Investor Asing Guyur Pasar Saham Asean Akhir Tahun, Berlanjut 2026?
Investor asing kembali tertarik pada pasar saham ASEAN, terutama Indonesia dan Thailand, dengan aliran modal besar meski ada risiko politik. Potensi berlanjut hingga 2026.
(Bisnis.Com) 29/12/25 12:13 87185
Bisnis.com, JAKARTA — Aliran modal asing kembali deras masuk ke pasar saham Asia Tenggara pada bulan terakhir tahun ini. Kawasan Asean pun menjadi salah satu area yang paling dicermati oleh investor global pada 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, dana asing setidaknya sudah mengalir sekitar US$337 juta ke pasar negara berkembang Asia Tenggara di sepanjang bulan berjalan (month-to-date/mtd) atau berpotensi menjadi arus masuk (inflow0 terbesar sejak September 2024.
Pasar saham di Indonesia dan Thailand memimpin sebagai lokasi yang paling banyak menarik kembali dana investor asing setelah terkena aksi jual besar-besaran dalam 10 dari 11 bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan beli bersih atau net buy senilai Rp2,44 triliun pada 24 Desember 2025. Guyuran modal ini membuat nilai net sell menjadi Rp18,36 triliun sejak awal tahun (year-to-date/ytd) atau jauh dari posisi pada 29 Juni 2025 yang senilai Rp53,21 triliun. Dengan kata lain, dalam enam bulan terakhir, investor asing sudah masuk ke Indonesia hingga Rp34,85 triliun.
Walaupun demikian, arus modal keluar asing di sepanjang 2025 untuk kawasan Asia Tenggara masih tercatat senilai US$15 miliar. Keterbatasan saham yang terkait dengan sektor kecerdasan buatan (AI) yang sedang booming menjadi salah satu alasan utama Indeks MSCI Asean tertinggal sekitar 13 poin persentase dibandingkan indeks Asia Pasifik pada 2025.
Kawasan Asean yang menawarkan valuasi yang menarik ini sebenarnya diminati oleh para pengelola dana yang mencari alternatif investasi di luar saham teknologi, seiring meningkatnya kekhawatiran akan potensi gelembung AI.
Christopher Wong, ahli strategi portofolio di Fidelity International, mengatakan Asean seharusnya diuntungkan oleh kebutuhan investor untuk memperluas eksposur mereka ke luar Amerika Serikat dan menjauhi sektor-sektor yang sudah terlalu padat seperti AI.
"Pasar Asean memiliki mesin pertumbuhan yang sangat berbeda satu sama lain," kata Wong, dikutip dari Bloomberg, Senin (29/12/2025).
Adapun, pasar saham Vietnam juga dipandang akan memperoleh keuntungan dari pergeseran rantai pasok global menjauhi China serta ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.
Saham-saham Vietnam diperkirakan mendapat untung dari peningkatan statusnya menjadi pasar negara berkembang sekunder oleh FTSE Russell yang diumumkan pada Oktober lalu.
Lebih lanjut, investor juga tertarik dengan prospek laba emiten di Indonesia, Vietnam, dan Filipina yang menunjukkan perbaikan. Hal itu didukung oleh rencana belanja fiskal besar-besaran pemerintah untuk memperkuat infrastruktur dan mendorong permintaan rumah tangga, serta kebijakan moneter yang relatif kondusif di sejumlah negara.
Saat ini, indeks saham acuan di Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam sudah diperdagangkan pada kelipatan valuasi sekitar 12 hingga 15 kali estimasi laba satu tahun ke depan, sementara indeks Filipina diperdagangkan pada kelipatan di bawah 10 kali. Sebagai perbandingan, Indeks S&P 500 dinilai pada lebih dari 22 kali laba.
Namun demikian, risiko tetap ada. Dua ekonomi terbesar di kawasan ini masih menghadapi tantangan akibat gejolak politik domestik. Dari Thailand, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul membubarkan parlemen awal bulan ini dan menetapkan pemilu pada 8 Februari. Dari Indonesia, investor juga mencermati dengan hati-hati kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto.
Pada saat yang sama, jika tema AI terus menjadi favorit investor global, pasar Asean akan kesulitan untuk keluar dari kinerja yang tertinggal.
Analis JPMorgan Chase & Co. menyatakan bulan lalu bahwa valuasi yang tidak menuntut membuat Asean semakin menarik bagi investor berbasis nilai, terutama jika pertumbuhan laba kembali menguat. Pernyataan tersebut terbukti cukup tepat, mengingat arus masuk dana pada Desember.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#pasar-saham-asean #investor-asing-asean #modal-asing-asia-tenggara #pasar-saham-indonesia #pasar-saham-thailand #net-buy-indonesia #arus-modal-keluar-asean #valuasi-saham-asean #saham-vietnam #prospek