#30 tag 24jam
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah ini penuh dengan hikmah, ada seseorang yang tidak berhaji namun mendapat pahala ibadah haji. Sebaliknya, mereka yang tengah menjalankan ibadah haji, tetapi... | Halaman Lengkap [607] url asal
#kisah-hikmah #ibadah-haji #pahala #ganjaran-pahala #kisah-haji
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 31/05/26 17:35
v/207812/
Kisah ini penuh dengan hikmah, ada seseorang yang tidak berhaji namun mendapat pahala ibadah haji. Sebaliknya, mereka yang tengah menjalankan ibadah haji, tetapi tidak diterima amalannya. Kok Bisa?Kisah hikmah ini disampaikan Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi, seorang ulama ahli hadis terkemuka, asal Khurasan. Selain ulama dia juga adalah seorang pengusaha sukses yang gemar menjalankanibadah hajidan berjihad di jalan Allah.
Dinukil dari buku "198 Kisah Haji Wali-Wali Allah", karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, dikisahkan, ketika Abdullah bin al-Mubarak akan pergi haji tahun ini, karena tahun berikutnya dia pergi berjihad. "Demikian seterusnya berselang-seling. Itulah kesibukannya selama bertahun-tahun.
Di Makkah, Abdullah bin Al Mubarak juga memulai usaha dagang yang keuntungannya selalu dia bagi-bagikan kepada para muridnya dan fakir miskin di sekitar kota Makkah. Setelah membagi baginya, dia akan menghitung biji kurma yang mereka makan. "Siapa yang paling banyak makan kurma makan diberi hadiah satu dirham olehnya setiap bijinya," katanya.
Pada suatu saat, tibalah waktu musim haji bagi Abdullah bin al-Mubarak rah. Dia berniat menunaikannya, hingga terkumpulan bekal sebesar 500 dinar. Maka diapun berangkat menuju Makkah dan menunaikan haji dengan sebaik mungkin. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Abdullah bin al-Mubarak tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan kedua malaikat itu berdialog di antara mereka. Abdullah mendengar dengan jelas percakapan malaikat itu.
"Berapa jumlah orang yang menunaikan ibadah haji pada tahun ini?" tanya salah satu malaikat.
Malaikat satunya pun menjawab, "Enam ratus ribu."
Lalu malaikat sebelumnya bertanya kembali, "Berapa yang diterima hajinya?"
"Tidak ada yang diterima," jawab malaikat yang satunya.
Abdullah lantas gemetar dan menangis ketika mendengar percakapan dua malaikat itu. Dalam mimpinya, ulama tersebut berpikir, "Semua orang yang ada di sini telah datang dari berbagai penjuru bumi. Dengan kesulitan yang besar dan keletihan semuanya menjadi sia-sia?"
Tak sampai di situ, ternyata dua malaikat itu melanjutkan percakapan. "Kecuali hanya seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Muwaffaq. Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Bahkan berkat dialah ibadah seluruh jamaah haji ini diterima oleh Allah."
Setelah mendengar percakapan tersebut, Abdullah Ibnu Mubarak langsung terbangun. Dirinya memutuskan untuk berangkat ke Damaskus menemui Ali bin Muwaffaq setelah seselai menunaikan ibadah haji. Sesampainya di Damaskus, Abdullah mencari-cari kediaman Muwaffaq hingga akhirnya berhasil dan tiba didepan rumahnya.
Ia mengucapkan salam sambil lalu mengetuk pintu. Lalu dibukakanlah pintu itu dan Abdullah menceritakan perihal mimpinya. Tak disangka, cerita tersebut langsung saja membuat Muwaffaq menangis hingga jatuh pingsan.
Atas permintaan Abdullah, ketika tersadar Muwaffaq menceritakan perihal hajinya. Dirinya bercerita bahwa selama 40 tahun memiliki keinginan untuk melaksanakan ibadah haji. Maka, dari hasil berjualan sepatu telah terkumpul dana sebesar 350 dirham.
Pada saat itu, istrinya yang tengah mengandung mencium aroma sedap dari masakan tetangganya. Sang istri memohon kepada Muwaffaq agar dapat mencicipi masakan tersebut walau hanya sedikit.
Untuk memenuhi keinginan sang istri, pergilah Muwaffaq ke tetangganya di sebelah rumah. Sesampainya Muwaffaq langsung mengutarakan maksud kedatangan dirinya.
Mendengar hal itu tetangganya justru menangis dan berkata, "Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa. Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu," ujarnya sambil tetap menangis.
Cerita tetangga tersebut membuat hati Muwaffaq sedih dan terharu. Dirinya memutuskan kembali ke rumah dan mengambil tabungan hajinya. Lalu diberikan kepada tetangganya yang sangat membutuhkan.
Muwaffaq berkata, "Belanjakan uang ini untuk anakmu." Dalam hati dirinya berkata, "Inilah hajiku."
"Demikian perjalanan hajiku," pungkas Ali Ibnu Muwaffaq kepada Abdullah bin al Mubarak.
Setelah mendengarkan cerita Muwaffaq, Abdullah berkata. "Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku dan Penguasa Kerajaan surga adalah benar keputusan-Nya" ujar Abdullah bin Mubarak membenarkan mimpinya.
Pahala Haji Tak Main-Main: Surga Jadi Balasannya
Pahala melaksanakan ibadah haji tidak main-main, karena balasan tertingginya adalah surga. Haji mabrur juga dapat menghapus seluruh dosa sehingga seseorang kembali... | Halaman Lengkap [612] url asal
#pahala #ibadah-haji #haji #haji-2026 #ganjaran-pahala
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/04/26 11:08
v/207396/
Pahala melaksanakan ibadah hajitidak main-main, karena balasan tertingginya adalah surga. Haji mabrur juga dapat menghapus seluruh dosa sehingga seseorang kembali suci seperti baru dilahirkan, menghilangkan kefakiran, dan bernilai jihad bagi wanita.DR KH. Syamsul Yakin MA, Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta menjelaskan, ganjaran pahalahaji ini dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wassalam dalam sabdanya: “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Haji Mambrur dan Ciri-cirinya
KH Syamsul Yakin memaparkan, haji mabruradalah haji yang diterima (maqbul). Ciri peraih haji mabrur adalah selalu menebar kebaikan dan perbaikan sepulang melaksanakan ibadah haji.Secara etimologi haji itu berarti menuju. Sedang secara terminologi, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, haji adalah pergi ke Tanah Suci untuk berziarah dengan cara khusus. Syaratnya, kata Syaikh Abu Syuja’ dalam Matan Taqrib adalah Islam, baligh, berakal, merdeka, ada bekal dan kendaraan, aman dan mampu melakukan perjalanan. Untuk memperoleh haji mabrur tampaknya diperlukan sejumlah kesanggupan (istitha’ah).
