Bisnis.com, JAKARTA — Saham PTIndofoodCBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dinilai relatif terlindungi dari tekanan arus keluar dana pasif (passive outflows) yang berpotensi muncul menyusul peringatanMorgan Stanley Capital International(MSCI).
Lea El-Hage, Industry Analyst di Bloomberg Intelligence, menilai ICBP tidak akan terdampak langsung oleh penyesuaian dana pasif MSCI karena saham tersebut tidak menjadi konstituen MSCI Indonesia Index, berbeda dengan induk usahanya, PT Indofood Sukses MakmurTbk. (INDF).
“Indofood CBP akan terlindungi dari arus keluar dana pasif secara langsung karena tidak termasuk dalam MSCI Indonesia Index,” tulis El-Hage dalam risetBloomberg Intelligence, Kamis (29/1/2026).
Meski demikian, El-Hage mengingatkan bahwa tekanan jual yang lebih luas di pasar saham berpotensi tetap membebani kinerja emiten yang terkenal dengan produk Indomie itu secara tidak langsung.
Aksibroader equity sell-offdinilai dapat menekan nilai tukar rupiah lebih lanjut. Kondisi itu pada gilirannya dapat meningkatkan kewajiban utang perseroan yang berdenominasi dolar AS.
“Kondisi tersebut berisiko menambah volatilitas pada laba bersih Indofood CBP,” tulisnya.
Di tengah sentimen tersebut, El-Hage menilai saham ICBP saat ini diperdagangkan pada level terendah sejak September 2022, mencerminkan tekanan pasar yang masih kuat terhadap saham konsumer defensif sekalipun.
Pada perdagangan kemarin, Kamis (29/1/2026), harga saham ICBP terkoreksi 1,29% ke level Rp7.675 sehingga sejak awal tahun atauyear-to-datetelah menyusut 6,40%. Pada Rabu (28/1/2026) atau saat pengumuman MSCI dirilis, mahar saham emiten Grup Salim itu anjlok 5,47%.
Pelemahan harga itu terjadi di tengah derasnya aksi jual investor asing yang membukukannet foreign sellsebesar Rp6,17 triliun di pasar reguler. Pada hari itu, investor asing melepas (foreign sell) 15,77 juta saham ICBP, sedangkan aksi belinya (foreign buy) mencapai 3,95 juta unit.
Alhasil, aksi jual bersih investor luar negeri (net foreign sell) di saham ICBP mencapai 11,83 juta unit atau berkisar Rp91,95 miliar dengan menggunakan harganya pada penutupan perdagangan Rabu. Sebagai pembanding, total volume perdagangan di saham ICBP pada hari itu mencapai 21,93 juta unit.
Adapun, aksi jual masif di pasar modal Indonesia dipicu oleh pengumuman MSCI yang memperingatkan pasar modal Indonesia dengan membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham dalam negeri lantaran kekhawatiran isufree floatdan aksesibilitas pasar.
Pada akhir perdagangan Rabu,IHSGditutup melemah pada level 8.320,56 atau turun 7,35%. Bahkan, indeks anjlok hingga 8% usai perdagangan sesi II dibuka sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menerapkantrading haltatau pembekuan perdagangan sementara.
--------------------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.