Bisnis.com, JAKARTA - Selama berbulan-bulan, Vipin Raina telah bersiap menghadapi musim festival yang berlangsung dari Agustus - November setiap tahunnya. Periode ini, warga India membeli banyak logam mulia dari emas untuk perayaan Onam, Durga Puja, Dhanteras, hingga Diwali. Yang paling istimewa adalah Diwali, pesta cahaya untuk menghormati Dewi Lakshmi, dewi kekayaan dalam agama Hindu. Namun, meski sudah menyiapkan segala sesuatu, ia tetap terkejut. Awal pekan lalu, perusahaannya, penyulingan logam mulia terbesar di India, kehabisan stok perak untuk pertama kalinya.
“Kebanyakan orang yang berdagang perak dan koin perak benar-benar kehabisan stok karena peraknya habis. Pasar gila, orang-orang membeli pada harga seperti ini, belum pernah saya lihat selama 27 tahun berkarier,” kata Raina, Kepala Perdagangan di MMTC-Pamp India Pvt dikutip dari Bloomberg, Minggu (19/10/2025).
Fenomena ini bukan sekadar hiruk pikuk sesaat di pasar lokal. Dalam hitungan hari, kehebohan di India menular ke pasar logam dunia. Dari New Delhi hingga London, dari penambang ke investor, semua berebut perak hingga emas yang selama berabad-abad melambangkan kemurnian dan kemakmuran.
Setiap tahun, menjelang Diwali dan Dhanteras, masyarakat India berbondong-bondong membeli emas dan perhiasan. Namun kali ini, ada yang berbeda. “Belum pernah seperti ini sebelumnya. Permintaan perak kali ini sangat besar,” kata Amit Mittal, manajer umum MD Overseas Bullion di New Delhi.

Para bintang media sosial India turut memperkuat tren itu. Mereka menyebarkan gagasan bahwa rasio harga perak terhadap emas yang mencapai 100 banding 1 menjadikan perak investasi yang menjanjikan. Narasi ini viral dan mendorong jutaan orang memborong emas bersama perak.
Akibatnya, premi perak di India yang biasanya hanya beberapa sen melonjak menjadi lebih dari US$1 per ons. Ketika pasokan domestik menyusut, para pedagang beralih ke pasar London, pusat perdagangan logam mulia dunia. Tapi di sana pun, brankas sudah hampir kosong.
Pasar London, yang biasanya menjadi jangkar stabilitas global, berubah menjadi medan kepanikan. Biaya pinjaman perak dalam semalam melonjak hingga setara suku bunga tahunan 200%. Bank-bank besar menarik diri, membuat transaksi hampir mustahil dilakukan.
“Likuiditas yang tersedia dalam hal sewa di London sangat minim, bahkan hampir tidak ada sama sekali,” ujar Robin Kolvenbach, CEO perusahaan pemurnian logam mulia Argor Heraeus.
Para pedagang menggambarkan suasana penuh tekanan: telepon berdering tanpa henti, klien berteriak frustrasi, dan selisih harga antarbank begitu besar hingga memungkinkan arbitrase instan, tanda disfungsi di pasar yang biasanya ketat.
Lonjakan permintaan perak tidak terjadi begitu saja. Dalam lima tahun terakhir, konsumsi perak dunia telah melampaui pasokan dari tambang dan logam daur ulang. Industri surya menjadi penyebab utama karena perak merupakan bahan penting dalam sel fotovoltaik.
Sejak 2021, kekurangan kumulatif mencapai 678 juta ons, sementara total cadangan di London pada awal 2021 hanya sekitar 1,1 miliar ons. Di sisi lain, investor global juga menambah tekanan. Sepanjang 2025, lebih dari 100 juta ons perak masuk ke dana investasi (exchange traded funds atau ETF), mempersempit ketersediaan logam di pasar fisik.

Permintaan besar dari India memperlihatkan sisi manusiawi dari ekonomi global, antara kepercayaan, tradisi, dan spekulasi. Di Mumbai, pasar perhiasan dipenuhi pembeli yang tetap datang meski harga meroket. “Faktor FOMO (ketakutan tertinggal) benar-benar berhasil,” kata Satish Dondapati, manajer investasi di Kotak Asset Management.
Namun di balik hiruk pikuk festival, dunia melihat bayangan lama, kerentanan sistem perdagangan global terhadap emosi manusia. Seperti pada 1980 ketika keluarga Hunt mencoba menguasai pasar perak, kini tekanan muncul bukan karena manipulasi melainkan karena keyakinan kolektif bahwa logam berkilau itu tak akan kehilangan nilainya.
Harga perak sempat menembus rekor baru di atas US$54 per ons pada Jumat lalu sebelum jatuh 6,7% pada penutupan pekan. Sebuah kilau yang cepat naik dan secepat itu pula memudar.