Bisnis.com, JAKARTA — PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) memastikan tetap menjalankan rencana ekspansi bisnis pada paruh kedua 2026 dengan lebih konservatif seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang belum mereda.
Direktur ERAA Patrick Adhiatmadja mengatakan alokasi belanja modal menjelaskan alokasi belanja modal tahun ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan pada 2025. Meski demikian, kondisi eksternal membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam membuka gerai baru maupun memperluas jaringan usaha.
Menurutnya, setiap investasi untuk pengembangan bisnis kini dilakukan dengan seleksi yang lebih ketat agar tetap memberikan imbal hasil yang optimal.
"Kami masih optimistis tapi penuh kehati-hatian. Harapan kami kondisi membaik, perang Teluk bisa lebih jelas ujungnya, sehingga kita bisa ngegas pada semester II/2026 ini," ujar Patrick dalam paparan publik virtual dikutip, Selasa (30/6/2026).
Dia menjelaskan pertumbuhan perseroan saat ini tidak hanya bergantung pada pembukaan gerai baru. Perseroan juga berfokus meningkatkan produktivitas bisnis yang telah berjalan sekaligus memperkuat efisiensi operasional agar kinerja tetap bertumbuh di tengah dinamika ekonomi.
"Kami melihat pertumbuhan dari produktivitas usaha yang sudah ada dengan mengetatkan ikat pinggang. Kita harap bisa tumbuh tetap sehat dibanding pertumbuhan GDP Indonesia sehingga kita bisa tetap bertumbuh pasarnya," imbuhnya.
Strategi tersebut tercermin pada kinerja keuangan perseroan sepanjang kuartal I/2026. ERAA membukukan pendapatan sebesar Rp22,4 triliun, tumbuh 41,1% secara tahunan didorong oleh pertumbuhan yang kuat di seluruh lini bisnis.
Sejalan dengan kenaikan penjualan, laba kotor meningkat 33,1% YoY menjadi Rp2,4 triliun, dengan gross profit margin (GPM) sebesar 10,7%.
Perseroan juga berhasil meningkatkan efisiensi operasional. Rasio beban operasional (OPEX) terhadap penjualan membaik menjadi 7,1% pada kuartal I/2026, dibandingkan 8,6% pada periode yang sama tahun lalu, mencerminkan disiplin biaya yang semakin baik.
Berkat kombinasi pertumbuhan penjualan dan efisiensi tersebut, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 122,7% secara tahunan menjadi Rp453 miliar, dengan margin yang turut mengalami peningkatan sebesar 2%.
Di sisi operasional, Erajaya terus memperkuat jaringan ritelnya di berbagai segmen bisnis.
Pada unit Erajaya Digital, jumlah gerai meningkat dari 1.808 menjadi 1.859 toko hingga akhir kuartal I/2026. Penambahan bersih sebanyak 51 gerai berasal dari 68 pembukaan toko baru dan 17 penutupan toko. Perseroan tetap berfokus memperluas jangkauan outlet untuk memperbesar pangsa pasar di segmen perangkat seluler.
Sementara itu, unit Erajaya Active Lifestyle yang membawahi bisnis gaya hidup dan Internet of Things (IoT) mencatat peningkatan jumlah gerai dari 205 menjadi 219 toko. Penambahan bersih 14 gerai berasal dari 18 pembukaan dan empat penutupan toko. Ke depan, perseroan menargetkan penambahan sekitar 50 hingga 60 gerai baru setiap tahun, disertai masuknya sejumlah merek baru secara selektif.
Adapun pada segmen Erajaya Food & Nourishment (F&B), jumlah gerai bertambah dari 77 menjadi 84 toko, dengan penambahan bersih tujuh gerai tanpa adanya penutupan selama kuartal pertama. Mayoritas pembukaan gerai baru berasal dari ekspansi merek minuman teh premium Chagee.
Patrick mengatakan strategi diversifikasi merek menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi perseroan. Dengan menghadirkan lebih banyak brand internasional, perseroan berharap dapat memperluas jaringan gerai sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan pada tahun-tahun mendatang.
"Target kami adalah menambah brand. Dengan bertambahnya brand, kami juga akan menambah outlet dan penjualan sehingga dapat meningkatkan revenue perusahaan ke depannya," ujarnya.
Sementara itu, pada bisnis internasional, jumlah gerai tercatat 242 toko, sedikit menurun dibandingkan 243 toko pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Lakukan Hedging
Vice President Director ERAA Hasan Aula mengatakan tekanan akibat menguatnya dolar AS dirasakan hampir di seluruh lini bisnis. Oleh karena itu, perusahaan menerapkan pengelolaan risiko valuta asing secara lebih disiplin, termasuk melalui strategi lindung nilai alias hedging.
Menurut Hasan, setiap kali terdapat kebutuhan pembelian dalam mata uang dolar AS, perusahaan akan melakukan langkah antisipatif dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan proyeksi pergerakan kurs.
"Kita tetap mengelola forex dengan lebih hati-hati dan melakukan pendekatan yang forward looking," terangnya.
Selain menerapkan strategi hedging, Hasan menilai dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja perseroan relatif lebih terkendali karena sebagian besar produk yang dipasarkan diperoleh dari pemasok domestik.
Dia menjelaskan hanya sebagian kecil produk, terutama pada kategori perangkat elektronik, yang masih diimpor secara langsung. Sementara itu, mayoritas barang yang dipasarkan Erajaya berasal dari pembelian di dalam negeri sehingga eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar menjadi lebih terbatas.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.