
Baca Juga
DPR Tegaskan Pelemahan Rupiah Belum Seperti Krisis 1998, Fundamental Ekonomi Masih Kuat
"Jadi, pelemahan nilai tukar ini pada dasarnya memperumit kondisi industri pada saat sekarang. Yang artinya dari sisi langkah kebijakan, stabilitas nilai tukar itu memang sangat krusial untuk bisa meredam dampak eksternal terhadap ekonomi domestik," kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal kepada iNews.id, Sabtu (16/5/2026).
Jika dibiarkan tanpa intervensi perlindungan, tren pelemahan ini berisiko memicu gelombang penutupan pabrik. Pasalnya, kondisi setiap subsektor di dalam industri manufaktur berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan.

Baca Juga
KPK Ungkap 3 Perusahaan Setor Uang Miliaran Rupiah ke Pejabat Kemnaker untuk Urus Sertifikat K3
Oleh karena itu, pemerintah diminta turun tangan dengan tidak menambah beban baru berupa pungutan pajak bagi sektor yang sedang terpuruk, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Kebijakan pemberian insentif yang selektif dan tepat sasaran dinilai bisa menjadi penyelamat bagi industri strategis penyerap banyak tenaga kerja.
"Kan industri manufaktur ini kita tidak bisa samakan semuanya, nasibnya ada yang masih bagus, ada yang sudah berdarah-darah. Jadi yang perlu dilakukan pemerintah memang perlu mengantisipasi mereka untuk tidak sampai bangkrut, kemudian memberhentikan karyawan," ujar Faisal.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W Kamdani menekankan situasi pelemahan rupiah terhadapmu dolar AS layaknya external shock (guncangan eksternal) yang semakin membebani struktur ongkos produksi, kelancaran arus kas korporasi, sampai berdampak pada keputusan ekspansi bisnis.
Dalam pandangan Shinta, anjloknya performa mata uang Garuda ini secara otomatis mengerek beban biaya impor, terlebih mengingat tulang punggung industri nasional sejatinya masih sangat bersandar pada pasokan bahan baku dari negara lain.
Untuk saat ini saja, kurang lebih 70% bahan baku untuk sektor manufaktur masih harus didatangkan dari luar negeri, di mana komponen bahan baku tersebut menyumbang porsi krusial hingga 55% di dalam postur biaya produksi perusahaan.
“Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah,” ujar Shinta dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (13/5/2026).
Sektor-sektor usaha yang paling rentan terpukul oleh rentetan tekanan ini merupakan kelompok industri yang tingkat ketergantungan impornya teramat tinggi, sebut saja industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, sampai dengan sektor manufaktur yang digerakkan oleh sumber energi.
Editor: Puti Aini Yasmin