Allah SWT mengindiskasikan hal ini, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran/3: 97). Kesanggupan, menurut pengarang Tasfir Jalalain, adalah memiliki perbekalan dan kendaraan.
Namun perbekalan dan kendaraan ini saja dipandang belum cukup, diperlukan kondisi badan yang fit dan prima baik dalam perjalanan, semasa melaksanakan ibadah haji, maupun saat kembali ke tanah air. "Karena itu, ibadah haji sebaiknya dilaksanakan selagi berusia muda agar dapat leluasa melaksanakan seluruh rangkaian rukun dan kewajiban haji secara paripurna,"tutur KH Syamsul Yakin.
Tidak seperti ibadah puasa, salat, dan zakat, ibadah haji adalah gabungan ibadah hati, badan, dan harta karena memerlukan biaya mahal. Oleh karena itu, melaksanakan ibadah haji bagi orang yang berusia muda tampaknya lebih mudah ketimbang orang yang berusia tua. Untuk itu menabung agar bisa beribadah haji selagi muda harus menjadi prioritas.
Beribadah haji selagi muda tidak hanya berefek positif bagi kehidupan pribadi, tapi juga kehidupan sosial. Para haji muda diharapkan berperan aktif di dalam kehidupan masyarakat sebagai role model dan agen perubahan. Harus ada yang menghapus stigma bahwa seorang haji itu adalah orang tua yang lemah secara fisik dan hanya menjalin ibadah vertikal ke langit.
Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menganalogikan pahala haji mabrur setara dengan jihad, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling utama. Apakah berarti kami harus berjihad?” Nabi SAW menjawab, “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR. Bukhari). Jihad dengan demikian identik dengan usia yang masih muda dan gagah berani.
Haji, Pralambang Kehidupan Setelah Kematian
KH Syamsul Yakin juga menjelaskan, beribadah haji seperti pelaksanaan furgatorio (proses pemurnian) menuju paradiso (surga).Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Barangsiap berhaji ke Baitullah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat fasik maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari).
Jadi sosok peraih haji mabrur secara ideal adalah berusia muda, saleh ritual dan sosial, dan suci. Peraih haji mabrur ini diharapkan mampu merevivalisasi Islam dan masyarakat muslim. Seperti ungkapan Bung Karno, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”
Untuk itu mari kita gelorakan ajakan beribadah haji ini seperti halnya dilakukan oleh Nabi Ibrahim ribuan tahun silam yang diabadikan Al Quran.
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj/22: 27).
Ayat ini lagi-lagi meniscayakan beribadah haji itu dilaksanakan selagi masih muda agar mampu berjalan kaki, mampu berada di dalam kendaraan selama berjam-jam, dan mampu berdesak-desakan dengan saudara sesama muslim yang datang dari negeri yang jauh. Insya Allah “pahala sosial” melakukan ibadah haji di usia muda lebih besar.
Pahala dan Keutamaan Umrah yang Penting Diketahui
Pahala dan keutamaan ibadah umrah penting diketahui umat Muslim. Apa saja pahalanya? Dan bagaimana keutamaannya? Simak ulasannya berikut ini. Pahala dan keutamaan... | Halaman Lengkap [430] url asal
#pahala #umrah #ganjaran-pahala #keutamaan-umrah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/04/26 18:49
v/198244/
Pahala dan keutamaan ibadah umrah penting diketahui umat Muslim. Apa saja pahalanya? Dan bagaimana keutamaannya? Simak ulasannya berikut ini.Dalam Islam, ibadah umrahmendatangkan berbagai pahala bagi pelakunya. Pahala-pahala yang diperoleh dari ibadah umrah begitu utama sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadis. Berikut ini beberapa pahala umrah:
1. Umrah menghapus dosa
Artinya: "Dari sahabat Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Umrah ke umrah merupakan kafarah [dosa] di antara keduanya. Sedangkan haji mabrur tiada balasan baginya kecuali surga,’” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Asbihani).
2. Doa mustajab
Artinya: “Dari sahabat Jabir ra, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya dan mereka meminta kepada-Nya, lalu Allah memberikan permintaan mereka,’” (HR. Al-Bazzar).
3. Pintu ampunan terbuka
Artinya: “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, Allah memenuhi permintaan mereka dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni mereka,’” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
4. Kesehatan di dunia
Artinya, “Dari sahabat Abu Zarr ra, Nabi Muhammad saw bercerita, ‘Nabi Dawud as pernah berdoa, ‘Tuhanku, apa yang didapat hamba-Mu bila mereka mengunjungi-Mu pada rumah-Mu?’ Allah menjawab, ‘Setiap pengunjung memiliki hak atas yang dikunjungi. Wahai Dawud, sungguh mereka berhak mendapatkan kesembuhan di dunia dan ampunan dari-Ku ketika kelak Kujumpai mereka [di akhirat],’’” (HR. At-Thabrani).
5. Terbebas dari hisab
Artinya: “Dari sayyidah Aisyah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Siapa saja yang keluar berhaji atau umrah melalui jalan ini, lalu meninggal di dalamnya, niscaya ia tidak ditampakkan dan tidak dihisab, lalu dikatakan kepadanya, ‘Masuklah kamu ke surga.’ Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh Allah bangga terhadap orang-orang yang thawaf,’” (HR. At-Thabarani, Abu Ya’la, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi).
6. Jaminan masuk surga
Artinya: “Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Sungguh Ka’bah ini merupakan salah satu tiang Islam. Siapa saja yang berhaji mengunjungi Ka‘bah atau berumrah, maka ia menjadi tanggungan Allah. Jika ia meninggal, maka Allah memasukkannya ke surga. Jika Allah mengembalikannya kepada keluarganya, niscaya Allah memulangkannya dengan pahala dan ghanimah,’” (HR. At-Thabrani).
Keutamaan Ibadah Umrah
Selain pahala dan jaminan yang luar biasa, ibadah umrah juga membawa keutamaan bagi orang yang menunaikannya. Berikut ini beberapa keutamaan ibadah umrah:1. Menyucikan jiwa seorang muslim.
2. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
3. Mengingat perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam.
4. Melihat kesabaran dan kedisiplinan.
5. Mendorong diri rela berkorban serta mengutamakan kepentingan orang lain.
6. Mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT.
Wajib Tahu! 7 Amalan Ini Beri Pahala Berlipat-lipat Selama Ramadan
Ada amalan prioritas di Bulan Ramadan yang wajib diketahui umat muslim. Amalan tersebut bahkan akan diganjar pahala berlipat-lipat di banding melakukannya di bulan... | Halaman Lengkap [905] url asal
#amalan #ganjaran-pahala #keutamaan-ramadan #bulan-suci-ramadan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/02/26 05:15
v/142719/
Ada amalanprioritas di Bulan Ramadan yang wajib dan penting diketahui umat muslim, selain puasa. Amalan tersebut dianjurkan agar mengisi dan melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadannanti menjadi lebih maksimal dan sesuai yang diperintahkan syariat.Dari sekian banyak amal ibadah, sedikitnya ada 7 amalan yang patut menjadi prioritas dan dilaksanakan secara maksimal. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut amalan-amalan di bulan Ramadan:
Amalan-amalan prioritas di bulan Ramadan tersebut antara lain :
1. Qiyamul Lail
Qiyamul Lail merupakan amalan di bulan Ramadan yang memiliki keutamaan tersendiri. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Barang siapa menghidupkan malam bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan penuh harap, maka diampuni dosa yang telah lalu.” (HR Bukhari no 2009)
Qiyamul Lail itu tidak hanya salat tarawih . Qiyamul Lail bisa amalan apa saja yang bernilai ibadah.
Imam Ibnu Abidin menjelaskan dalam kitab Hasyiyah jilid 1 halaman 460, Qiyamul Lail artinya menyibukkan diri di sebagian besar waktu malam dengan aktivitas ketaatan seperti membaca al-Quran, menyimak hadits, bertasbih, atau selawat.
Jadi, amalan apa pun yang berwujud ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala, maka itu sudah termasuk kategori Qiyamul Lail.
2. Tilawah al-Quran
Al-Quran, apabila kita membacanya di luar bulan Ramadan, Allah subhanahu wata’ala menjanjikan pahala yang banyak. Selain itu, al-Quran juga dapat memberi syafaat bagi pembacanya di akhirat kelak.Salah seorang sahabat bernama Abu Umamah al-Bahili pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bacalah Al-Quran, sebab kelak ia akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim No. 804)
Maka, jika pada hari biasa saja membaca al-Quran akan mendapatkan banyak pahala, tentu keutamaan membaca al-Quran di bulan Ramadhan lebih besar lagi dibanding bulan-bulan yang lain.
Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits, suatu ketika Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan aktivitas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama bulan Ramadan.
“Malaikat Jibril selalu mendatangi Nabi di setiap malam selama bulan Ramadhan. Beliau memperdengarkan bacaan al-Quran kepadanya (dan Jibril menyimak).” (HR Bukhari no 6)
3. Sedekah Makanan
Amalan ini paling sering Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerjakan. Sahabat mulia, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma memberi kesaksian tentang sedekah di bulan Ramadan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari nomor 6,“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan di bulan Ramadan, ketika itu Malaikat Jibril selalu mendatangi beliau.”
“Apabila Jibril mendatanginya, beliau lebih giat lagi dalam berderma melebihi angin yang berhembus.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma telah menyifati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sifat juud (dermawan). Dan sifat dermawan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan lebih meningkat dibanding bulan-bulan lainnya.
Tak sampai di situ, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menganalogikan sifat dermawan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan angin yang berhembus (ar-Riih ar-Mursalah). Maknanya, bersegeranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kedermawanan melebihi kecepatan hembusan angin.
Faedah utama yang dapat dipetik dari hadis di atas adalah motivasi untuk semangat berderma dan melakukan amal kebajikan di setiap waktu, dan lebih ditingkatkan lagi intensitasnya di bulan Ramadan.
4. Umrah
Dalam kitab Shahih al-Bukhari, hadis nomor 1690, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan peristiwa wanita Anshar yang tidak ikut berangkat Haji lantaran Kendaraan yang dimiliki hanya cukup ditumpangi oleh suami dan anaknya.Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi petunjuk kepadanya,
“Jika datang bulan Ramadan, laksanakanlah Umrah, karena Umrah di bulan Ramadan bagaikan ibadah Haji.”
5. Menjauhi Ghibah, Namimah, dan Dusta
Puasa bukan hanya ibadah yang sekedar menahan untuk tidak makan dan tidak minum. Namun, puasa juga ibadah yang menahan diri dari seluruh bentuk perkataan dan perbuatan yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, hadis nomor 1804, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR Bukhari No 1804)
Jabir bin Abdullah pernah menasihati, sebagaimana terdapat dalam Riwayat Ibnu Abi Syaibah, dalam kitabnya al-Mushannaf nomor 8880,
“Jika engkau puasa, maka puasakan pendengaran, penglihatan, dan lisanmu dan dusta dan berbagai bentuk dosa. Jangan engkau sakiti pembantumu. Tetap bersikap tenang saat sedang puasa. Jangan engkau anggap sama hari-harimu ketika tidak berpuasa dengan hari-harimu ketika sedang puasa.”
6. Berdoa
Salah satu cara kita memanfaatkan kemuliaan bulan Ramadan adalah dengan memperbanyak doa dan tobat. Keutamaan berdoa di akhir malam lebih besar dari paruh waktu lainnya. Di bulan Ramadan, berdoa di waktu sepuluh hari terakhir juga memiliki keutamaan tersendiri. Karena pada waktu itu terdapat lailatul qadar, malam yang keutamaannya setara dengan seribu bulan.Imam al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahih-nya, hadits nomor 1145, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
“Rabb kita Tabaraka wata’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam, lantas Ia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku maka aku beri, siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku ampuni?’”
7. I’tikaf
I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan amalan di bulan Ramadan yang keutamaannya sangat besar.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan kita, selalu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah ini.
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma memberi kesaksian, sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dalam kitab shahih-nya, hadis nomor 2025, beliau menyampaikan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya melaksanakan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan.”
Demikian amalan-amalan prioritas yang dianjurkan diamalkan pada Bulan Ramadan nanti, selain amalan baik lainnya.
