Manuver Perusahaan Hashim Djojohadikusumo Ekspansi Tambang
PT Arsari Tambang, milik Hashim Djojohadikusumo, melirik sejumlah potensi akuisisi tambang di dalam negeri maupun luar negeri,
(Bisnis.Com) 20/10/25 07:31 9077
Bisnis.com, JAKARTA - Belakangan PT Arsari Tambang, anak usaha Arsari Group milik adik Presiden Prabowo Subianto yakni Hashim Djojohadikusumo, getol menjajaki ekspansi usaha tambangnya.
Setidaknya dalam setahun terakhir, perusahaan tambang timah itu melirik sejumlah peluang akuisisi tambang, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kabar terbaru, Arsari berencana mengakuisisi tambang di Kanada dengan nilai Rp7 triliun.
Hal itu diungkapkan oleh Presiden Direktur Arsari Tambang Aryo Djojohadikusumo. Namun, putra Hashim itu belum bisa membocorkan lebih detail tambang apa yang bakal diakuisisi tersebut lantaran proses negosiasi dengan perusahaan tambang Kanada masih berlangsung.
Negosiasi dan proses akuisisi pun ditarget dapat rampung pada tahun depan.
"Kenapa saya belum berani? Karena kita masih negosiasi. Dan ini baru selesai tahun depan. Nilai akuisisi-nya sekitar Rp7 triliun. Paling telat kita mau selesai bulan Juni tahun 2026," kata Aryo di sela-sela acara Minerba Convex 2025 di Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Menurutnya, peluang investasi di Kanada ini tak lepas dari ditandatanganinya perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia dengan Kanada atau Indonesia—Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). Perjanjian yang diteken pada Rabu (24/9/2025) di Ottawa, Kanada itu dinilai dapat membuka peluang perdagangan dan investasi lebih luas bagi kedua negara.
Selain itu, peluang perluasan perdagangan dan investasi juga makin lebar usai Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) resmi ditandatangani.
"Berkat kerja keras Presiden Prabowo, terbuka lebar kesempatan investasi di luar negeri, di mana perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa menjadi naik kelas, menjadi perusahaan multinasional," tutur Aryo.
Sebelumnya, Arsari Tambang juga berniat mengakuisisi 10% saham perusahaan tambang emas, PT Tambang Mas Sangihe di Sulawesi Utara.
Pada November 2024, Arsari Tambang sempat menandatangani non-binding letter of intent dengan induk usaha Tambang Mas Sangihe (TMS), Baru Gold Corp., untuk menjadi mitra ekuitas dan investor strategis. Kala itu, Baru Gold bahkan sudah mengumumkan, Hashim Djojohadikusumo akan bergabung dengan jajaran dewan komisaris PT TMS sebagai presiden komisaris.
Namun, kesepakatan tersebut berujung batal. Pada Maret 2025, Baru Gold melaporkan bahwa letter of intent dengan PT Arsari Tambang yang diumumkan pada 19 November 2024 tidak akan dilanjutkan. Arsari Tambang telah memutuskan untuk tidak menandatangani perjanjian definitif.
Arsari Group menyatakan bahwa pada 17 Februari 2025, PT Arsari Tambang telah secara resmi menarik kembali LoI yang telah ditandatangani dengan PT TMS dan Baru Gold.
"Dengan demikian, tidak ada keterlibatan lebih lanjut antara Arsari Group dan pihak-pihak terkait dalam transaksi yang sebelumnya direncanakan," ujar VP Corporate Communications Arsari Group Ariseno Ridhwan, dilansir dari Antara.
Adapun, proyek emas Sangihe terletak di Pulau Sangihe, di lepas pantai utara Sulawesi. Sangihe memiliki dua laporan National Instrument 43-101 dengan lebih dari 1 juta ounce sumber daya emas yang teridentifikasi (sumber daya mineral tereka sebesar 1.022.987 dan 114.700 ounce emas yang terindikasi).
Kepemilikan saham Baru Gold sebesar 70% di kontrak karya pertambangan Sangihe dipegang melalui PT Tambang Mas Sangihe. Sisa kepemilikan 30% saham di TMS dimiliki oleh perusahaan Indonesia lainnya.
Jejak Bisnis Timah Hashim
Melalui Arsari Tambang, Hashim menjalankan bisnis tambang timah mulai dari eksplorasi, eksploitasi, penambangan, pemrosesan, peleburan, pemurnian, hingga penjualan. Perseroan menjalankan bisnisnya di Bangka Belitung.
Arsari Tambang yang didirikan pada 2011 ini menjadi perusahaan induk dari empat perusahaan lainnya yang juga menjalankan bisnis tambang timah di Bangka Belitung yaitu PT Mitra Stania Prima, PT Mitra Stania Kemingking, PT PT Mitra Stania Bemban, dan PT AEGA Prima (AEGA Prima).
PT Mitra Stania Prima (MSP) diklaim sebagai perusahaan pertambangan timah terbesar ke-3 di Indonesia. MSP memiliki konsesi tambang di Mapur yang merupakan salah satu tambang timah darat terbesar yang masih aktif beroperasi di Indonesia.
Sejak 2013, MSP sudah aktif menambang di Mapur dengan luas tanah 233,5 hektare dengan potensi tambang sebesar 7.071 ton timah (Sn).
Kedua, PT Mitra Stania Kemingking merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan PT MSP. Perusahaan ini memiliki IUP timah seluas 1.206,4 ha di Kabupaten Bangka Tengah yang berlaku hingga 13 Januari 2035.
Ketiga adalah, PT Mitra Stania Bemban yang juga terafiliasi dengan PT Mitra Stania Prima dan memiliki wilayah IUP seluas 441,6 ha di Kecamatan Namang, Bangka Tengah.
Terakhir adalah PT AEGA Prima (AEGA Prima), perusahaan afiliasi dari PT Arsari Tambang yang juga bergerak di bidang pertambangan timah terintegrasi di Kepulauan Bangka Belitung.
AEGA Prima memiliki total luas IUP 293 ha yang berlokasi di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.
#hashim-djojohadikusumo #arsari-tambang #ekspansi-tambang #akuisisi-tambang