Nurhayati yang mempekerjakan 12.000 orang itu hanya perkiraan. Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Nurhayati sekitar US$1,5 miliar atau sekitar Rp24 triliun.

1986 - Kemunculan Brand Global

Tahun berikutnya, pada 1986, merek kosmetik luar negeri mulai merambah ke Indonesia, seperti L\'Oreal misalnya, yang melakukan ekspansi fasilitas produksi di Indonesia, dan menjadi tempat produksi kosmetik halal terbesarnya di dunia

Pada tahun ini, berbagai inovasi produk dan tren juga mulai terjadi. Sepanjang tahun 1980-an, orang-orang mulai mengenal make up artist atau penata rias sebagai profesi yang menjanjikan, setelah sebelumnya kebanyakan orang melakukan riasan sendiri untuk berbagai kegiatan.

4 Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda dan Tren Kecantikan

1987 - Ketahanan Para Legenda

Pada tahun ini inovasi dan tren tak berhenti berkembang, dan salah satu perusahaan kosmetik terbesar, Martha Tilaar memulai tren warna kosmetik yang terinspirasi dari budaya Indonesia, yang diformulasikan dan disesuaikan untuk kulit orang Indonesia.

Kala itu belum ada media sosial, Martha Tilaar rajin bekerja sama dengan berbagai majalah mode, majalah kecantikan, majalah remaja, serta berbagai platform media untuk mengkampanyekan kosmetik untuk kulit orang Indonesia.

Sosok Martha Tilaar

Martha Tilaar Group lahir dari salon kecantikan kecil yang didirikan oleh Martha Tilaar di garasi rumah milik orang tuanya berukuran 4x6 meter pada tahun 1970.

Wanita kelahiran 4 September 1937 itu yang memiliki nama lengkap Martha Handana, dan sudah menggemari dunia kecantikan sejak kecil. Dia sempat memutuskan untuk belajar ilmu kecantikan hingga ke Amerika Serikat, di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat.

Pada tahun 1981, perusahaan yang ia dirikan diresmikan dan diberi nama PT Martina Berto. Perusahaan ini membangun pabrik modern pertamanya d Kawasan Industri Pulogadung, dan mengawali produksinya dengan produk kosmetik dan obat herbal dengan merek Sariayu-Martha Tilaar untuk pertama kalinya.

Pada tahun 1986, perusahaan kembali melebarkan sayapnya dan membangun pabrik modern kedua di Jl. Pulo Kambing, Kawasan Industri Pulogadung.

1989 - Mengawali Regulasi Industri Kecantikan Aman

Tak hanya soal tren warna dan para legenda, industri kosmetik juga mengalami banyak perkembangan lewat peran Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (PERKOSMI), yang sudah dibentuk sejak 1978.

Pada 1989, PERKOSMI semakin menunjukkan perannya sebagai mitra pemerintah, dengan melangsungkan Musyawarah Nasional (MUNAS) II. Pada periode ini, kerjasama antara PERKOSMI dengan Direktorat Jenderal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mulai terjalin.

PERKOSMI berperan aktif memberikan suara pada penyusunan Undang-Undang Kesehatan, sehingga kosmetika tidak dikategorikan sebagai obat preparat. Sejak itu, PERKOSMI semakin dikenal baik di dalam maupun di luar negeri.

1990 - Brand Lokal Vs. Brand Global

Memasuki tahun 1990-an, perkembangan industri kosmetik di Indonesia semakin pesat, dengan hadirnya era industrialisasi kecantikan.

Di tahun ini, banyak brand-brand lokal mulai bermunculan dan sudah mulai bisa memproduksi kosmetik dengan standar internasional, dalam jumlah besar, namun tetap bisa bersaing dengan berbagai brand luar negeri dengan mempertahankan kearifan lokal.

1991 - Brand Global Menjamur

Persaingan merek-merek kosmetik lokal makin ketat dengan kehadiran merek kosmetik luar negeri yang semakin banyak. Pada 1991, Bobbi Brown Cosmetics hadir untuk pertama kalinya di Indonesia, menyusul merek seperti L\'Oreal yang sudah lebih dulu bercokol di Indonesia.

