Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan dagang yang saling menguntungkan bagi Indonesia.
Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto tiba di Bandar Udara Haneda, Tokyo, Jepang pada Minggu (29/3/2026) pukul 19.10 waktu setempat.
Adapun, Indonesia dan Jepang telah menjalin hubungan kerja sama yang komprehensif selama 68 tahun pada sejumlah bidang strategis, mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial budaya.
Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai pola perdagangan Indonesia dengan Jepang memiliki karakter komplementer yang memberikan manfaat optimal bagi kedua negara.
Menurut Didik, hubungan ekonomi Indonesia dengan Jepang tidak hanya perlu dijaga, tetapi juga harus ditingkatkan. Dia menilai Jepang sebagai mitra dagang utama yang memiliki potensi besar dalam mendorong kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.
“Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat win-win di mana kedua negara mendapat manfaat yang optimal untuk mengembangkan cadangan devisanya masing-masing,” kata Didik dalam keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).
Dalam hubungan ini, Indonesia mengekspor energi, batu bara, LNG, serta produk pertanian dan perikanan ke Jepang. Sebaliknya, Jepang mengekspor mesin, barang teknologi tinggi, serta investasi industri ke Indonesia.
“Perdagangan komplementer seperti ini lebih menguntungkan dan bermakna ekonomi karena terjadi penguatan value chain keduanya di mana Indonesia masuk ke dalam rantai pasok global,” sambungnya.
Selain meningkatkan devisa, Didik menilai hubungan tersebut juga mendorong transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja industri, serta penguatan sektor manufaktur seperti otomotif dan elektronik di dalam negeri.
Di sisi lain, meski pertumbuhan ekonomi Jepang relatif rendah, Didik menuturkan bahwa skala ekonominya tetap besar dan menjadi salah satu kekuatan utama dunia. Oleh karena itu, dia mendorong agar kunjungan Presiden dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan kerja sama konkret.
“Jadi dengan kunjungan Presiden Prabowo, tim ekonominya harus memaksimalkan kunjungan ini bukan hanya diplomasi sambilan,” terangnya.
Tren Ekspor Impor RI-Jepang
Sepanjang 2021–2025, total kinerja perdagangan Indonesia—Jepang mengalami tren penurunan sebesar 1,9%.
Berdasarkan data Kemendag per 30 Maret 2026, total perdagangan Indonesia dengan Jepang mencapai US$32,52 miliar pada 2021, kemudian meningkat signifikan menjadi US$42,02 miliar pada 2022.
Namun setelah itu mengalami penurunan menjadi US$37,32 miliar pada 2023, kembali turun ke US$35,7 miliar pada 2024, dan sedikit melemah lagi menjadi US$32,07 miliar pada 2025.
Jika dilihat pada periode Januari (year-on-year), total perdagangan Indonesia dengan Jepang juga menunjukkan penurunan. Pada Januari 2025 tercatat sebesar US$2,5 miliar, kemudian turun menjadi US$2,24 miliar pada Januari 2026, atau mengalami kontraksi sebesar 10,6%.
Dari sana, ekspor Indonesia mencatatkan kecenderungan penurunan sebesar 2,1% sepanjang 2021–2025, yakni dari US$17,87 miliar pada 2021 menjadi US$17,61 miliar pada 2025.
Secara rinci, ekspor migas meningkat dari US$978,5 juta menjadi US$2,1 miliar, sedangkan ekspor nonmigas menurun dari US$16,89 miliar menjadi US$15,51 miliar.
Senada, impor dari Jepang juga turun 1,6% sepanjang 2021–2025, yakni dari US$14,64 miliar pada 2021 menjadi US$14,46 miliar pada tahun lalu. Pada periode yang sama, impor migas meningkat dari US$38,5 juta menjadi US$51,5 juta, sedangkan impor nonmigas menurun dari US$14,6 miliar menjadi US$14,42 miliar.
Alhasil, neraca perdagangan Indonesia dengan Jepang mencatatkan surplus, meski trennya cenderung berfluktuasi dan menurun sepanjang lima tahun terakhir.
Neraca perdagangan tercatat sebesar US$3,22 miliar pada 2021, meningkat menjadi US$7,67 miliar pada 2022, kemudian menurun menjadi US$4,24 miliar pada 2023, naik kembali ke US$5,73 miliar pada 2024, dan turun menjadi US$3,14 miliar pada 2025.