Bisnis.com, JAKARTA — HargaBitcoin(BTC) kembali menyentuh level terendahnya dalam sepekan terakhir dan menandai kelanjutan tren penurunan bulanan terdalam sejak rekor kejatuhankriptopada 2022.
Harga mata uang kripto terbesar itu masih menghadapi tekanan jual yang intens setelah aksi pelepasan kepemilikan oleh investor besar dan dinamika pasar opsi (options) memicu gejolak harga yang lebih dalam.
DilansirBloomberg, harga Bitcoin sempat merosot hingga 7,6% ke level US$80.553 pada Jumat (21/11/2025), sekitar pukul 19.30 WIB kendati kemudian sempat kembali ke level US$85.000.
DataBloombergmenunjukkan hingga saat itu harga BTC telah menyusut sekitar 25% untuk periode berjalan bulan November 2025.
“November kini menjadi bulan terburuk Bitcoin sejak kejatuhan Terra dan FTX pada 2022 — periode yang memicu serangkaian kegagalan perusahaan di seluruh industri,” demikian laporan Bloomberg, Sabtu (22/11/2025).
Pada Mei 2022, runtuhnya proyek stablecoin TerraUSD yang dipimpin Do Kwon memicu efek domino kegagalan perusahaan kripto, termasuk kejatuhan bursa FTX milik Sam Bankman-Fried. DataBloombergsebelumnya menunjukkan saat itu penurunan bulanan harga BTC berada pada kisaran 40%.
MenurutBloomberg, pelemahan harga Bitcoin pada Jumat malam terutama dipicu oleh penjualan di pasar spot, termasuk arus keluar dari sejumlah Bitcoin besar berbasisexchange-traded funds(ETF),walletlama yang kembali menjual kepemilikan aset digitalnya, serta meredupnya permintaan darimomentum trader.
Selain aksi jual di pasar spot,Bloombergmenilai posisi opsi turut memperburuk volatilitas. Harga Bitcoin US$85.000 selama ini menjadi level teknikal penting dan titik masuk paling dominan para pembelian (dealer) opsi kripto.
Penurunan harga Bitcoin di bawah level tersebut membuat berada pada kondisishort gammayang dapat mempercepat penurunan harga. Sebab, pada kondisi itu paradealeropsi harus menambahhedgedengan menjual koinnya.
“Bitcoin masih rentan terhadap tekanan teknikal berkelanjutan dengan potensi percepatan penurunan berbasis gamma melalui level-levelsupportpenting,” ujar Chris Newhouse, Direktur Riset Ergonia, kepadaBloomberg.
Bloomberg menyebut level berikutnya yang diawasi pasar adalah US$80.000 atau titik di mana posisidealerberubah menjadilong gamma. Pada level ini, penurunan harga justru mengharuskandealermembeli Bitcoin untuk menyeimbangkan posisi, sehingga dapat memberikan bantalan pelemahan.
Adapun data CoinMarketCap, Sabtu (22/11/2025) pukul 11.25 WIB, harga Bitcoin berada pada level US$83.879,01. Level harga itu menyusut 2,01% dalam 24 jam terakhir dan anjlok 12,82% untuk periode sepekan.