10 Amalan Sunnah di Bulan Ramadan, Menambah Pahala Berlipat-lipat
Ada banyak amalan sunnah yang diganjar pahala berlipat di bulan Ramadan. Amalan ini sayang untuk dilewatkan dan penting diketahui umat Muslim. Amalan-amalan sunnah... | Halaman Lengkap [761] url asal
#amalan-sunnah #ganjaran-pahala #puasa-ramadan #bulan-suci-ramadan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 09/02/26 08:38
v/130062/
Ada banyak amalan sunnahyang diganjar pahala berlipat di bulan Ramadan. Amalan ini sayang untuk dilewatkan dan penting diketahui umat Muslim. Amalan-amalan sunnah apa saja?Seperti diketahui, seluruh amalan di bulan Ramadanpahalanya akan dilipatgandakan, termasuk amalan-amalan sunnah yang ringan sekalipun. Ustaz Farid Nu'man Hasan mengemukakan ada banyak amalan sunnah yang bisa dikerjakan di bulan Ramadan dan ganjaran pahala -nya berlipat ganda. Di antaranya termasuk sunnah qauliyah dan fi'liyah.
Amalan-amalan Sunnah di Bulan Ramadan
1. Makan sahur
Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'laihi wa sallam bersabda: "Bersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan." (HR Al-Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095)Rasulullah SAW juga bersabda:
"Makan sahur adalah berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walau kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah 'Azza wa Jalla dan para malaikat mendoakan orang yang makan sahur. (HR. Ahmad dari Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiallahu 'anhu)
Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah mengatakan: "Sebab keberkahannya adalah karena sahur dapat menguatkan orang yang berpuasa, menggiatkannya, dan membuatnya ringan menjalankannya". (Ibid, 1/456)
2. Tadarus Al-Qur'an dan Mengkhatamkannya
Bulan Ramadan adalah bulan yang amat erat hubungannya dengan Al-Qur'an, karena saat itulah Al-Qur'an diturunkan. Karena itu, tadarus (membaca sekaligus mengkaji) adalah hal yang sangat utama saat itu dan telah menjadi aktivitas utama sejak masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan generasi terbaik.Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma menceritakan:
"Jibril menemuinya pada tiap malam malam bulan Ramadan, dan dia (Jibril) bertadarus Al-Quran bersamanya. (H.R. Bukhari No. 3220)
3. Bersedekah
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mencontohkan akhlak yang luar biasa yaitu kedermawanan. Ketika masuk bulan Ramadan, Beliau kedermawanan beliau seperti angin berhembus. Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, menceritakan:Artinya: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin menjadi-jadi saat Ramadan apalagi ketika Jibril menemuinya. Dan, Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan dia bertadarus Al Quran bersamanya. Maka, Rasulullah benar-benar sangat dermawan dengan kebaikan laksana angin yang berhembus. (HR. Bukhari No. 3220)
4. Memberi Makanan kepada Orang yang Berbuka Puasa
Dari Zaid bin Khalid Al Juhani radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:"Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu. (HR. At Tirmidzi No. 807, Ahmad No. 21676, An Nasai dalam As Sunan Al Kubra No. 3332, Al Baihaqi dalam Syuabul Iman No. 3952).
5. Memperbanyak Doa
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:"Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: (1) Doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka (2). Pemimpin yang adil (3) Doa orang teraniaya". (HR. At Tirmidzi No. 2526, 3598, Ibnu Hibban No. 7387. ishahihkan oleh Imam Al Baihaqi).
6. Menyegerakan Berbuka Puasa
Dari Amru bin Maimun radhiallahu 'anhu:"Para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya". (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7916. Al Faryabi dalam Ash Shiyam No. 52. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9025)
7. Iktikaf di Asyrul Awakhir
Dari Ummul Muknimin 'Aisyah radhiallahu 'anha:"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan Allah, kemudian istri-istrinya pun iktikaf setelah itu". (HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)
8. Qiyam Ramadan (Salat Tarawih dan Salat Malam Lainnya)
Salat Tarawih memiliki keutamaan dan ganjaran yang besar sebagaimana yang disebutkan dalam hadis shahih.Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang salat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu. (HR. Bukhari No. 37, Muslim No. 759)
9. Umrah
Ibadah Umrah ketika bulan Ramadan adalah sebanding pahalanya seperti haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah berkata kepada seorang wanita Anshar bernama Ummu Sinan:"Sesungguhnya umrah ketika bulan Ramadan sama dengan menunaikan haji atau haji bersamaku." (HR. Bukhari No. 1863, Muslim No. 1256)
10. Menjauhi Perbuatan yang Merusak Puasa
Di antara perbuatan yang merusak puasa Ramadan adalah menggunjing (ghibah), adu domba (namimah), menuruti syahwat (rafats), berjudi, dan berbagai perbuatan fasik lainnya. Perbuatan ini mesti dijauhi agar shaum kita tidak sia-sia. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:"Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar saja. (HR. Ahmad No. 9685, Ibnu Majah No. 1690, Ad Darimi No. 2720)
Demikian amalan sunnah-sunnah di bulan suci Ramadan. Semoga kita diberi taufik dan kekuatan agar bisa mengerjakannya.
Ganjaran Pahala Senyum Setara Sedekah, Begini Penjelasannya!
Indahnya Islam, sebuah senyuman yang dianggap remeh ternyata berbuah pahala yang cukup besar. Bahkan ganjarannya disetarakan dengan pahala sedekah. Simak ulasannya... | Halaman Lengkap [464] url asal
#pahala #tersenyum #senyum-adalah-sedekah-yang-gampang #senyum-adalah-ibadah #ganjaran-pahala
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/12/25 10:30
v/77033/
Indahnya Islam, sebuah senyumanyang dianggap remeh ternyata berbuah pahala yang cukup besar.Bahkan ganjarannya disetarakan dengan pahala sedekah. Simak ulasannya berikut:Banyak hal kecil yang dianggap remeh namun bernilai pahala di sisi Allah Ta'ala. Salah satunya menebar senyum dan menampakkan wajah ceria kepada saudaranya.
Islam tidak cuma menekankan ibadahvertikal (hablumminallah), tetapi juga mengajarkan berkasih sayang kepada sasama. Dalam satu hadis yang mahsyur, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda:
Dari Abu Dzar ra berkata, bahwa Nabi SAW bersabda kepadaku: "Janganlah kamu menganggap remeh perbuatan baik sedikitpun, meskipun hanya menampilkan wajah ceria kepada saudaramu (sesama muslim) ketika bertemu." (HR. Muslim, Hadits No 4760).
Menurut Ustaz Rikza Maulan (Direktur Institut for Islamic Studies dan Development Jakarta), amal saleh itu sangat luas jangkauannya dan sangat variatif ragamnya. Tidak semua perbuatan kebaikan itu berat atau sulit untuk dilakukan. Bahkan kebanyakan amal saleh itu justru sangat mudah dan amat ringan untuk dilamalkan, salah satunya 'menampilkan wajah ceria, atau memberikan senyuman terhadap saudara sesama muslim, sebagaimana digambarkan dalam hadis di atas.