Pada saat yang sama, perusahaan PT Kino Indonesia Tbk. didirikan di Indonesia, dan hingga kini Kino masih terus bertumbuh menjadi salah satu raksasa industri kosmetik dan perawatan pribadi di Tanah Air.

Pendiri PT Kino Indonesia Tbk.

Di balik berdirinya Kino, ada andil dari tangan pengusaha Harry Sanusi, yang kini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Kino Indonesia Tbk.

Harry memulai usaha pertamanya selepas kuliah, pada 1991 dengan membangun perusahaa bernama PT Dutalestari Sentratama dengan bermodalkan Rp300 juta.

Kala itu, lewat pengalamannya sebagai sarjana farmasi, dia memasarkan produk larutan penyegar "Cap Kaki Tiga", menjadi produk legendaris dari Kino.

Pada 1997 Harry memperluas jangkauan bisnisnya, terjun ke industri permen dan mendirikan PT Kinosentra Industrindo. Produk awal dari perusahaan tersebut adalah permen kopi yang saat ini bahkan sering tayang di berbagai drama Korea, ya, Kopiko.

Selanjutnya, pada tahun berikutnya, perusahaannya mulai memproduksi berbagai produk minuman energi dan minuman serbuk. Produknya juga kemudian tak hanya dipasarkan secara lokal, tapi juga diekspor.

Setelah bayak berkutat dengan industri makanan dan minuman, pada 1999, Harry melebarkan sayapnya, mendirikan perusahaan PT Kinocare Era Kosmetindo dan memasarkan berbagai produk kebutuhan rumah tangga, seperti pembersih wajah "Ovale", parfum seperti cologne gel "Eskulin" dan "B&B", produk perawatan rambut "Ellips", sampai sabun cuci piring khusus produk bayi "Sleek".

Pada 2014, perusahaan tersebut mengganti nama menjadi PT Kino Indonesia, dan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Desember 2015.

Harry sendiri diangkat sebagai Presiden Komisaris berdasarkan untuk periode 2022 - 2024. Beliau merupakan pendiri Perseroan yang juga menjabat berbagai posisi di Grup Kino sejak tahun 1999.

Beliau merupakan Direktur Perseroan periode 8 Februari 1999-14 Agustus 2002 dan Presiden Direktur dari 14 Agustus 2002-15 Juni 2022.

Sampai dengan 2020, mengutip Forbes kekayaan Harry Sanusi mencapai US$470 juta atau setara dengan Rp6,8 triliun.

4 Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda dan Tren Kecantikan

1993 - Pelopor Produk Perawatan Tubuh dengan Kearifan Lokal

Pada 1993 juga mulai bermunculan perusahaan kosmetik besar baru, salah satunya PT Mandom Indonesia Tbk. dan Purbasari.

Lewat kehadiran dua perusahaan ini, fokus produk kosmetik tak hanya pada perawatan wajah, tapi juga perawatan tubuh. Mandom hadir dengan produk seperti Pixy dan Gatsby yang terkenal untuk pembersih wajah dan colognenya.

Sementara itu, Purbasari mengawali kiprahnya dengan produk lulur mandi, sehingga berhasil menjadi pionir lulur mandi di Indonesia yang unggul karena mengangkat budaya kecantikan Indonesia.

Di tahun 1993 juga, industri kecantikan Indonesia melangkah ke kancah global. PERKOSMI bersama organisasi kosmetika dari Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand membentuk ASEAN Cosmetic Association (ACA). Tokoh kosmetika Indonesia sekaligus Ketua PERKOSMI saat itu, Moeryati Soedibyo terpilih sebagai Presiden ACA pertama.

1994 - Pelopor Riasan Dekoratif

Tahun-tahun berikutnya, juga muncul berbagai perusahaan dan merek baru, seperti berdirinya PT Star Abadi Ratu Indonesia (Sari Cosmetics).

