Bisnis.com, JAKARTA — Pengaruh yuan China semakin kuat di Afrika. Ethiopia menjadi negara terbaru yang mengikuti jejak Kenya dengan membuka pembicaraan untuk mengonversi sebagian utang luar negerinya dari dolar AS ke yuan.
Langkah ini memperkuat upaya Beijing memperluas penggunaan mata uangnya di kancah global.
Dikutip Bloomberg pada Senin (20/10/2025), Gubernur Bank Sentral Ethiopia, Eyob Tekalign, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memulai pembicaraan dengan Export-Import Bank of China dan People’s Bank of China untuk mengonversi sebagian dari utang senilai US$5,38 miliar kepada Beijing menjadi pinjaman berdenominasi yuan. Negosiasi itu dilakukan saat kunjungannya ke Beijing bulan lalu.
“China adalah mitra yang sangat penting bagi kami saat ini, baik dalam perdagangan maupun investasi. Jadi masuk akal jika kami mengatur pertukaran mata uang, termasuk konversi sebagian pinjaman ini,” ujar Eyob dalam wawancara di sela-sela pertemuan tahunan IMF di Washington.
Langkah Ethiopia ini menambah daftar negara yang beralih ke yuan untuk memperoleh pembiayaan yang lebih murah, setelah sempat dilakukan oleh Kenya, Sri Lanka, dan Hungaria.
Pergeseran ini menunjukkan meningkatnya peran yuan di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS dan upaya negara-negara berkembang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.
Menurut Gubernur Bank Sentral Afrika Selatan Lesetja Kganyago, konversi utang dolar menjadi pinjaman berbunga lebih rendah dalam yuan merupakan bagian dari strategi besar China untuk menginternasionalisasi mata uangnya. Saat ini, suku bunga acuan satu tahun China berada di 3%, jauh lebih rendah dibandingkan 7,25% di AS.
Bagi negara-negara Afrika yang tengah menghadapi tekanan fiskal, langkah ini memberikan keuntungan langsung. Pemerintah Kenya memperkirakan penghematan US$215 juta per tahun dari kesepakatan swap dengan China yang disepakati bulan lalu.
Ethiopia sendiri tengah berupaya menata kembali total utangnya sekitar US$15 miliar, setelah mengalami gagal bayar pada 2023. Kesepakatan awal dengan komite kreditor resmi yang diketuai China dan Prancis telah tercapai pada Juli lalu, namun negosiasi dengan pemegang obligasi global senilai US$1 miliar masih menemui jalan buntu.
“Kami sudah melakukan pembicaraan yang sulit, tetapi saya tidak menyebutnya jalan buntu, ini justru kemajuan. Kami optimistis bisa mencapai kesepakatan ketika pembicaraan dimulai kembali,” kata Eyob.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai inisiatif konversi utang ke yuan berpotensi positif, terutama bagi negara-negara di mana porsi utang ke China cukup besar. “Langkah ini bisa menghasilkan penghematan yang signifikan,” kata Abebe Selassie, Direktur IMF untuk Afrika.
Dengan 130 juta penduduk dan ambisi menjadi pusat industri Afrika Timur, Ethiopia berharap konversi utang ke yuan dapat membuka jalan bagi pembiayaan baru yang lebih berkelanjutan.