"Sekadar memberikan senyuman saja, keutamannya dapat mendatangkan pahala seperti bersedekah. Subhanallah, betapa mulianya ajaran Rasulullah SAW ," kata Ustaz Rikza.
Bahkan dalam riwayat Imam Tirmudzi, Nabi SAW menggambarkannya dengan bahasa (تبسمك) yang artinya, "senyumanmu", yaitu riwayat berikut:
Sari Abu Dzarr RA berkata Rasulullah SAW bersabda: "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah bagimu." (HR. Tirmidzi, Hadits No 1879).
Nabi SAW pun dalam banyak riwayat digambarkan bahwa beliau selalu tersenyum. Dalam sebuah kesempatan, Abdullah bin Mas'ud RA berkata:
"Sungguh aku melihat Rasulullah SAW tersenyum hingga gigi geraham beliau terlihat." (HR. Muslim, Hadis Nno 273).
Dalam riwayat lainnya juga disebutkan, Dari Jarir bin Abdillah RA berkata: "Bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam , dan beliau tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di hadapanku.' (HR. Muslim)
Ada hal yang perlu menjadi catatan kita terkait dengan senyuman, yaitu:
1. Bahwa meskipun kita dianjurkan untuk selalu tersenyum, namun sesungguhnya kita juga dilarang untuk tertawa hingga terbahak-bahak.
Dan Nabi SAW sendiri tidak pernah tertawa hingga terbahak-bahak. Dari Sayyidah Aisyah istri Nabi SAW bahwa ia berkata, "Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, karena biasanya beliau hanya tersenyum." (HR. Muslim, No 1497). Karena tertawa terbahak-bahak berpotensi matikan hati, sebagaimana sabda beliau: "Dan janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa itu akan mematikan hati." (HR. Tirmidzi, hadits No 2227).
2. Hendaknya setiap senyuman dilakukan ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Ta'ala dan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW .
Jangan sampai misalnya, kita tersenyum hanya untuk sekadar menebar pesona, atau untuk menggoda lawan jenis, atau hanya karena SOP dalam pekerjaan semata yang menuntut kita "harus" tersenyum terhadap customer misalnya. Namun senyuman hendaknya dari hati, ikhlas karena Allah dan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW . Insya Allah, senyuman seperti inilah yang akan berbuah pahala seperti bersedekah.
Ucapan Salam yang Tepat dan Ganjaran Pahalanya
Ucapan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh bagi umat muslim menunjukkan identitas diri . Namun dalam pengucapannya ternyata ada etika dan adab kapan... | Halaman Lengkap [596] url asal
#salam #ucapan-salam #ganjaran-pahala-salam #hukum-ucapan-salam-buat-lawan-jenis #keutamaan-salam
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/12/25 09:18
v/71430/
Ucapan salam, atau 'Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh' bagi umat muslim menunjukkan identitas diri . Namun dalam pengucapannya ternyata ada etika dan adabkapan dan di mana yang tepat melakukannya. Karena ucapan salam ini merupakan amalan yang akan mendapat ganjaran pahaladi sisi Allah Subhanahu wa ta'ala.Dari Imran bin Husain Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata: “Pernah datang seseorang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian beliau mengucapkan: ‘Assalamu’alaikum,’ kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab salam orang tersebut dan orang itu duduk. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasSallam bersabda: ‘Sepuluh’.
Kemudian datang orang kedua juga mengucapkan : ‘Assalamu’alaikum warahmatullah,’ maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab seperti apa yang disampaikan oleh orang itu kemudian orang itu duduk. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan: ‘Dua puluh’.
Kemudian datang orang ketiga dan mengatakan: ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,’ maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab salam orang tersebut kemudian orang itu duduk. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: ‘Tiga puluh’.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Makna hadis di atas menurut Ustadz Mubarak Bamualim Lc, MHI, dai yang rutin mengisi kajian di kanal muslim Rodja ini menjelaskkan tentang semakin sempurna salam, maka pahalanya pun semakin banyak. Karenanya sebagai seorang muslim mari kita perhatikan masalah yang seakan-akan ini adalah masalah yang kecil. Tetapi ternyata ucapan salam juga bagian dari upaya mengumpulkan ganjaran pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berikut paparan ceramah lengkapnya:
Ini adalah salam yang diajarkan oleh Islam kepada kita. Ada tiga macam salam. Kalau misalnya seorang mengucapan salam dan yang hadir di depannya adalah orang-orang yang bukan muslim, maka salamnya adalah:
“Salam sejahtera untuk mereka yang mengikuti petunjuk Allah, semoga rahmat Allah pada mereka, dan keberkatan Allah pada mereka.”
Oleh karena itu salam yang ditambah-tambahi dengan salam-salam dari agama yang lainnya, ini bukan tuntunan Islam sama sekali.
Kita jangan mengartikan sebuah toleransi dengan mengikuti cara-cara yang bukan muslim. Seorang muslim mempunyai identitas dan negeri ini mengajarkan kita agar mempunyai identitas. Seorang muslim yang menjalankan agama dan keyakinannya, ini dijamin oleh negara. Maka janganlah kita mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil, antara yang benar dan tidak benar, ini bukan prilaku seorang muslim yang betul-betul beriman kepada Allah dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ini yang harus digaris bawahi dalam tata cara mengucapkan salam. Karena kita melihat realita dan bukan sekadar fenomena, seorang muslim mengucapkan salam berbagai macam salam. Hal ini karena di depannya ada sebagian orang lain yang bukan muslim. Ikutilah cara-cara yang diajarkan Islam. Toh semua mengerti bahwa hal ini dalam rangka menjalankan keyakinan kita yang dijamin oleh undang-undang.
Kita semua akan mati dan bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara orang-orang yang melakukannya itu karena ketidaktahuannya walaupun mungkin dia seorang yang mempunyai jabatan, tetapi bisa jadi tidak paham tentang tuntunan agama Allah dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka marilah, kita sebagai warga masyarakat di negeri ini, masing-masing membawa identitasnya. Seorang muslim mempunyai identitas, seorang yang bukan muslim juga punya identitas, tidak usah dicampuradukkan antara hal-hal yang memang tidak diajarkan oleh agama kita.
