Bisnis.com, JAKARTA — Momentum libur sekolah diharapkan kembali menjadi mesin penggerak emiten pariwisata PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) dan emiten transportasi PT Blue Bird Tbk. (BIRD) pada semester II/2026.
PJAA memproyeksikan peningkatan kunjungan wisata keluarga selama periode tersebut, sementara BIRD memperkirakan permintaan layanan transportasi tetap tumbuh seiring meningkatnya mobilitas masyarakat menuju destinasi wisata.
Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. Daniel Windriatmoko mengatakan perseroan telah menyiapkan berbagai program, atraksi, dan penyelenggaraan event untuk memaksimalkan momentum tersebut.
"Libur sekolah merupakan salah satu momentum paling penting bagi Ancol setiap tahunnya. Pada periode ini kami melihat peningkatan minat masyarakat untuk berwisata bersama keluarga, sehingga secara historis jumlah kunjungan maupun aktivitas ekonomi di kawasan Ancol cenderung meningkat," ujarnya kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, perseroan optimistis tren kunjungan selama libur sekolah tahun ini akan lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kendati demikian, realisasi kinerja tetap dipengaruhi sejumlah faktor seperti kondisi ekonomi, cuaca, dan daya beli masyarakat.
Daniel menjelaskan fokus perusahaan tidak hanya mengejar kenaikan jumlah pengunjung, tetapi juga meningkatkan kualitas kunjungan melalui peningkatan lama tinggal wisatawan dan nilai belanja selama berada di kawasan Ancol.
Sejumlah unit rekreasi diperkirakan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan, mulai dari kawasan Pantai Ancol, Dunia Fantasi (Dufan), Sea World, Samudra, Jakarta Bird Land, hingga berbagai event yang digelar sepanjang masa liburan.
Selain bisnis rekreasi, Ancol juga memperkirakan sektor pendukung seperti kuliner, ritel, dan hospitality akan menikmati peningkatan permintaan karena semakin banyak pengunjung yang menghabiskan waktu lebih lama di kawasan wisata tersebut.
Dia memandang sektor rekreasi masih memiliki peluang pertumbuhan pada semester II/2026 seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan tingginya kebutuhan akan destinasi wisata yang mudah dijangkau.
Meski demikian, perseroan tetap mewaspadai tantangan berupa dinamika daya beli masyarakat, persaingan dengan destinasi wisata lain, serta faktor cuaca yang berpotensi memengaruhi jumlah kunjungan.
Untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan, Ancol akan mengandalkan inovasi produk, penyelenggaraan event yang lebih menarik, peningkatan kualitas layanan, serta efisiensi operasional guna menjaga kesehatan kinerja perusahaan.
Sejauh ini, berdasarkan laporan keuangan, kinerja pendapatan usaha PJAA tercatat sebesar Rp207,58 miliar pada kuartal I/2026, turun tipis 1,52% dari Rp 210,80 miliar pada kuartal I/2025
Sejalan dengan penurunan pendapatan, rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp38,80 miliar, melonjak dari Rp11,17 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Setali tiga uang, momentum libur sekolah juga memberikan sentimen positif bagi emiten transportasi. Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. Andre Djokosoetono mengatakan meningkatnya aktivitas wisata dan perjalanan keluarga biasanya diikuti kenaikan permintaan layanan transportasi.
Andre mencermati berdasarkan tren tahun sebelumnya menunjukkan pertumbuhan permintaan di berbagai lini bisnis Bluebird Group.
Pada Juli 2025, misalnya, permintaan layanan taksi Bluebird meningkat hampir 10% dibandingkan Juni 2025. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya kebutuhan transportasi menuju destinasi wisata, pusat aktivitas, stasiun, maupun bandara.
Selain layanan taksi reguler Bluebird, perseroan juga melihat potensi pertumbuhan dari layanan premium Silverbird, penyewaan kendaraan Goldenbird, bus Bigbird, hingga layanan antarkota Cititrans yang banyak dimanfaatkan keluarga maupun rombongan selama musim liburan.
"Kami melihat layanan transportasi yang aman, nyaman, dan andal masih menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam mendukung aktivitas selama masa libur sekolah.
Menilik dari sisi kinerja, emiten taksi milik keluarga Djokosoetono tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp1,45 triliun pada kuartal I/2026, meningkat sebesar 11,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp1,3 triliun.
Namun demikian kinerja pendapatan tersebut tidak berbanding lurus dengan kinerja laba bersih.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan hingga 31 Maret 2026, BIRD membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai Rp155,5 miliar.
Laba bersih ini turun 6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp165,4 miliar. Sementara EBITDA perseroan mencapai Rp341,8 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.