Bisnis.com, JAKARTA – Implementasi teknologi di pertanian kopi telah membantu para petani dalam meningkatkan pendapatan dan menekan ongkos perusahaan hingga 30% lebih hemat.
CEO Pandawa Agri Indonesia Kukuh Roxa mengungkapkan peran inovasi teknologi input pertanian dalam perkebunan kopi telah membantu petani mengurangi ketergantungan pada input kimia sintetis tanpa mengorbankan volume hasil panen.
Cara kerjanya adalah dengan mencampurkan reduktan pada input pertanian, sehingga residu kimia di tanah berkurang. Kukuh menyebut teknologi ini berdampak langsung pada lonjakan produktivitas lahan yang terdegradasi.
"Di Pagar Alam, Sumatera Selatan, intervensi teknologi ini meningkatkan produksi hingga dua kali lipat, dari kisaran 600 kg menjadi mendekati 1,3 ton per hektare," ujar Kukuh di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Selain volume produksi, penggunaan teknologi juga berdampak pada efisiensi struktur biaya. Kukuh mengestimasi total pendapatan petani berpotensi naik hingga 30% berkat penghematan belanja input kimia.
Teknologi kedua yang kerap digunakan adalah asuransi indeks cuaca hasil kerja sama dengan Blue Marble. Blue Marble Parametric Climate Insurance APAC Head Reinhard Marcellino menjelaskan bahwa asuransi ini bersifat parametrik dan mengandalkan data satelit.
Mekanisme kerjanya memanfaatkan teknologi satelit untuk memantau curah hujan dan parameter iklim lainnya secara real-time. Berbeda dengan asuransi konvensional, klaim asuransi ini tidak memerlukan survei kerusakan manual ke lapangan.
"Klaim dapat dipicu secara otomatis ketika data satelit menunjukkan ambang batas cuaca ekstrem terlampaui. Ini memberikan kepastian dan kecepatan bagi petani," jelas Reinhard.
Sementara itu, perusahaan pertanian Louis Dreyfus Company (LDC) memperkuat inisiatif keberlanjutan di sektor komoditas kopi nasional melalui transisi menuju pertanian regeneratif.
Strategi ini dijalankan melalui kolaborasi strategis bersama Pandawa Agri Indonesia dan Blue Marble untuk memulihkan kesehatan tanah dan meningkatkan ketahanan rantai pasok.
Regional Manager for Stronger Coffee Initiative LDC Chintara Diva Tanzil menjelaskan perbedaan mendasar pendekatan baru ini.
Dia menyampaikan bahwa jika konsep sustainability berfokus mempertahankan kondisi yang ada, sementara pertanian regeneratif bersifat lebih aktif dalam memperbaiki dan revitalisasi lahan yang terdegradasi.
Diva juga memaparkan bahwa Stronger Coffee Initiative memiliki tiga pilar utama, yakni kesejahteraan petani, rendah karbon, dan pertanian regeneratif. Pendekatan manajemen pertanian holistik ini mencakup pemulihan kesehatan tanah, peningkatan keanekaragaman hayati, hingga ketahanan iklim.