Bisnis.com, JAKARTA—Emiten makanan olahan kakao, PT Wahana Interfood Nusantara Tbk. (COCO) atau Win&Co Group menargetkan pertumbuhan pendapatan 50% pada 2026 seiring dengan penambahan kapasitas produksi.
Pada 2025, COCO membukukan pendapatan Rp165,08 miliar, naik 2,47% dari sebelumya Rp161,08 miliar. Perinciannya, bubuk kakao Rp58,22 miliar, cokelat campuran Rp55,36 miliar, cokelat murni Rp37,64 miliar, serta makanan dan minuman Rp13,84 miliar.
Direktur Utama COCO Sugianto Soenario menyampaikan dalam dua tahun terakhir perseroan mengucurkan belanja modal (capex) sebesar Rp27 miliar, yang difokuskan pada peningkatan kapasitas dan produktivitas operasional. Kapasitas produksi diharapkan meningkat dari 3.000 ton menjadi 12.000 ton per tahun yang akan efektif pada 2026.
“Dengan berbagai inisiatif tersebut, Win&Co Group menargetkan pertumbuhan pendapatan di atas 50% pada 2026,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (1/4/2026).
Target ini akan didorong oleh penguatan segmen B2B, ekspansi distribusi, peningkatan kapasitas produksi, serta momentum musiman seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Perseroan juga telah mengamankan pipeline kerja sama dengan berbagai pelaku industri roti dan kue ternama sebagai pendorong utama pertumbuhan penjualan.
Sugianto menyampaikan selain pertumbuhan organik, COCO juga tengah menjajaki peluang ekspansi anorganik melalui rencana akuisisi perusahaan, khususnya di sektor makanan non-cokelat dan fast moving consumer goods (FMCG). Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi usaha guna memperluas portofolio produk.
“Manajemen meyakini bahwa kombinasi antara transformasi internal, peningkatan kapasitas, serta potensi sinergi dari ekspansi anorganik akan menjadi katalis utama dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan perseroan ke depan,” paparnya.
Dengan fundamental yang semakin kuat dan momentum pertumbuhan yang telah terbentuk sejak akhir 2025, Win&Co Group optimistis dapat membalikkan kinerja laba serta mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan pada 2026.
Di sisi profitabilitas, EBITDA COCO tetap menunjukkan ketahanan di tengah proses transformasi, meskipun tercatat rugi sebesar Rp250,86 miliar pada 2025 dibandingkan rugi Rp52,20 miliar pada 2024. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh pencatatan beban non-operasional yang bersifat tidak berulang (one-off non-recurring items).