Pemprov melakukan kajian dan evaluasi terkait ketersediaan stok dan kebutuhan telur masyarakat untuk diterbitkan surat edaran gubernur terkait pembatasan masuknya telur dari luar daerah
Nabire (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Tengah melindungi peternak ayam petelur lokal di Nabire sekaligus mendorong pengembangan usaha mereka dengan mengurangi atau pembatasan pasokan telur dari luar daerah agar pengusaha setempat tetap sejahtera dan memperoleh nilai ekonomis.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop UMKM) Papua Tengah Brian Sendoh di Nabire, Selasa, mengatakan banyaknya pasokan telur dari luar mengancam usaha peternak ayam petelur di Nabire.
“Pemprov melakukan kajian dan evaluasi terkait ketersediaan stok dan kebutuhan telur masyarakat untuk diterbitkan surat edaran gubernur terkait pembatasan masuknya telur dari luar daerah,” katanya.
Ia mengatakan, kajian tersebut dilakukan agar kebijakan yang diambil tidak mengganggu pasokan kebutuhan masyarakat, sekaligus memberikan ruang bagi peternak lokal untuk berkembang.
Pihaknya berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Papua Tengah serta pemerintah kabupaten, terutama daerah penghasil telur seperti Kabupaten Nabire dan Kabupaten Mimika.
Ia menjelaskan, saat ini produksi telur lokal di Papua Tengah terus meningkat, namun peternak menghadapi tantangan karena pasokan telur dari luar daerah masih masuk dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah.
"Kebijakan pemerintah daerah lebih menitikberatkan pada pemberdayaan pengusaha telur lokal di Papua Tengah agar usaha mereka bisa tumbuh dan berkembang," ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena harga pakan ternak yang meningkat telah mendorong naiknya biaya produksi peternak lokal.
Di sisi lain, telur dari luar daerah, terutama dari Surabaya dan Makassar, tersedia dalam jumlah melimpah dengan harga yang relatif lebih rendah sehingga mempengaruhi daya saing produk lokal.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire Yasor Victor Sawo mengatakan pasokan telur dari luar daerah ke Nabire masih cukup tinggi.
Ia menyebutkan pada Mei 2026 sebanyak 30,9 ton telur didatangkan dari Surabaya dan Makassar, sedangkan hingga pertengahan Juni 2026 jumlah pasokan yang masuk telah mencapai 14,2 ton.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Nabire, kebutuhan konsumsi telur rumah tangga di daerah tersebut mencapai sekitar 1.062.000 butir atau setara 60 ton per bulan.
Di sisi lain, produksi telur lokal terus meningkat seiring bertambahnya jumlah peternak ayam petelur di Nabire.
Salah satu peternak besar bahkan mampu memproduksi sekitar 12.600 butir telur per hari yang setara dengan 378.000 butir atau 22 ton per bulan.
Meski stok telur di Nabire tergolong melimpah, harga telur di tingkat pedagang saat ini berkisar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per rak berisi 30 butir, naik dibandingkan sebelumnya yang berada pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per rak.
Ia menjelaskan, kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi akibat kenaikan harga pakan ternak, sehingga peternak lokal membutuhkan dukungan kebijakan agar hasil produksinya dapat terserap pasar dengan baik.
Pihaknya berkoordinasi dengan Pemprov Papua Tengah terkait langkah pengendalian pasokan telur dari luar daerah karena izin untuk memasukkan telur dari luar daerah kewenangan pemprov.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026