Usaha tersebut dimulai oleh Raden Roro Sarwo Indah, yang awalnya memproduksi dan meracik sendiri produk-produk perawatan rambut, kulit, dan badan untuk kebutuhan salon.

Selain tren perawatan kulit dan riasan, tahun 1994 juga menjadi saksi hadirnya riasan dekoratif seperti bulu mata palsu, yang dipelopori oleh PT Tiga Putra Abadi Perkasa di Purbalingga, Jawa Tengah.

1995 - Pelopor Halal

Menjadi tahun lahirnya Wardah dari Paragon Group sebagai pelopor kosmetik Halal, tahun ini juga menjadi titik balik dunia kosmetik di mana kosmetik Halal menjadi sebuah keharusan.

Sebelumnya, di Indonesia sertifikasi halal untuk kosmetik belum menjadi kewajiban dan masih bersifat sukarela. Namun seiring semakin besarnya komunitas muslim dan kesadaran konsumen muslim yang semakin meningkat, permintaan akan produk halal semakin kuat.

Pada 1995, BPOM juga mulai membuat standar yang lebih ketat, untuk mengakomodir kebijakan Halal tersebut. Lalu, pada 2014, Indonesia mulai menerapkan regulasi yang mewajibkan sertifikasi halal untuk semua produk kosmetik, makanan, dan obat-obatan.

Saat ini, tidak hanya produk kosmetik lokal saja yang harus memiliki sertifikat Halal. Brand-brand besar berskala internasional pun harus turut serta menyesuaikan produksi mereka dengan standar halal

Empat Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda Kecantikan

1998 - Berkembang dalam Krisis Ekonomi

Tahun 1998 juga menandai berdirinya beberapa perusahaan seperti PT Kosmetikatama Super Indah dengan produk Inez, yang menawarkan lebih banyak varian dan formula make up untuk warna kulit orang Indonesia.

Pendiri PT Vitapharm

Selain itu, di 1998 salah satu perusahaan kosmetik terbesar Indonesia, Viva Cosmetics mengubah namanya menjadi PT Vitapharm.

Viva Cosmetics sendiri sudah berdiri sejak tahun 1962, didirikan oleh. Nama Viva Cosmetics besar lewat berbagai produk kecantikan dan skincare-nya yang harganya relatif murah, tetapi tetap berkualitas.

Para penggunanya, terutama generasi milenial pasti sudah tidak asing dengan produk-produk seperti serum, face mask, eyeliner, fresh/milk cleanser, hingga color correcting primer.

Perkembangan perusahaan-perusahaan kosmetik tersebut membuktikan ketahanan industri kecantikan kala itu di tengah huru-hara krisis 1998.

Namun, pada tahun yang sama, tren juga berubah, dengan standar kecantikan baru dan mulai masuknya pengaruh budaya dari Eropa, Jepang, hingga Korea.

1999 - Regulasi Makin Kuat

Setelah brand-brand internasional semakin banyak masuk ke Indonesia, merek-merek high end seperti Mac dan Maybelline makin menjamur dan banyak dicari. Selain itu, artis-artis papan atas dari Barat, Amerika dan Inggris jadi kiblat make up.

Selain soal tren, perkembangan industri kosmetik juga mulai didukung oleh regulasi yang lebih kuat, seperti Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang memberikan perlindungan hukum bagi konsumen terhadap produk-produk yang tidak sesuai standar.

4 Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda dan Tren Kecantikan

2000 - Transformasi Industri Kosmetik

Memasuki era baru, perkembangan industri kosmetik Indonesia di awal 2000-an juga mengalami transformasi besar.

Di era awal 2000-an, banyak bermunculan berbagai brand kosmetik lokal. Berbeda dengan sebelumnya yang banyak berfokus pada budaya dan warisan tradisional, merek-merek yang muncul mencoba lebih up to date pada tren global.

2002 - Brand Lokal Bermunculan

Pada tahun 2002, mulai muncul merek lokal pendatang baru, antara lain Azarine Cosmetic, yang sayangnya baru tenar beberapa tahun belakangan ini.

