United Tractors (UNTR) fokus pada tambang emas Doup di Sulawesi Utara untuk diversifikasi bisnis, dengan target produksi 155.000 ons per tahun mulai 2028. [894] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT United Tractors Tbk. (UNTR) semakin serius memperluas ekspansi ke bisnis emas di tengah menyusutnya dividen dan laba bersih. Emiten Grup Astra ini membangun pijakan baru melalui proyek ambisius di Blok Doup, Sulawesi Utara.
Corporate Secretary United Tractors Ari Setiawan menuturkan tambang emas baru di Blok Doup ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Saat ini, proses akuisisi PT Arafura Surya Alam (ASA), pengelola tambang emas Doup, masih berada pada tahap conditional share purchase agreement (CSPA).
“UNTR menargetkan penyelesaian transaksi tidak lebih dari 23–24 Desember 2025. Setelah diakuisisi, kami akan membangun processing plant dan infrastruktur pendukungnya agar dapat mulai berproduksi pada 2028,” ujar Ari belum lama ini.
Dia menambahkan, UNTR berencana membangun processing plant dengan kapasitas sekitar 3 juta ton bijih (ore) per tahun. Dari kapasitas tersebut, produksi emas ditargetkan mencapai 140.000–155.000 ons per tahun.
“Target kami, pada 2028 proyek ini sudah berkontribusi terhadap pendapatan, meski besarannya sangat bergantung pada harga emas,” ujarnya.
Dengan kontribusi tersebut, produksi emas UNTR diperkirakan akan naik sekitar 1,5 kali lipat pada 2028.
Ari menjelaskan, akuisisi Blok Doup dilakukan sebagai bagian dari strategi diversifikasi UNTR untuk menyeimbangkan portofolio bisnis. Dana akuisisi sepenuhnya berasal dari kas internal.
Sebagaimana diketahui, UNTR melalui PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (PJBB) dengan anak usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB), yaitu PT J Resources Nusantara (JRN), untuk mengakuisisi 99,99% saham ASA.
ASA merupakan pemegang Izin Usaha Pertambangan–Operasi Produksi (IUP-OP) tambang emas Doup yang berada di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, dengan area seluas sekitar 4.000 hektare.
Selain itu, anak usaha UNTR lainnya, PT Energia Prima Nusantara (EPN), juga meneken perjanjian dengan pemegang saham individu, Jimmy Budiarto, untuk membeli 0,00004% saham ASA serta 0,2% saham PT Mulia Bumi Persada (MBP).
Seluruh penandatanganan dilakukan pada 12 September 2025 dengan nilai transaksi mencakup enterprise value sebesar US$540 juta atau Rp8,84 triliun (asumsi kurs Rp16.375 per dolar AS). Nilai ini sudah termasuk pembelian saham dan utang pemegang saham JRN kepada ASA.
Tambang batu bara United Tractors (UNTR).
Dividen Menyusut
Di sisi lain, UNTR mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2025 senilai Rp2,05 triliun atau Rp567 per saham, yang akan dibayarkan pada 24 Oktober 2025. Nilai ini merupakan yang terendah sejak 2022.
Berdasarkan data perseroan, UNTR membagikan dividen interim tahun buku 2022 sebesar Rp818 per saham, tahun 2023 sebesar Rp701 per saham atau Rp2,54 triliun, dan tahun 2024 sebesar Rp667 per saham atau Rp2,42 triliun.
Manajemen UNTR menyebut besaran dividen interim 2025 mempertimbangkan tiga indikator utama: laba bersih semester I/2025 senilai Rp8,13 triliun (turun 15% dari Rp9,53 triliun pada periode yang sama 2024), saldo laba ditahan sebesar Rp80,70 triliun, dan total ekuitas Rp101,28 triliun hingga akhir Juni 2025.
Ekspektasi Laba dan Proyeksi Emas
Seiring penurunan laba dan dividen, analis memperkirakan kinerja UNTR akan tetap menghadapi tekanan pada kuartal III/2025.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta, memperkirakan laba bersih UNTR kuartal III/2025 melemah menjadi sekitar Rp5,1 triliun atau turun 15% secara tahunan. Dengan proyeksi ini, laba inti selama 9 bulan 2025 diperkirakan sekitar Rp13,1 triliun.
“Pelemahan laba pada kuartal III/2025 terutama mencerminkan penurunan volume penjualan alat berat, sejalan dengan panduan manajemen bahwa 2025 akan bersifat front-loaded karena permintaan yang terbawa dari 2024,” tulis keduanya dalam riset.
Meski begitu, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan estimasi laba bersih UNTR untuk 2025–2026, seiring penyesuaian asumsi harga emas menjadi US$3.350–US$3.400 per troy ounce. Produksi dari tambang emas Martabe diperkirakan sekitar 220.000 ons, ditambah 15.000–20.000 ons dari tambang Sumbawa Juta Raya.
Manajemen UNTR juga tengah menargetkan penyelesaian akuisisi aset Doup pada Desember 2025, yang akan diikuti pembangunan fasilitas pengolahan berkapasitas 3 juta ton.
“Aset Doup dengan sumber daya sekitar 3,1 juta ons emas menunjukkan valuasi yang menarik. Dengan memasukkan aset Doup, total reserve dan resource emas UNTR diperkirakan menjadi masing-masing 5,8 juta ons dan 10,5 juta ons,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
BRI Danareksa Sekuritas pun menaikkan target price saham UNTR menjadi Rp32.200 dan mempertahankan rekomendasi buy, dengan alasan arus kas bebas yang stabil serta potensi kenaikan nilai aset emas.
Adapun risiko utama bagi saham UNTR antara lain potensi tidak tercapainya target produksi Pama dan risiko eksekusi proyek.
Sentimen Batu Bara Masih Menekan
Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas, Reggie Parengkuan dan Ryan Winipta, menyoroti penjualan emas UNTR yang relatif stagnan pada Agustus 2025 di level 18.000 ons, membuat total penjualan emas sepanjang 8 bulan 2025 menjadi 161.000 ons—sedikit di bawah panduan perusahaan.
Indo Premier Sekuritas memperkirakan laba bersih UNTR turun menjadi sekitar Rp4,4 triliun atau 11% secara kuartalan, meski masih sejalan dengan proyeksi tahunan. Rekomendasi untuk saham UNTR tetap hold, dengan target price Rp27.000 per saham.
Risiko utama saham UNTR tetap berasal dari harga batu bara yang lemah, yang berpotensi menekan margin Tuah Turangga Agung dan volume Pamapersada Nusantara.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56