Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target pencatatan saham sebanyak 50 emiten pada tahun 2026, dengan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp14,5 triliun. Pelaku pasar modal melihat target yang dipasang BEI untuk periode 2026 ini cukup realistis.
Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai target rata-rata nilai transaksi harian yang dipatok Bursa tahun depan cukup konservatif, sebesar Rp14,5 triliun.
“Namun, jumlah IPO sebanyak 50 perusahaan mungkin realistis, apalagi jika memang BEI lebih memprioritaskan kualitas daripada kuantitas dan mengingat target untuk tahun ini juga diturunkan menjadi 45 perusahaan,” ucap Budi, Rabu (29/10/2025).
Budi melanjutkan pada 2026, BEI memiliki tugas yang mendesak untuk dibenahi seperti peretasan IT yang merugikan investor, selain juga pengawasan saham gorengan dan praktik manipulatif lainnya.
“Yang juga perlu dibenahi selain pengawasan saham gorengan dan praktik manipulatif lainnya adalah masalah peretasan IT yang merugikan investor. Jadi perlu perlindungan investor,” ucap Budi.
Sementara itu, Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto mengatakan target IPO BEI sebanyak 50 saham untuk tahun depan cukup banyak, mengingat tahun 2025 ini BEI baru mencatatkan 23 emiten baru, tahun 2024 ada 40 emiten baru, dan 2023 terdapat 77 emiten baru.
“Trennya justru menurun jika dilihat 3 tahun terakhir. Jadi target ini tentu tidak bisa dikatakan konservatif karena secara kuantitas ada peningkatan yang cukup besar,” kata Pandhu, dihubungi terpisah, Rabu (29/10/2025).
Akan tetapi, lanjut Pandhu, target ini masih realistis karena pada tahun 2021-2023 BEI juga sempat mencatatkan lebih dari 50 saham baru.
Sementara itu, mengenai target transaksi harian Rp14,5 triliun, menurutnya BEI memang cukup konservatif, karena tahun ini RNTH BEI mencapai Rp16,5 triliun per hari.
Lebih lanjut, Pandhu menuturkan sejumlah isu masih menjadi pekerjaan rumah BEI yang harus dibenahi tahun depan. Isu tersebut seperti pengawasan yang lebih ketat saham gorengan menjadi hal yang penting untuk dibenahi agar para investor dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Proses IPO juga harus lebih selektif, lebih mendorong kualitas daripada kuantitas,” ucapnya.
Baik Pandhu maupun Budi memandang optimistis terhadap kinerja pasar saham tahun depan. Pandhu menilai apabila melihat siklus ekonomi, tentu ada harapan besar bahwa tahun depan pasar modal akan lebih bergairah, karena suku bunga lebih rendah akan mendorong orang lebih berani untuk ekspansi atau minimal memindahkan investasinya dari pendapatan tetap seperti obligasi atau deposito.
Pandhu juga menuturkan ekonomi diperkirakan dapat tumbuh lebih baik tahun depan.
“Laporan keuangan tahun 2025 ini yang terlihat lesu, justru membuat kinerja tahun depan tampak lebih baik,” tuturnya.
Sementara itu, Budi menuturkan jika harga emas turun karena perang tarif dan perang fisik reda, dan tidak ada aksi borong emas dari banyak negara, terutama China, seharusnya pasar keuangan atau saham akan menggeliat.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.