Bisnis.com, JAKARTA — Harga aset kripto utama kompak melemah pada Jumat, sejalan dengan penurunan pasar saham global, di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait arah negosiasi konflik di Timur Tengah.
Menurut data CoinMarketCap pada Jumat (27/3/2026), Bitcoin tercatat turun sekitar 3,02% dalam 24 jam terakhir ke level US$68.759, setelah sempat menyentuh kisaran US$68.000 pada perdagangan intraday sebelum berbalik menguat tipis.
Sementara itu, Ethereum terkoreksi 4,14% menjadi US$2.062, dan Solana melemah 4,9% ke posisi US$86,49. Penurunan tersebut menyeret ketiga aset kripto ke zona negatif secara mingguan.
Pergerakan ini sejalan dengan tekanan di pasar ekuitas Wall Street. Indeks S&P 500 ditutup melemah 1,7%, diikuti Nasdaq Composite yang turun lebih dari 2,3%, serta Dow Jones Industrial Average yang anjlok sekitar 470 poin.
Sentimen pasar dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai kontradiktif terkait peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut pembicaraan berjalan positif, namun di kesempatan lain menegaskan dirinya “tidak putus asa” dan bahkan menekan Iran agar segera menyelesaikan konflik.
Di sisi lain, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan belum ada niat untuk melakukan negosiasi dalam waktu dekat, menambah ketidakpastian arah konflik yang telah berlangsung hampir satu bulan.
Dilansir Decrypt, Analis riset Nansen Aurelie Barthere menilai pasar kripto saat ini mencerminkan sikap defensif investor. Menurutnya, permintaan lindung nilai terhadap potensi penurunan masih tinggi, tercermin dari posisi derivatif Bitcoin.
Dia juga menambahkan bahwa arus dana di ekosistem blockchain cenderung mengarah ke instrumen yang lebih aman seperti stablecoin berimbal hasil dan token staking likuid, yang menunjukkan fokus investor pada pelestarian modal di tengah tekanan makroekonomi.
Ketegangan geopolitik juga mendorong lonjakan harga energi. Harga minyak mentah Brent crude oil naik sekitar 5% ke level US$107 per barel, memangkas penurunan mingguan sebelumnya.
Di pasar prediksi, pelaku pasar memperkirakan peluang cukup besar bagi harga minyak untuk menembus US$120 per barel dalam waktu dekat, mencerminkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global.
Meski demikian, Bitcoin masih bertahan di atas level terendah sekitar US$63.200 yang tercatat saat konflik mulai memanas. Sebelumnya, aset kripto ini sempat reli menembus US$71.000 setelah Trump menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Namun dalam 24 jam terakhir, sentimen jangka pendek kembali memburuk. Pelaku pasar kini lebih condong memproyeksikan penurunan ke kisaran US$55.000 dibandingkan potensi kenaikan menuju US$84.000, menegaskan dominannya faktor risiko global dalam pergerakan kripto saat ini.