Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menegaskan komitmen impor produk pertanian Amerika Serikat (AS) tetap diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri, sekaligus menjaga stabilitas pasar domestik dari potensi lonjakan barang impor.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemendag Ni Made Kusuma Dewi menyampaikan bahwa impor sejumlah komoditas asal AS dilakukan untuk memastikan keberlangsungan sektor industri, khususnya makanan, minuman, dan tekstil.
“Pada dasarnya, Indonesia mengimpor sejumlah komoditas AS untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan, minuman, dan tekstil. Impor ini berperan dalam menjamin ketersediaan bahan baku untuk industri,” kata Made kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).
Made menjelaskan, komoditas seperti kedelai, tepung kedelai, gandum, dan jagung pangan masih dibutuhkan dalam jumlah besar oleh industri dalam negeri. Di sisi lain, kapasitas produksi domestik belum sepenuhnya mampu memenuhi tingginya permintaan tersebut.
Kendati demikian, pemerintah tetap berpegang pada prinsip perlindungan pasar dalam negeri. Made menegaskan, apabila terjadi lonjakan impor yang mengancam keberlangsungan industri nasional, pemerintah memiliki instrumen pengamanan perdagangan sesuai ketentuan internasional.
“Pemerintah Indonesia dapat menerapkan bea masuk tambahan seperti Bea Masuk Tindakan Pengamanan [BMTP], antidumping, dan antisubsidi sesuai aturan Organisasi Perdagangan Dunia [WTO],” terangnya.
Selain mekanisme tarif, Indonesia dan AS juga memiliki forum bilateralCouncil on Trade and Investmentsejak 1996 yang menjadi wadah pembahasan isu perdagangan. Forum tersebut diharapkan mampu menjadi kanal penyelesaian jika muncul gangguan terhadap stabilitas pasar domestik.
“Keberadaan Agreement on Reciprocal Trade [ART] memperkuat peran forum dalam implementasi perjanjian tersebut. Forum menjadi sarana penting untuk membahas lonjakan impor yang mengganggu stabilitas pasar domestik dan perdagangan antara Indonesia dan AS,” jelasnya.
Dalam dokumen Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia dan AS (Agreements on Reciprocal Trade/ART), Indonesia berkomitmen membeli produk pertanian dari AS senilaiUS$4,5 miliar atau setara Rp75,88 triliun (asumsi kurs Rp16.862 per dolar AS).
Rinciannya, kapas, kedelai, tepung kedelai, gandum, jagung, daging sapi, beras, etanol, hingga buah-buahan segar.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan kesepakatan dagang tersebut turut mendorong peningkatan daya saing produk ekspor nasional.
Dalam hal ini, Indonesia akan memperoleh tarif resiprokal sebesar 0% untuk sejumlah komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, dan produk lainnya.
Selain itu, sebanyak 1.819 produk Indonesia yang terdiri atas 1.695 produk industri dan 124 produk pertanian mendapatkan pengecualian tarif dengan skemamost favoured nation(MFN).
“Untuk produk Tekstil Indonesia, pihak AS telah menyiapkan pengurangan tarif hingga 0% melalui mekanismeTariff-Rate Quota [TRQ],” ujar Haryo dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (23/2/2026).
Haryo menambahkan, perjanjian ART ini dijadwalkan mulai berlaku 90 hari setelah kedua negara saling menyampaikan pemberitahuan tertulis yang menyatakan seluruh prosedur hukum di masing-masing negara, termasuk konsultasi dengan lembaga terkait dan proses ratifikasi telah rampung dilaksanakan.
Selain itu, kesepakatan tersebut juga membuka ruang evaluasi dan perubahan. Dengan kata lain, ART dapat ditinjau kembali serta diamendemen sewaktu-waktu sepanjang terdapat permohonan dan persetujuan tertulis dari masing-masing pihak yang terlibat dalam perjanjian.