Pendiri Azarine Cosmetics

Azarine Cosmetic adalah brand kosmetik lokal yang didirikan di Surabaya, Jawa Timur. Awalnya Azarine lebih dikenal sebagai brand yang menyediakan berbagai produk perawatan spa dan salon.

Namun, pada 2015, pendirinya, Cella Vanessa Tjahyanto dan Brian Lazuardi Tjahyanto melakukan rebranding dan, melakukan berbagai terobosan, menyesuaikan produk-produknya dengan kebutuhan dan tren saat itu, sehingga kini Azarine sukses menjadi salah satu brand kecantikan lokal yang banyak diminati.

2003 - Awal Perkembangan Minat pada Kosmetik

Di samping kemunculan brand baru, perkembangan industri kosmetik juga mulai memberikan dampak pada perekonomian negara.

Minat konsumen terhadap produk kosmetik semakin tinggi, sehingga konsumsi dan produksi kosmetik juga turut meningkat.

Berdasarkan data Departemen Perindustrian kala itu, tercatat rata-rata konsumsi kosmetik meningkat sebesar 14,7% dan produksinya meningkat sekitar 12,22% pada periode 2003-2007.

Industri kecantikan mulai memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi negara dan juga menciptakan banyak lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

2008 - Krisis Ekonomi Global

Setelah berhasil mencatatkan pertumbuhan pesat di tahun sebelumnya, pada 2008 dunia diadang krisis. Di masa ini, industri kosmetik dan kecantikan sempat terjeda, terutama brand lokal karena banyak yang harus berhenti berproduksi.

Namun, Kemenko Perekonomian mencatat meskipun terdampak krisis global, industri kosmetik secara keseluruhan masih bertumbuh positif. Di Indonesia, industri kosmetik tumbuh signifikan dengan kontribusi 1,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

2010 - Era Media Sosial

Tahun ini menjadi pintu masuk era media sosial. Di periode ini, banyak brand lokal yang muncul dan dengan penuh perjuangan bersaing dengan pasar impor dan brand luar yang semakin banyak, termasuk dari China. Hal ini menyebabkan penjualan produk kosmetik domestik tidak banyak bergerak.

Namun, dengan kemunculan media sosial, muncul pula profesi-profesi baru, yang membuat skema pemasaran produk menjadi serba baru.

Ada orang-orang yang menjadi beauty blogger, kemudian beauty vlogger di platform seperti YouTube dan Instagram, lalu tak hanya memasarkan produk, tapi juga menciptakan tren baru hingga tutorial make up.

Di era ini, iklan di media tradisional tak lagi jadi andalan. Konsumen tidak lagi bergantung sepenuhnya pada iklan tradisional, tetapi mulai banyak mengulik lebih dalam lewat konten review dan rekomendasi dari kreator konten.

2012 - Konsumsi Kosmetik Bertumbuh

Brand lokal mulai mendominasi. Adapun, tingkat konsumsi dan produksi juga meningkat.

Kementerian Perindustrian mencatat proyeksi omzet industri kosmetik nasional mencapai Rp9,76 triliun, naik dari Rp8 triliun pada tahun sebelumnya.

Selain itu, dengan brand lokal mendominasi, mereka juga mulai marak melakukan ekspor. Kemenperin juga mencatat pertumbuhan ekspor kosmetik diperkirakan mencapai US$406 juta pada 2012.

4 Dekade Industri Kosmetik Indonesia, Lahirnya Legenda dan Tren Kecantikan

2015 - Tren Bahan Alami

Setelah muncul media sosial, konsumen semakin terbuka dengan perkembangan inovasi dan keilmuan di balik hadirnya suatu produk.

Di tahun ini, produk-produk yang menggunakan bahan alami atau dibuat berdasarkan sain semakin laris dan diminati. Penggunaan produk kosmetik yang punya manfaat mengobati juga menjadi tren dan segmen yang menarik, terutama bagi kelas menengah atas, dan mendorong permintaan.

