Ini 3 Masalah Gigi Terbanyak yang Dialami Orang Indonesia

Ini 3 Masalah Gigi Terbanyak yang Dialami Orang Indonesia

Masalah gigi utama di Indonesia adalah maloklusi, gigi berlubang, dan radang gusi. Perawatan rutin lebih hemat biaya dibandingkan menunggu hingga sakit.

(Bisnis.Com) 23/12/25 08:05 82014

Bisnis.com, JAKARTA - Di Indonesia, masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi salah satu tantangan besar dalam kesehatan masyarakat Indonesia, yang masih sering diabaikan terutama karena kendala biaya.

Audy Dental merilis tiga temuan utama masalah kesehatan gigi yang paling sering dialami keluarga Indonesia, berdasarkan praktik klinis sepanjang 2025.

Tiga masalah tersebut meliputi ketidakharmonisan susunan gigi (maloklusi), gigi berlubang pada anak dan dewasa, serta radang gusi. Selain itu, rendahnya kebiasaan perawatan gigi preventif dan rutin juga menjadi kendala.

CEO Audy Dental, drg. Yulita Bong, menjelaskan temuan ini, yang mencerminkan bahwa meskipun kesadaran masyarakat mulai meningkat, kesehatan gigi masih sering diperlakukan sebagai kebutuhan yang ditunda hingga muncul keluhan.

Temuan ini sejalan dengan data nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa 57% penduduk usia 3 tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut, namun hanya 11,2% yang mencari pengobatan.

Menurut WHO, ketidakpastian harga perawatan gigi menjadi salah satu alasan orang merasa enggan ke dokter gigi.

“Jika dibandingkan dengan 2024, kami mencatat peningkatan lebih dari 25% pada kasus ketidakharmonisan susunan gigi serta sekitar 10% pada kasus gigi berlubang. Fakta ini sangat disayangkan, karena sesungguhnya banyak penyakit gigi dan mulut yang bisa dicegah dan bisa justru bisa membuat biaya perawatan jauh lebih hemat," jelasnya dalam pertemuan dengan media di Jakarta, Senin (22/12/2025).

Selain itu, sepanjang 2025, AUDY Dental juga mencatat bahwa lebih dari 70% pasien anak datang dalam kondisi gigi yang sudah cukup parah atau membutuhkan penanganan lanjut.

“Perawatan gigi anak sejak dini sangat penting karena kondisi gigi susu akan memengaruhi pertumbuhan gigi permanen, struktur rahang, hingga kebiasaan perawatan gigi anak di masa depan. Jika dibiarkan, masalah gigi sejak kecil tidak hanya berisiko menimbulkan infeksi dan nyeri, tetapi juga berdampak pada rasa percaya diri anak saat tumbuh besar,” jelas Eka Sabaty Shofiyah, Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak AUDY Dental.

Efisiensi Biaya dengan Perawatan Gigi Rutin

Menanggapi tentang kekhawatiran terhadap biaya yang tidak murah dan tidak terprediksi yang masih menjadi hambatan bagi sebagian masyarakat untuk berkunjung ke dokter gigi, Yulita mengungkapkan bahwa perawatan rutin ke dokter gigi justru bisa jauh lebih hemat dibandingkan datang ke dokter gigi saat sakit.

"Sebenarnya perbandingan hitungannya sangat signifikan," katanya.

Dia menjelaskan, ketika seseorang rutin periksa gigi enam bulan sekali, biasanya biaya perawatan lebih minimal, hanya untuk scaling berapa ratus ribu rupiah untuk satu mulut, dan apabila ada masalah lain bisa langsung dideteksi dan perawatannya ringan sehingga harganya terjangkau.

Sementara, jika datang saat sudah sakit, akhirnya dibutuhkan perawatan yang lebih kompleks, seperti perawatan saraf atau saluran akar, yang tidak bisa datang hanya sekali, dan secara biaya jauh lebih mahal.

"Biaya perawatan saluran akar untuk satu gigi saja sudah bisa 4-5 kali lipat dari scaling untuk satu mulut. Itu saja sudah jauh sekali. Itu belum kalau harus ada perawatan estetika seperti membuat mahkota gigi karena sudah tidak bisa ditambal biasa, total mungkin biayanya bisa lebih dari 10 kali lipat biaya scaling, karena sudah terlambat dan sudah rusak. Jadi kalau bisa rutin periksa, sebaiknya rutin," tegasnya.

#masalah-gigi #kesehatan-gigi #gigi-berlubang #radang-gusi #perawatan-gigi-rutin #biaya-perawatan-gigi #dokter-gigi #gigi-anak #maloklusi #kesehatan-mulut #perawatan-gigi-anak #infeksi-gigi #perawatan

https://lifestyle.bisnis.com/read/20251223/106/1938886/ini-3-masalah-gigi-terbanyak-yang-dialami-orang-indonesia