Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan komitmen perusahaan cip asal Inggris, Arm Ltd., untuk menanamkan modal di Indonesia.
Airlangga menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto sudah menugaskan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk kembangkan industri semikonduktor di Indonesia. Danantara, sambungnya, sudah melakukan kerja sama strategis dengan Arm Ltd.
"Ada [komitmen investasi Arm Ltd. di Indonesia], kira-kira US$200 juta [sekitar Rp3,38 triliun dengan kurs JISDOR 4 Maret senilai Rp16.911 per dolar AS]," ujar Airlangga usai acara Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Kendati demikian, mantan menteri perindustrian itu mengaku belum bisa menjelaskan proyek apa yang akan digarap Arm Ltd. bersama Danantara di Indonesia. Saat ini, keduanya masih dalam tahap negosiasi.
Hanya saja, Airlangga menyampaikan bahwa Arm Ltd. tidak akan membangun pabrik karena fokusnya perusahaan tersebut di desain cip. Arm Ltd, jelasnya, berbeda dengan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dan Nvidia yang memang ke pabrikan.
"Jadi kita selalu pisahkan antara software dan pabrik. Jadi Arm itu arahnya selalu ke software, ke arah design," katanya.
Di samping itu, Airlangga juga mengaku bahwa satu perusahaan asal Amerika Serikat (AS) juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman dengan Danantara untuk pembangunan pabrik peleburan (foundry). Hanya saja, dia tidak mengungkapkan detailnya maupun nama perusahaan yang dimaksud.
"Salah satu perusahaan Amerika kemarin melakukan MoU di Washington untuk membangun foundry-nya, mulai dari pasir silika sampai dengan silika air. Itu dalam bentuk rot. Nah itu nanti dipotong-potong baru jadi chips," jelas Airlangga.
Belajar dari Kesalahan Era 80-an
Lebih lanjut, mantan menteri perindustrian itu memaparkan bahwa strategi pengembangan semikonduktor Indonesia saat ini mengambil rute yang berbeda dari negara lain, dengan terlebih dahulu fokus investasi di sumber daya manusia (SDM).
Dia menjelaskan bahwa pemerintah menyadari kesalahan yang dilakukan rezim Orba, yang mana fokus pada pembangunan pabrik peleburan. Meski saat itu mengolah bahan baku lokal, teknologinya masih sepenuhnya bergantung pada pihak asing.
"Ini untuk tidak mengulangi kesalahan pada tahun 1980-an, di mana kita hanya menggantungkan kepada assembling, testing, packaging dari Fairchild [perusahaan semikonduktor asal AS]. Begitu Fairchild pergi, industrinya juga ikut terangkat," jelas Airlangga.
Oleh sebab itu, Airlangga menjelaskan Danantara dan Arm Ltd. juga sudah menjalin kerja sama untuk mengembangkan 15.000 talenta insinyur semikonduktor. Nantinya, Arm Ltd. akan menggandeng sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia untuk menyusun peta jalan (roadmap) ekosistem sekaligus menyiapkan kurikulum khusus.
Airlangga menyebut Institut Teknologi Bandung (ITB) telah terlibat sejak awal dalam penyusunan ekosistem ini. Ke depan, pemerintah melalui kerja sama dengan Arm akan mengutamakan pelatihan bagi kampus-kampus yang telah terintegrasi dalam ekosistem tersebut.
"Selain ITB ada UI [Universitas Indonesia], Gadjah Mada, Brawijaya, Unair [Universitas Airlangga]," tutupnya.
Menurut Airlangga, semikonduktor merupakan industri krusial sebagai mesin utama pendorong sektor digital demi mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.
"Digitalisasi pertumbuhannya tidak linier tetapi eksponensial. Namun untuk tumbuh di sektor digitalisasi ada satu core yang harus dikuasai yaitu terkait dengan semikonduktor. Bapak Presiden sudah memberikan prioritas untuk semikonduktor," ucapnya.