Pendiri Mineral Botanica

Sambil menyambut tren tersebut, pada tahun 2015 juga menjadi awal berdirinya Mineral Botanica, yang didirikan pada April 2015 oleh Widy Susindra dan Anita Loeki.

Keduanya adalah pasangan suami istri ini kembali dari AS pada akhir tahun 2010 untuk mengambil alih bisnis manufaktur kontrak kosmetik keluarga Anita.

Mineral Botanica lahir di tengah tren dan untuk mengisi celah pasar produk kosmetik yang inovatif, menarik, dan menyenangkan.

Brand ini memenangkan hati konsumen lewat produk berbahan ekstrak tumbuhan, lalu memadukannya dengan teknologi untuk menciptakan kosmetik, perawatan kulit, dan perawatan tubuh yang dapat dibanggakan oleh masyarakat Indonesia dan seluruh dunia.

Mineral Botanica juga jadi lebih dilirik karena branding-nya menggunakan bahan-bahan yang dapat didaur ulang, tidak mengandung bahan kimia berbahaya, dan menghindari produk yang diuji pada hewan. Hal-hal kecil ini mulai menjadi perhatian dari pasar kosmetik yang semakin bear.

2016 - Dari Konten Kreator jadi Pebisnis

Setelah era media sosial dan para konten kreatornya, pada periode ini banyak pula konten kreator yang akhirnya meluncurkan produknya sendiri. Beralih dari kreator konten menjadi pebisnis.

Pendiri By Lizzie Parra (BLP)

Salah satu brand kecantikan yang lahir di 2016 adalah BLP alias By Lizzie Parra.

Sesuai namanya, BLP didirikan oleh Lizzie Parra, atau dengan nama lengkap Elizabeth Christina Parameswari, yang punya latar belakang sekolah fashion dan pecinta seni. Namun, namanya melambung ketika menjadi konten kreator kecantikan dan Make Up Artist (MUA).

BLP menonjol karena tak hanya mengembangkan produknya, tapi lebih dari itu, mengedepankan nilai-nilai bahwa cantik tidak harus putih atau langsing, tapi bagaimana seorang perempuan bisa menjadi dirinya sendiri.

2018 - Tren K-Beauty

Setelah tren-tren dan gaya kecantikan ala barat lewat, masuklah tren kecantikan Korea dan China di Indonesia. Di periode ini, konsumen mulai menyadari bahwa cantik bukan hanya dari riasan, tapi juga dari cara merawat kesehatan kulit.

Dalam perkembangannya, produk skincare jadi segmen terlaris dan terbesar. Trennya lalu berkembang meliputi penggunaan bahan alami, sampai 10 langkah perawatan kulit dan pewarna bibir ombre.

2020 - Pandemi Covid-19 dan Booming Belanja Online

Memasuki 2020, seluruh industri terpengaruh oleh pandemi Covid-19, termasuk industri kecantikan. Namun, dengan perkembangan teknologi yang pesat, dan bantuan dari berbagai platform e-commerce. Konsumsi kosmetik dan industri kecantikan Indonesia secara umum tetap berhasil tumbuh meskipun melambat dari tahun sebelumnya.

Kementerian Perindustrian mencatat adanya peningkatan nilai pendapatan industri kecantikan mencapai Rp 99,33 triliun. Besaran pendapatan tersebut tak lepas dari pergeseran kebiasaan konsumen untuk belanja online.

Pandemi Covid-19 mendorong masyarakat lebih memperhatikan perawatan diri, sehingga pada periode ini, produk perawatan kulit baik wajah dan tubuh mengalami lonjakan permintaan.

Di masa pandemi, semua orang juga mengandalkan media sosial dan konten untuk memasarkan produk. Di tahun ini, akhirnya banyak pula brand lokal semakin menjamur, dengan beberapa brand yang sudah berdiri beberapa tahun sebelumnya juga makin naik daun.

2022 - Tren Bahan Alami Lokal dan “Glass Skin”

Inovasi produk semakin dipertimbangkan. Konsumen mulai cenderung mencari mencari produk kosmetik berbasis medis atau punya bukti khasiat secara ilmiah. Konsumen juga lebih kritis terhadap kandungan bahan aktif yang terdapat dalam produk yang mereka beli.

