Bisnis.com, JAKARTA – Ekspor China turun untuk pertama kalinya dalam 8 bulan terakhir pada Oktober 2025, menandai sinyal pelemahan baru di tengah ketegangan dagang dengan Amerika Serikat dan risiko perlambatan ekonomi di akhir tahun.
Berdasarkan data resmi yang dilansir dari Bloomberg pada Jumat (7/11/2025), ekspor China tercatat turun 1,1% secara tahunan — penurunan pertama dalam delapan bulan terakhir.
Hasil tersebut berbanding terbalik dengan proyeksi median analis dalam survei Bloomberg yang memperkirakan pertumbuhan 2,9%, dengan hanya satu analis yang memprediksi kontraksi.
Ketegangan dagang antara Washington dan Beijing meningkat pada Oktober lalu, sebelum akhirnya Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping mencapai kesepakatan dalam pertemuan di Korea Selatan pada akhir bulan.
Meski ekspor sempat melonjak pada kuartal sebelumnya, laju pertumbuhan ekonomi China justru melambat ke level terendah dalam setahun dan berpotensi menurun lebih dalam pada bulan-bulan mendatang.
Sektor ekspor China sejatinya menunjukkan ketahanan sepanjang tahun ini karena peningkatan pengiriman ke pasar lain mampu menutupi penurunan ekspor ke AS. Penjualan ke luar negeri bahkan terus tumbuh sejak Februari, setelah perlambatan akibat libur Tahun Baru Imlek.
Namun, sejumlah indikator perdagangan mulai melemah pada Oktober, dengan volume kontainer yang diproses di Pelabuhan Shanghai tercatat paling rendah sejak April.
Kendati terjadi penurunan, nilai ekspor China masih melampaui US$3 triliun dalam 10 bulan pertama tahun ini — capaian tercepat sepanjang sejarah. Dengan impor yang lemah hampir sepanjang tahun, surplus perdagangan China mencapai rekor baru sebesar US$965 miliar hingga Oktober 2025.
Mulai Senin pekan depan, AS akan menurunkan tarif barang impor asal China sebesar 10%, yang berpotensi mendorong peningkatan perdagangan kedua negara hingga akhir tahun. Namun, dampaknya diperkirakan terbatas karena tarif produk China masih lebih tinggi dibandingkan dengan negara pesaing seperti Vietnam.
Secara rinci, pengiriman ke AS anjlok lebih dari 25% pada Oktober, sementara ekspor ke Uni Eropa hanya naik 1% — pertumbuhan paling lambat sejak Februari. Ekspor ke pasar utama lain seperti Korea Selatan, Rusia, dan Kanada juga turun dua digit.
Secara keseluruhan, ekspor China ke seluruh dunia (tidak termasuk AS) naik 3,1% dibandingkan tahun sebelumnya, juga menjadi pertumbuhan paling lambat sejak Februari.
Adapun impor China tumbuh hanya 1% pada Oktober, menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$90,1 miliar.