Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia dan Jepang menandatangani 11 perjanjian strategis dengan total nilai mencapai US$23,63 miliar atau setara Rp401,7 triliun. Salah satu dari perjanjian tersebut terkait pengembangan ekosistem semikonduktor..
Penandatangan pengembangan ekosistem tersebut berfokus pada desain dan manufaktur chip elektronik serta kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan antara PT Eblo Teknologi Indonesia dengan perusahaan Jepang, Hayashi Kinzoku Co., Ltd..
Total nilai investasi dari MoU kedua perusahaan mencapai US$500 juta atau Rp8,49 triliun.
Berikut ini adalah profil dari dua perusahaan yang terlibat dalam MoU yang disaksikan oleh Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.
Profil PT Eblo Teknologi Indonesia
Dilansir dari berbagai sumber, PT Eblo Teknologi Indonesia didirikan pada 2014. Perusahaan bergerak di bidang layanan teknologi informasi, termasuk pengembangan software, hingga integrasi sistem, cloud, IoT, dan AI.
Perusahaan juga memiliki layanan sebagai enabler e-commerce dan marketplace, serta menyediakan layanan teknologi, informasi, dan manajemen operasional yang untuk berbagai produk tren. Diketahui juga bahwa perusahaan ini berlokasi di District 8, Treasury Tower, SCBD, Jakarta Selatan.
Sementara itu dalam laman LinkedIn, perusahaan memiliki total karyawan sekitar 11-50 orang.
Profil Hayashi Kinzoku Co., Ltd.
Hayashi Kinzoku Co., Ltd. adalah perusahaan Jepang berskala kecil yang berfokus pada pembuatan die atau cetakan logam dan proses press metal presisi.
Perusahaan ini berkantor pusat di Gifu, Jepang, dipimpin oleh Presiden Direktur Takehisa Hayashi, dengan 12 karyawan dan modal 20 juta yen.
Dikutip dari website resmi hayashi-kinzoku.com pada Selasa (31/3/2026), sejarah Hayashi Kinzoku dimulai pada 1962, ketika Masayoshi Hayashi memulai usaha secara pribadi sebagai bisnis logam kecil.
Delapan tahun kemudian pada 1970, perusahaan secara resmi didirikan sebagai Hayashi Kinzoku Kogyo Co., Ltd., menandai awal eksistensi perusahaan sebagai badan hukum.
Pada 1989, perusahaan memperluas pabriknya dan mulai menggunakan mesin pemrosesan laser 3D untuk meningkatkan kemampuan manufaktur presisinya.
Pada 2014, Hayashi Kinzoku menambahkan mesin pemrosesan kawat (wire processing machine) ke fasilitasnya, lalu memperbarui teknologi laser 3D pada 2016.
Kepemimpinan beralih ke Takeshi Takeku pada 2020, yang diangkat menjadi Presiden Direktur dan membawa perusahaan ke era baru pengembangan teknologi manufaktur.
Produk utama mereka meliputi komponen logam aluminium, baja, dan stainless steel, serta prototipe hasil pengepresan untuk otomotif, peralatan listrik, dan mesin pertanian.
(Nur Amalina)