Pemkot Surabaya Tunda Rencana Pembangunan Tanggul Laut untuk Cegah Banjir Rob

Pemkot Surabaya Tunda Rencana Pembangunan Tanggul Laut untuk Cegah Banjir Rob

Pemkot Surabaya menunda pembangunan tanggul laut dan fokus pada optimalisasi rumah pompa, pintu air, dan bozem untuk cegah banjir rob di wilayah urban.

(Bisnis.Com) 09/12/25 16:07 66496

Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya menunda rencana pembangunan tanggul laut yang bertujuan untuk mencegah banjir rob. Pemerintah saat ini lebih memprioritaskan optimalisasi rumah pompa, pintu air, dan bozem sebagai upaya pengendalian banjir di wilayah urban.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Syamsul Hariadi menjelaskan, solusi mencegah banjir rob yang lebih realistis dilakukan pihaknya adalah dengan memanfaatkan berbagai infrastruktur yang telah tersedia.

"Penanganan banjir rob itu memang harus ada tanggul laut, kemudian dilengkapi dengan pintu air dan pompa air," beber Syamsul, Selasa (9/12/2025).

Syamsul mengklaim, berbagai infrastruktur pengendali banjir di wilayah timur Surabaya saat ini sudah lengkap, mulai dari pintu air hingga pompa air. Karena itu, ia optimistis banjir rob di wilayah tersebut dapat diminimalisir.

"Itu sudah lengkap, sehingga untuk banjir rob itu insyaallah bisa kita minimalisir,” terang Syamsul.

Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah barat Surabaya. Syamsul menyebut, wilayah Kali Krembangan, Kalianak, dan Kali Sememi belum memiliki fasilitas pintu air maupun pompa air, sehingga banjir rob sangat mungkin terjadi.

“Jadi kita agendakan untuk rumah pompa di tiga atau empat sungai yang menuju ke laut di wilayah barat itu. Wilayah barat itu ada sekitar lima akses yang menuju laut," beber Syamsul.

Syamsul menyebut wilayah barat Kota Pahlawan yang saat ini sudah dilengkapi pompa air adalah Balong dan Kandangan. Sementara di tiga lokasi lain, yakni Asemrowo, Kalianak dan Tambak Langon masih belum memiliki infrastruktur penanggulangan banjir yang memadai.

"Nanti kita agendakan [pembangunan infrastruktur] pintu air dan rumah pompa di sana,” paparnya.

Oleh sebab itu, Syamsul menegaskan bahwa pembangunan tanggul laut secara menyeluruh saat ini belum dapat dilakukan. Ia menyebut, pembangunan tanggul laut bersifat kompleks dan tidak selebihnya wilayah pesisir membutuhkan.

"Seperti di wilayah barat, Kalianak dan lain sebagainya, itu sebetulnya sudah ada tanggulnya. Bukan tanggul laut namanya, tapi itu sudah proteksi terhadap air laut,” ungkapnya.

Selain itu, Syamsul mengungkap bahwa sebagian tanah di wilayah barat Surabaya telah ditinggikan oleh pengembang. Dengan demikian, pemerintah kota akan melengkapi infrastruktur pengendalian air.

"Karena di sana kebanyakan tanahnya itu milik pengembang-pengembang dan pergudangan, dan itu sudah otomatis ditinggikan oleh mereka, sehingga kita tinggal melengkapi saja," sebutnya.

Sementara terkait fungsi bozem, Syamsul menilai bahwa infrastruktur tersebut sangat efektif sebagai tempat penampungan sementara air dari darat saat bersamaan dengan pasang air laut.

"Kalau hujan, air masuk ke bozem, kemudian dipompa ke laut saat pasang. Tapi kalau surut, air dari bozem bisa langsung mengalir, gravitasi dibantu pompa juga, jadi dua kali kecepatannya lebih cepat," ucapnya.

Ia menuturkan bahwa Surabaya saat ini telah memiliki tiga bozem utama, yaitu di wilayah Bratang, Kalidami, dan Morokrembangan. Masing-masing bozem dapat menampung air hingga mencapai 80 ribu meter kubik.

"Yang besar itu ada tiga, yaitu Bozem Bratang, Kalidami dan Morokrembangan. Itu kapasitas bisa sampai 80 ribu meter kubik. Mereka mampu sementara [menampung air saat hujan deras] tinggal kekuatan pompa kita yang harus kita optimalkan," pungkasnya.

#surabaya-banjir-rob #pembangunan-tanggul-laut #pemerintah-kota-surabaya #optimalisasi-rumah-pompa #infrastruktur-pengendalian-banjir #wilayah-timur-surabaya #wilayah-barat-surabaya #pintu-air-surabaya

https://surabaya.bisnis.com/read/20251209/531/1935393/pemkot-surabaya-tunda-rencana-pembangunan-tanggul-laut-untuk-cegah-banjir-rob