Bisnis.com, JAKARTA— Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok pengguna artificial intelligence (AI) terbesar di Indonesia berdasarkan Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).
Meski demikian, pemanfaatan AI di kalangan pengguna internet nasional masih tergolong rendah, dengan hanya 18,2% responden yang mengaku telah menggunakan teknologi tersebut.
Survei APJII mencatat jumlah pengguna internet Indonesia pada 2026 mencapai 235,26 juta jiwa, atau setara dengan 81,72% dari total populasi 287,89 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 81,8% responden mengaku belum menggunakan AI.
Berdasarkan kelompok generasi, Gen Z berusia 13–28 tahun menjadi pengguna AI terbesar dengan persentase 29,4%. Selanjutnya disusul Milenial (29–44 tahun) sebesar 16,7%, Gen X (45–60 tahun) sebesar 7,5%, sedangkan Baby Boomers (61–79 tahun) dan Pre Boomers (80 tahun ke atas) masing-masing hanya 0,8%.
Berdasarkan gender, penggunaan AI juga lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Sebanyak 19,7% responden laki-laki mengaku menggunakan AI, sedangkan perempuan sebesar 16,7%. Adapun responden yang belum memanfaatkan AI mencapai 80,3% pada laki-laki dan 83,3% pada perempuan.
Dari sisi pemanfaatannya, AI paling banyak digunakan untuk hiburan, seperti membuat video atau gambar generatif. Sebanyak 36,5% pengguna AI memanfaatkan teknologi tersebut untuk kebutuhan hiburan.
Penggunaan AI untuk edukasi dan riset, seperti chatbot dan ringkasan akademik, menempati urutan kedua dengan persentase 30,2%. Selanjutnya, 26,9% responden menggunakan AI untuk pekerjaan dan produktivitas, seperti penulisan otomatis, copywriting, dan analisis data. Sementara itu, penggunaan AI sebagai asisten digital suara atau perintah, seperti Siri, Google Assistant, dan Bixby, tercatat sebesar 6,4%.
Apabila dirinci berdasarkan generasi, Gen Z menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan AI untuk hiburan dengan persentase 44,4%. Sebanyak 34,9% menggunakan AI untuk edukasi dan riset, 19,0% untuk pekerjaan dan produktivitas, serta 1,6% sebagai asisten digital.
Pada kelompok Milenial, AI untuk hiburan juga menjadi penggunaan terbesar dengan persentase 34,2%, diikuti edukasi dan riset 28,9%, pekerjaan dan produktivitas 26,3%, serta asisten digital 10,5%.
Sementara itu, pada Gen X, penggunaan AI relatif merata. Masing-masing 33,3% responden menggunakan AI untuk hiburan, edukasi dan riset, serta pekerjaan dan produktivitas. Tidak ada responden Gen X yang menggunakan AI sebagai asisten digital.
Adapun pada kelompok Baby Boomers, seluruh penggunaan AI yang tercatat dalam survei dimanfaatkan untuk hiburan dengan persentase 100%, sedangkan penggunaan untuk edukasi dan riset, pekerjaan dan produktivitas, maupun asisten digital masing-masing tercatat 0%.
Jika dilihat berdasarkan gender, laki-laki lebih banyak memanfaatkan AI untuk hiburan, yakni 45,8%, dibandingkan perempuan sebesar 36,5%. Untuk edukasi dan riset, penggunaan AI pada laki-laki mencapai 35,4%, sedangkan perempuan 30,2%.
Sementara itu, penggunaan AI untuk pekerjaan dan produktivitas tercatat sebesar 27,0% pada perempuan dan 16,7% pada laki-laki. Adapun penggunaan AI sebagai asisten digital mencapai 6,4% pada perempuan dan 2,1% pada laki-laki.
Di sisi lain, responden yang belum menggunakan AI paling banyak mengaku tidak mengetahui teknologi AI, dengan persentase mencapai 46,6%. Alasan lain yang disampaikan adalah merasa tidak membutuhkan konten AI (22,7%), tidak mengetahui cara menggunakan AI (15,5%), belum menemukan layanan AI yang menarik (5,9%), merasa layanan AI sulit digunakan (3,5%), khawatir terhadap masalah privasi dan keamanan (3,6%), serta tidak memiliki akses atau teknologi yang memadai (2,1%).