Jadi kita mengucapkan salam sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam dan dilakukan oleh kaum muslimin, kemudian juga pemimpin-pemimpin negeri ini yang sebelumnya juga menyampaikan salam sesuai dengan agama masing-masing, maka ikutilah contoh-contoh yang baik dari mereka. Jangan kita membuat hal-hal yang baru di dalam kita bermasyarakat, khususnya berkaitan dengan agama.
InsyaAllah semua bisa memahami dan mengerti. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Bagi kalian agama kalian, bagi aku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
Wallahu A'lam
Adakah Pahala Bagi Orang yang Diselingkuhi? Begini Jawaban Gus Baha
Dalam perselingkuhan, biasanya korban paling banyak dialami seorang istri. Lantas adakah pahala bagi seorang istri yang diselingkuhi suaminya? Adakah pahala bagi... | Halaman Lengkap [421] url asal
#hukuman-selingkuh #selingkuhan #tausiyah-gus-baha #ganjaran-pahala #perselingkuhan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 27/11/25 11:30
v/52206/
Adakah pahalabagi orang yang diselingkuhi? Berikut penjelasan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau biasa disapa dengan Gus BahaDalam perselingkuhan, biasanya korban paling banyak dialami seorang istri. Lantas adakah pahala bagi seorang istri yang diselingkuhi suaminya?
Gus Baha memberikan nasihat khusus kepada istri yang diselingkuhi ini. Dinukil dari tayangan di kanal YouTube Santri Kiyai, berikut penjelasan Gus Baha tentang hal tersebut.
Gus Baha bercerita ketika kedatangan seorang wanita yang ditinggal selingkuh oleh suaminya yang berada di Malaysia. Kemudian sang wanita itu meminta pendapat kepada Gus Baha apa yang harus ia lakukan. Berikut kutipan dialognya:
"Gus, saya punya suami katanya di Malaysia menikah lagi. Itu menurut hukum Islam bagiamana? Daripada seperti ini saya juga harus menikah lagi. Tapi kata hukum islam yang suami menikah lagi tidak perlu iddah. Nah kalau saya menikah lagi harus diceraikan, itu bagaimana menurutmu gus?", ucap wanita tersebut kepada Gus Baha
"Hukum islam kalau disandingkan dengan hukum sosial memang ruwet", ucap Gus Baha.
"Nikah d isana (Malaysia) kan sah. Seorang suami menikah lagi di sana sah. Paling ia dianggap poligami saja. Si istri kalau belum diceraikan kan ndak bisa menikah lagi, padahal ia sakit hati ingin posisi diceraikan",ungkap Gus Baha
"Nah prosedur standar KUA misalnya disuruh rafa atau apa itu macam-macam. Nah terus menurut jenengan bagaimana gus," tanya si wanita itu lagi.
"Saya kasih tahu. Minta jawaban model ulama atau model sosial? Kalau model ulama saya jawab",ungkap Gus Baha.
"Kamu kalau tidak diceraikan tidak bisa menikah lagi . Kalau diceraikan harus menunggu iddah selesai baru bisa",
"Suami saya tidak mau ceraikan saya", ucap si istri.
"Kamu saya tanya, kamu inginnya cerai atau tidak itu inginnya kamu apa?" Tanya Gus Baha.
"Saya kan kalau diceraikan kan nasib saya jelas Gus, bisa menikah lagi", tegas Si istri.
"Kalau kamu ingin nasibmu jelas, saya ajari tapi harus percaya saya", ujar Gus Baha.
"Itu ndak usah nunggu menikah lagi, ndak usah menunggu diceraikan. Sekarang juga kamu yakin rahmatnya Allah",
"Kamu itu ditelantarkan suami kamu jadi amalmu, jadi pahalamu. Kamu menderita di dzolimi juga jadi amalmu, jadi ladang pahalamu. Mulai sekarang nikmati aja dulu sampai menunggu keadaan. Mulai sekarang kamu orang baik karena didzolimi suamimu. Kamu ndak usah tamak berharap diceraikan lalu nikah dengan orang lain seperti itu belum pasti",
"Sekarang yang menelantarkanmu baru satu, kalau kamu berharap dinikahi orang lain ditelantarkan lagi, malah jadi dua orang yang menelantarkan kamu. Semua itu belum tentu terbaik untuk kamu. Yang pasti sudah menjadi yang terbaik, kamu sebagai mukminat harus iman kalau semua kehendak Allah, kalau kamu sabar kamu dapat pahala"jawab Gus Baha.
11 Amalan Sebelum Tidur yang Pahalanya Bisa Penghapus Dosa
Melakukan amalan sebelum tidur untuk menambah pahala dan menghapus dosa-dosa. Amalan sebelum tidur ini menjadi ibadah sunah bagi umat Islam yang sangat dianjurkan... | Halaman Lengkap [680] url asal
#amalan #amalan-sebelum-tidur #amalan-penghapus-dosa #ganjaran-pahala
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 09/11/25 20:45
v/32944/
Melakukan amalan sebelum tiduruntuk menambah pahala dan menghapus dosa-dosa. Amalan sebelum tidur ini menjadi ibadah sunah bagi umat Islam yang sangat dianjurkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.Ketika hendak tidur, kita dianjurkan selalu berdoa, agar pada saat kita tidur terhindar dari gangguan dan godaan setan , dari mara bahaya maupun dari gangguan binatang yang membahayakan . Bersyukur Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang. Sebesar dan sebanyak apa pun dosa dan khilaf yang pernah kita lakukan, jika menyesali, tak mengulangi dan bertaubat, sungguh pengampunan-Nya amat luar biasa.
Ketika hendak tidur, kita tidak tahu akan datangnya kematian. Sebagai manusia yang tak pernah luput dari dosa, baik dosa yang kecil maupun yang besar, maka kita pun dianjurkan bertaubat. Kita tidak pernah tahu bagaimana nasib manusia ketika istirahat dengan keadaan tidur tersebut. Bahkan, tak jarang ada seseorang yang wafat ketika tidur.
