Bisnis.com, JAKARTA — Mayoritas emiten yang tergabung dalam indeks saham BUMN pilihan atau IDX BUMN 20 menunjukkan performa finansial yang solid dengan mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada kuartal I/2026.
Tren positif ini didominasi oleh lonjakan signifikan dari sektor infrastruktur dan energi, serta pertumbuhan yang stabil di sektor perbankan pelat merah.
Berdasarkan data laporan keuangan yang diolah Bisnis.com akhir Maret 2026, sebanyak 13 dari 18 emiten BUMN mencatatkan kenaikan laba bersih. Kenaikan tertinggi diraih PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) yang mencetak lonjakan laba bersih dari Rp316,59 juta per kuartal I/2025 menjadi Rp154,14 miliar.
Sektor energi dan pertambangan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap rapor hijau indeks ini. PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih 104,81% year on year (YoY) menjadi Rp801,79 miliar.
Begitu pula dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) yang labanya tumbuh 88,68% YoY menjadi Rp80,34 miliar, serta PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang mencatatkan pertumbuhan 59,85% menjadi Rp3,40 triliun.
Adapun emiten Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tetap menjadi penopang utama dengan pertumbuhan laba yang konsisten.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) meraup laba Rp15,49 triliun atau naik 13,74% YoY, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang menorehkan pertumbuhan laba sebesar 16,57% YoY menjadi Rp15,38 triliun.
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mencatatkan pertumbuhan 22,60% YoY menjadi Rp1,1 triliun, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) tumbuh 5,21% YoY ke Rp5,66 triliun.
Meski mayoritas mencetak rapor hijau, sejumlah emiten masih terkontraksi. Penurunan laba bersih terdalam dialami PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR) sebesar 64,62% YoY dan PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) 59,87% YoY.
Di samping itu, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) dan PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) juga mencatatkan penurunan laba masing-masing sebesar 16,49% dan 15,02% secara tahunan pada tiga bulan pertama tahun ini.
Di sisi lain, BUMN Research Group LM FEB UI mencatat setahun perjalanan Danantara Indonesia mampu mengakselerasi kontribusi dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga menembus Rp140 triliun pada 2025.
Associate Director BUMN Research Group LM FEB UI Toto Pranoto mengungkapkan bahwa kinerja dividen perusahaan pelat merah dalam periode 2023–2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Berdasarkan data risetnya, nilai dividen BUMN melonjak sekitar 72% dari Rp81,2 triliun pada 2023 menjadi estimasi Rp140 triliun pada 2025.
Adapun kenaikan itu terjadi di tengah transformasi tata kelola yang mengalihkan peran operasional dari Kementerian BUMN ke tangan Danantara.
Meskipun dividen melesat, Toto memberikan catatan terhadap profitabilitas konsolidasi yang masih menghadapi tantangan. Pasalnya, sebesar 75% laba hanya ditopang oleh enam emiten besar. Terkait dengan hal tersebut, dia menilai bahwa restrukturisasi pada ratusan entitas lain masih terus berjalan.
“Situasi pareto belum menunjukkan perubahan signifikan,” ucapnya dalam laporan “Overview Kinerja BUMN di Bawah Danantara, dikutip Senin (4/5/2026)
Menyikapi kondisi tersebut, Danantara direkomendasikan mengadopsi struktur pengelolaan two-fund sebagaimana diterapkan Khazanah Nasional di Malaysia.
Strategi itu melibatkan pemisahan antara commercial fund dan strategic fund untuk mengakomodasi mandat ganda konstitusional Indonesia. Dia juga menyarankan agar diterbitkan aturan turunan terkait klausul alat fiskal agar BUMN yang memiliki beban penugasan publik besar tetap memiliki kepastian.
Untuk diketahui, dalam setahun terakhir, wajah regulasi BUMN mengalami tiga fase evolusi hukum, mulai dari sentralisasi di bawah UU No. 19/2003 hingga pemisahan tegas regulator dan operator melalui UU No. 16/2025.
Toto menjelaskan bahwa aturan terbaru tersebut memberikan koreksi kunci atas kebijakan sebelumnya dengan mengembalikan wewenang pemeriksaan BPK serta menetapkan status direksi dan komisaris sebagai penyelenggara negara.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.