Bisnis.com, JAKARTA — Harga saham BBCA yang tengah undervalued dinilai menjadi peluang akumulasi bagi investor seiring dengan fundamental kuat PT Bank Central Asia Tbk. yang rutin cetak laba.
Tren pelemahan saham BBCA berlangsung seiring dengan tekanan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang turun 16,79% secara year to date ke level 7.279,21 hingga 8 April 2026. Adapun, saham BBCA masih tertahan di Rp6.750 atau menguat 3,85% pada penutupan perdagangan, Rabu (8/4/2026).
Analis pasar modal Rendy Yefta mengatakan anomali harga saham BBCA kian mencolok usai terkoreksi meski kinerja masih solid, membuka ruang spekulasi undervalued pada saham tersebut. Secara historis, pasar selalu menghargai kualitas BBCA dengan valuasi premium.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan fundamental perseroan. Sepanjang 2025, BBCA membukukan laba bersih Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9% dibandingkan Rp54,8 triliun pada 2024. Capaian tersebut menegaskan konsistensi pertumbuhan laba bank jumbo tersebut di tengah tekanan industri.
Secara struktur bisnis, BBCA juga ditopang oleh dana murah atau (current account saving account/CASA) yang dominan, efisiensi operasional, serta basis nasabah yang kuat. Kombinasi ini membuat kinerja perseroan relatif stabil dalam berbagai siklus ekonomi.
Namun, tekanan eksternal seperti kepanikan pasar global dan rotasi sektor membuat saham BBCA ikut terseret turun. Kondisi tersebut dinilai tidak mencerminkan nilai intrinsik perseroan.
Dia menjelaskan, saham BBCA biasanya melenggang di tingkat rasio Price to Book Value (PBV) di kisaran 4x hingga 5x. Namun, dipicu kepanikan sesaat di bursa global dan rotasi sektor, BBCA dipaksa turun drastis.
Rendy memperkirakan harga saham BBCA berpotensi kembali menguat signifikan seiring dengan meredanya tekanan pasar. Normalisasi valuasi dinilai dapat mendorong kenaikan harga secara agresif, bukan bertahap.
Di sisi lain, pasar kini menantikan rilis kinerja kuartal I/2026 yang diperkirakan kembali mencatatkan pertumbuhan laba solid. Tren efisiensi dan ekspansi kredit yang berlanjut dinilai akan menjadi katalis utama.
Menurutnya, rilis laporan keuangan tersebut berpotensi memicu masuknya kembali investor institusi besar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.