Jadi, ada baiknya kita melakukan amalan sebelum tiduryang biasa dilakukan Rasulullah SAW. Melakukan amalan juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Ta'ala. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut amalan sebelum tidur yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:
1. Menjaga wudu
Sebelum tidur, hendaknya kita berwudu selayaknya akan melakukan salat. “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan salat.” (HR.Bukhari dan Muslim).2. Membersihkan tempat tidur
Membersihlan tempat tidur juga merupakan amalan tidur yang sangat sederhana dan mudah dilakukan setiap saat.“Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya…” (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Membaca doa
Membaca doa sebelum tidur merupakan amalan yang bisa menambah pahala dan keberkahan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari)
4. Membaca surat Al-Ikhlas
Amalan sebelum tidur yang memiliki pahala yang terhingga adalah membaca surat al-ikhlas. “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat al-Ikhlas itu senilai sepertiga al-Quran.” (HR. Bukhari dan Ahmad).5. Membaca Selawat
Kita hendaknya membaca selawat ketika hendak tidur. Membaca selawat akan mendapatkan syafaat di hari akhir nanti. “Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.” (HR Tirmidzi).6. Membaca Tasbih
Rasulullah bersabda, “Siapa yang membaca subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha ilallah huwallahu akbar, ia dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah.”7. Perbanyak Zikir
Memperbanyak zikir menjadi kebiasaan amalan Rasululah sebelum tidur. Bacaan ini akan membuat hati lebih tenang, sesuai dengan firman Allah, “Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub (hanya dengan mengingati Allah, hati menjadi tenteram).” (QS Ar-Ra”du ayat 28).8. Membaca Ayat Kursi
Membaca ayat kursi akan menjaga tidur tetap nyenyak. “Jika engkau mendatangi tempat tidur (di malam hari), maka bacalah ayat kursi. Niscaya Allah akan selalu menjagamu dan setan pun tidak akan mengganggu tidurmu hingga pagi tiba.” (HR Al-Bukhari).9. Membaca 2 Ayat Terakhir QS. Al-Baqarah
Amalan sebelum tidur yang satu ini akan diberikn kecukupan bagi kamu yang berserah diri pada Allah SWT. “Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari)10. Istighfar
Beristigfar dan memohon ampun pada Allah SWT merupakan amalan yang bisa membuat hati tenang. Selain itu, sebagai amalan penghapus dosa yang telah dilakukan.Dari Aisyah radhiyallahu'anha, Rasulullah SAW terbiasa membaca istighfar. “Rasulullah banyak membaca: Subhanallah wa bihamdihi, astagfirullah wa atubu ilaihi, (Mahasuci Allah dengan segala pujinya, aku memohon ampun kepada Allah) sebelum tidur.” (HR Bukhari, Muslim)
11. Salat Witir
Kebiasaan Rasululah sebelum tidur berikutnya adalah melakukan salat witir yang ganjil. Salat witir bisa ditunaikan dengan satu rakaat, tiga rakaat dan seterusnya. “Kekasihku (Muhammad SAW) mewasiatkan kepadaku tiga hal yang tidak akan aku tinggalkan selama hidupku, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, salat dhuha, dan salat witir sebelum tidur.” (HR Bukhari).Wallahu A'lam
Kisah Hikmah : Antara Niat dan Catatan Amal
Kisah ini bercerita tentang niat dan catatan amal seseorang. Inspiratif dan banyak hikmah serta pembelajaran hidup bagi orang yang beriman. Kisah hikmah ini bercerita... | Halaman Lengkap [604] url asal
#kisah-hikmah #niat #tabungan-amal #ganjaran-pahala #buku-catatan-amal
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 08/11/25 14:26
v/32154/
Kisah hikmah ini bercerita tentang niat dan catatan amal seseorang. Inspiratif dan banyak hikmah serta pembelajaran hidup bagi orang yang beriman.Ustadz Ahmad Muntaha AM menjelaskan, kisah ini tentang orang yang awalnya menolak buku catatan amal-nya sendiri gegara dianggap terlalu baik, tidak sesuai dengan amal sebenarnya. "Namun ia mendapatkan ganjaran pahalabesar sebab niatnya,"ungkapnya seperti dilansir NU online,
Sebagian sumber kisah ini dihikayatkan oleh Abul Aliyah (wafat 93 H), seorang ulama besar generasi Tabiin. Sementara Syekh Muhammad bin Abdillah Al-Jurdani (wafat 1333 H) dalam Kitab Al-Jawahirul Lu'lu'iyah menyebutkannya dengan redaksi: “wa qiila”, dan dikatakan, tanpa menyebutkan siapa yang mengisahkannya.
Alkisah, pada hari kiamat, ada orang yang diberi catatan amalnya dan menerimanya dengan tangan kanan. Tentu ini pertanda baik. Pertanda ia termasuk ahli surga. Namun setelah melihat catatan amalnya, ia justru kaget. Di situ tercatat amal-amal saleh berupa haji, jihad, dan sedekah, padahal ia tidak merasa pernah melakukannya di saat hidupnya.
“’Hadzā laisa bi kitābī, fainnī mā fa'altu syai'an min dzalika.’ Ini bukan buku catatan amalku, sebab sungguh aku sama sekali tidak pernah melakukan amal saleh itu sedikitpun,” gumamnya penuh kekagetan.
Ia sangat tidak percaya dengan data di dalam buku catatan amalnya. Terlalu bagus dan mengada-ada. Di tengah kesangsian atas buku catatan amal yang baru diterimanya itu, Allah memberi jawaban kepadanya: “Ini adalah buku catatan amalmu. Karena kamu telah hidup dengan umur panjang dan kamu pernah berkata:
'Andaikan aku punya harta, maka aku akan beribadah haji dengannya. Andaikan aku punya harta, maka aku akan menyedekahkannya'. Jadi aku mengetahui keinginanmu itu dari kebenaran niatmu, dan aku berikan kepadamu seluruh pahalanya.” (Muhammad bin Abdillah Al-Jurdani, Al-Jawahirul Lu'lu'iyah fi Syarhil Arba'in An-Nawawiyah, [Beirut Darul Kutub Al-'Ilmiyah: 2021], halaman 50).
Pernyataan Ibnul Arabi Dalam Kitab Mishbahuz Zhalam, sebelum menceritakan kisah ini Syekh Muhammad Al-Jurdani menyebutkan pernyataan Ibnul Arabi: “Bila niat dan harapan seorang hamba di dunia adalah Allah memberinya kesempatan melakukan seluruh ketaatan dan kekuatan untuk selalu melakukannya, namun pertolongan Allah tidak membuatnya mampu melakukannya, maka Allah akan memberikan balasannya di surga.
Karenanya ia akan mendapatkan harapannya itu di surga. Kemudian dalam derajat akhirat ia akan menyusul orang-orang yang telah melakukannya, tanpa kepayahan dalam melakukan di dunia.” (Muhammad bin Abdillah Al-Jurdani, Mishbahuz Zhalam Syarhu Nailil Maram min Ahaditsil Anam, [Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah], halaman 17).