Beberapa bahan alami yang jadi tren dan paling banyak dicari saat itu adalah produk dengan Centella asiatica, green tea, chamomile, dan Ceramide. Namun, di sisi lain, tren ini membuat banyak brand berlomba dan memunculkan produk dengan kandungan yang sama.

Selain itu, muncul tren make up "Glass Skin" , masih dari Korea Selatan dan China, yang membuat banyak orang berlomba punya kulit "bening" yang bersih dan bercahaya.

Selain itu, produk yang lebih ramah lingkungan, seperti vegan, cruelty-free, dan not animal-tested, juga makin banyak dipertimbangkan dan mengalami peningkatan permintaan

2025 - Booming AI

Seiring dengan booming AI, industri kecantikan juga tak luput. Beberapa brand besar banyak menggelar kegiatan aktivasi dan menggunakan AI untuk memberikan rekomendasi produk yang dipersonalisasi berdasarkan kebutuhan konsumen.

Lalu, setelah lelah dengan skincare 10 langkah, tahun ini banyak konsumen yang mencari produk dengan fungsi gabungan sehingga lebih efisien.

Adapun, Kementerian Perindustrian mencatat, tahun ini konsumen semakin banyak mencari produk yang berbahan dasar bukan hanya alami tapi juga yang didapatkan secara lokal.

Kepala Biro Humas Kemenperin Ronggolawe Sahuri mengemukakan bahwa Indonesia masih memiliki potensi dan peluang yang besar dalam pengembangan industri kosmetik. Terlebih karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya akan tanaman herbal, yang secara turun temurun banyak digunakan untuk obat tradisional dan produk kosmetik.

“Hutan tropis Indonesia memiliki tidak kurang dari 30.000 spesies tumbuhan, di mana sekitar 9.600 di antaranya diketahui memiliki khasiat obat dan kosmetika. Ini juga menjadi kekuatan bagi Indonesia di tengah gempuran masuknya produk impor, dengan dikarunia bahan baku alam yang sangat banyak,” ungkapnya.

Ronggo juga menyampaikan, kinerja industri kosmetik dari sisi ekspor juga terus menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor produk minyak atsiri, parfum dan kosmetik Indonesia ke dunia pada tahun 2023 menembus angka US$842 juta, naik US$16 juta jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selain itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita menyebutkan, dalam tiga tahun pasca-pandemi, jumlah pelaku usaha di sektor kosmetik melonjak lebih dari 77%, dari 726 pelaku usaha pada 2020 menjadi 1.292 pada 2024 yang terdiri dari 83 persen perusahaan mikro dan kecil, serta 17 persen industri menengah dan besar.

"Peningkatan ini mencerminkan daya saing dan inovasi yang terus berkembang, menjadikan industri kosmetik sebagai salah satu sektor yang harus terus dikembangkan dan memiliki prospek yang positif,” ujarnya.

Selain itu, dalam skala global, industri kosmetik diperkirakan akan mencapai nilai US$677,2 miliar pada tahun 2025 dengan pertumbuhan sebesar 3,37%.

Indonesia juga memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kecantikan, mengingat populasi wanita yang mencapai lebih dari 141,8 juta jiwa dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perawatan diri.

State of Global Islamic Economy 2023/2024 juga melaporkan bahwa tren konsumsi kosmetik halal domestik juga semakin menguat. Indonesia sendiri menempati posisi kedua sebagai negara konsumen produk kosmetik halal terbesar di dunia.

#industri-kosmetik #kosmetik-indonesia #legenda-kecantikan #paragon-technology #wardah-halal #kosmetik-halal #nurhayati-subakat #martha-tilaar #kosmetik-lokal #kosmetik-global #tren-kecantikan #kosmeti

https://entrepreneur.bisnis.com/read/20251125/52/1931262/4-dekade-industri-kosmetik-indonesia-lahirnya-legenda-dan-tren-kecantikan