Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) menyampaikan bahwa geliat pariwisata pada periode libur perayaan Imlek 2026 turut didorong oleh momentum awal Ramadan 1447 Hijriah.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asita Budijanto Ardiansjah menilai bahwa dua momentum yang berdekatan tersebut menjadi pembeda pada periode libur Imlek tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu.
“Pergerakan masyarakat pada Imlek tahun ini lebih besar dari tahun kemarin, karena jadwalnya yang hampir bersamaan dengan munggahan menjelang Ramadan,” kata Budijanto saat dihubungiBisnis, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, banyak destinasi wisata di Tanah Air yang saat ini diserbu oleh wisatawan, baik lokal, regional, maupun yang datang dari negara tetangga.
Budijanto mencermati bahwa periode libur panjang kali ini mendatangkan peningkatan keuntungan terutama pada sektor ritel dan perjalanan wisata, meskipun dia belum dapat memperkirakan angkanya.
Dia lantas menyebut bahwa kinerja sektor perjalanan pariwisata akan kembali melemah seiring dimulainya bulan Ramadan, tetapi akan meningkat lagi saat mendekati hari raya Idulfitri alias Lebaran.
“Dalam memanfaatkan momentum ini, pelaku pasar tentu harus menyiapkan diri dengan berbagai produk yang diminati oleh konsumen,” tutur Budijanto.
Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan bahwa libur panjang perayaan Imlek 2026 hingga Selasa (17/2/2026) ini dapat mengerek peningkatan pendapatan sektor pariwisata beserta turunannya.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang menyebut bahwa peningkatan omzet berpotensi dicatatkan pusat destinasi wisata, mal/gerai ritel, pusat kuliner, kafe, makanan khas daerah, logistik, transportasi, pernak-pernik Imlek, hingga toko buah seiring dengan meningkatnya pergerakan masyarakat.
“Juga toko aneka buah-buahan yang disuguhkan saat perayaan Imlek seperti jeruk mandarin, apel, delima, nanas, buah naga merah, ikan bandeng, kue keranjang serta minuman arak khas Tionghoa. Permintaan buah khas di atas diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 30% selama perayaan Imlek,” kata Sarman dalam keterangan tertulis, Selasa (17/2/2026).
Selain itu, dia juga memperkirakan potensi perputaran uang selama libur Imlek dapat mencapai Rp9,06 triliun. Jumlah ini dihitung dari populasi warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang dia sebut mencapai 11,25 juta orang atau sekitar 2,81 juta keluarga.
Selain itu, terdapat pula perhitungan dari total belanja wisatawan, penjualan tiket pelbagai moda transportasi, hingga peningkatan transaksi dari sektor ritel.