Hingga November 2025, PTPN I Mencatatkan Penjualan Rp 3,56 Triliun
Capaian ini didorong strategi optimalisasi produksi/aset dan kenaikan harga komoditas
(Republika) 01/01/26 03:45 90641
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menutup tahun kedua pasca transformasi organisasi, PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) mencatatkan kinerja positif. Hingga November 2025, nilai penjualan produk yang dihasilkan mencapai Rp 3,56 triliun lebih, naik 122 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
"Ini angka yang optimistis dan trennya juga positif seiring perbaikan kinerja dan tren harga komoditas di pasar global yang naik signifikan. Angka melampaui capaian tahun lalu, sekaligus telah mencapai 90 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) serta 94 persen dari Rencana Kerja Operasional (RKO) tahun 2025,” kata Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, di Jakarta, Rabu(31/12/25).
Teddy mengungkapkan capaian ini didorong oleh strategi optimalisasi produksi dan aset, tren harga komoditas yang naik, serta penguatan diversifikasi usaha. Berdasarkan data kinerja penjualan, kata dia, komoditas karet menjadi kontributor terbesar pendapatan PTPN I dengan sumbangsih mencapai 79 persen dari total pendapatan. Diikuti oleh komoditas teh sebesar 12 persen dan kopi delapan persen.
Tembakau mencatat lonjakan harga tertinggi hingga 190 persen dari tahun sebelumnya dan menyentuh harga rata-rata Rp 467.609 per kg. Kopi turut mengalami kenaikan harga jual sebesar 137 persen (YoY) menjadi Rp 94.063 per kg. Tren positif juga terjadi pada Karet yang tumbuh 111 persen (YoY) dengan harga rata-rata Rp 32.509 per kg. Sedangkan Teh mengalami kenaikan harga 110 perseb (YoY) menjadi Rp 21.762 per kg.
"Rata-rata kenaikan harga komoditas pada kisaran 111 persen hingga 190 persen dibandingkan tahun lalu. Ini menjadi katalis utama pertumbuhan pendapatan kami. Khusus untuk Karet, pendapatan tumbuh 119 persen dibanding tahun lalu menjadi Rp 2,78 triliun. Sektor Kopi juga mencatat pertumbuhan pendapatan yang luar biasa sebesar 164 persen dibanding tahun lalu," tambah Teddy.
Teddy mengakui, pihaknya sangat diuntungkan oleh tren harga komoditas yang dikelola, baik di pasar domestik maupun global. Sementara, upaya optimalisasi aset dan akselerasi produksi masih perlu mendapat dorongan kuat karena proses konsolidasi komoditas masih dalam penataan yang ketat.
Dalam dua tahun terakhir ini, manajemen melakukan konsolidasi komoditas untuk proyeksi usaha masa depan yang sustainable. "Kami harus melakukan replanting, diversifikasi komoditas, serta menyusun rasio usia tanaman agar tak terjadi stagnasi produksi. Ini butuh effort yang keras guna mengembalikan ritme usaha yang berkelanjutan,” kata dia.
Meski belum menutup buku tahun 2025, Teddy menyatakan optimistis pencapaian kinerja 12 bulan di tahun 2025 akan positif. Ia mengatakan, manajemen terus berupaya menjaga produktivitas dan efisiensi operasional untuk memastikan target RKAP terpenuhi sepenuhnya.
Beberapa indikator makro sebagai elemen kinerja perusahaan terus dipantau, terutama fluktuasi harga dan menjaga kualitas produksi. Momentum harga yang baik ini, kata Teddy, akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberikan kontribusi terbaik bagi pemegang saham dan negara. Transformasi yang dijalankan di bawah naungan Danantara Indonesia dan Holding Perkebunan Nusantara terus memberikan dampak nyata bagi perbaikan kinerja PTPN I.
#holding-perkebunan-nusantara #harga-komoditas #kinerja-keuangan