Hadis Nabi saw tentang Keistimewaan Niat Kisah-kisah di atas berkesesuaian dengan hadits Nabi Muhammad saw yang menjelaskan bahwa seorang hamba akan diberi pahala sesuai niatnya
Di antaranya sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam:
Artinya,“Sungguh seorang hamba melakukan banyak amal kebaikan, lalu malaikat naik membawa catatan amal yang telah distempel. Kemudian menyampaikannya ke hadapan Allah Ta'ala. Laluu Allah berkat: 'Buanglah catatan amal ini, karena pemiliknya tidak melakukan amal-amal yang ada di dalamnya ikhlah karena-Ku.' Lalu Allah menyeru kepada malaikat: 'Kalian tulislah untuknya amal ini dan ini. Kalian tulislah untuknya amal ini dan ini.' Lalu malaikat berkata: 'Wahai Tuhan kami, sungguh ia tidak melakukan amal itu sama sekali.' Lalu Allah Ta'ala menjawab: 'Sungguh ia telah meniatkannya,'” (HR Ad-Daraquthni, dari sahabat Anas dengan sanad hasan). (Al-'Iraqi, Takhrij Ahaditsil Ihya', juz IX, halaman 203).
Pelajaran Hikmah
Hadis dan uraian di atas dapat diambil inspirasi dan hikmahnya, yaitu begitu pentingnya niat melakukan amal kebaikan, meskipun sepintas mustahil dilakukan karena di luar dari jangkauan. Seperti melakukan ibadah haji, berderma dengan harta dan semisalnya yang kadang tidak mampu dilakukan oleh sebagian orang. Meskipun di dunia belum mampu melakukannya karena keterbatasan, dengan niat dan harapan yang sungguh-sungguh, orang akan mendapatkan pahalanya di akhirat kelak. Wallahu a'lam.
Pengin Amalan Menjadi Ladang Pahala? Kenali Dulu Hukum-hukumnya!
Pengin setiap amalan yang kita lakukan mendapat pahala dan keberkahan? Untuk meriah hal tersebut, kaum Muslim perlu mengenali terlebh dahulu hukum-hukumnya. Hukum... | Halaman Lengkap [721] url asal
#amalan #amal-saleh #pahala #tabungan-amal #ganjaran-pahala
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 08/11/25 12:30
v/32089/
Pengin setiap amalanyang kita lakukan mendapat ganjaran pahaladan keberkahan? Untuk meriah hal tersebut, kaum Muslim perlu mengenali terlebh dahulu hukum-hukumnya. Hukum apa itu dan bagaimana dalilnya?Dalam Islam, setiap amal perbuatanmanusia di dunia akan mendapat ganjaran pahala.Amal baik akan mendapat ganjaran pahala yang baik, sebaliknya amal yang buruk akan mendapat ganjaran buruk atas perbuatannya. Dalam Al Qur'an Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa Ia menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji para hamba siapa yang paling baik amalnya, sehingga terlihat siapakah yang layak masuk surga dan siapakah yang layak untuk diseret ke jurang neraka.
Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Mulk ayat 2,
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS Al Mulk : 2)
Dari ayat ini terlihat jelas bahwa Allah memiliki tujuan dalam menciptakan kehidupan dan kematian, yaitu untuk menguji siapa yang paling baik amalnya di antara para hamba. Karena itu, kita harus senantiasa meningkatkan amal baik.
Ustaz Amir Sahidin MAg, Pengajar PPTQ Ibnu Mas’ud, Purbalingga dalam tulisan ceramahnya menjelaskan, agar seseorang mendapat pahala dan keberkahan atas setiap amalan yang dilakukan dan rencana yang dibuat, maka setidaknya ada tiga hukum yang harus dipatuhi oleh setiap muslim. Tiga hukum tersebut yaitu
1. Hukum syar’i, berupa kehalalan atau keharaman;
2. Hukum siyasi, berupa kemaslahatan atau kemudaratan;
3. Hukum realitas, berupa kepastian mungkin atau tidak mungkin.
Tiga hukum ini merupakan perkara wajib yang harus diketahui oleh seseorang agar amalnya diterima dan diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Berikut penjelasannya:
1. Hukum syar’i
Hendaknya seseorang sebelum melakukan suatu amalan, ia mencari hukum syar’i amalan tersebut. Demikian itu karena perkara yang halal telah jelas dalam Islam dan yang haram pun sudah jelas dalam Islam.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas, dan perkara yang haram telah jelas.”(HR Muslim no 1599)
Selain itu, Allah adalah Zat Yang Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik pula,"(HR Muslim 1015)
Untuk itulah hendaknya seseorang bertanya pada dirinya: Apakah amalan yang hendak ia kerjakan itu hukumnya halal atau haram?
Jika ia tidak mengetahuinya, maka ia wajib mengamalkan firman Allah Ta’ala dalam surat al-Anbiya’ ayat 7,
“Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.”(QS al Anbiya : 7)
Seseorang yang belum mengetahui hukum suatu amalan yang akan ia kerjakan, wajib untuk menanyakannya pada orang yang terpercaya secara keilmuan syariat dan waqi’/kondisi, serta terpercaya agamanya.
2. Hukum Siyasi
Hendaknya seseorang memperhatikan dan memikirkan, sejauh ilmu yang ia miliki, konsekuensi yang akan diterima dari suatu perbuatan yang hendak ia kerjakan. Apakah perbuatan itu berfaedah untuk kemaslahatan diri dan umat, atau justru membahayakannya?Hal ini merupakan perkara yang lebih sulit dari hukum sebelumnya, karena berkaitan dengan ruwetnya masalah maslahat dan mudarat. Demikian karena tidak cukup hanya melihat lahiriah hukumnya halal atau mubah hingga ketika dikerjakan pun mengandung konsekuensi demikian.
Sebab jika suatu amalan diketahui—setelah melalui pertimbangan siyasah, kondisi real dan pandangan orang yang berpengalaman—mengandung mudarat yang setara atau lebih besar dari maslahatnya, maka melaksanakannya pun menjadi haram.
Hal ini berdasarkan kaidah fikih yang berbunyi ‘Tidak boleh mendatangkan bahaya dan menolak bahaya dengan bahaya lainnya’.
Dengan demikian, bagi yang tidak mengetahui masalah ini, ia wajib mengembalikan perkaranya pada orang yang terpercaya dalam masalah keilmuan, terutama ilmu siyasah dan waqi’/realitas dari orang yang terpercaya agamanya.
3. Hukum Realitas
Termasuk perkara yang sangat penting setelah mengetahui hukum syar’i dan siyasi adalah memperhatikan kemungkinan tercapainya amalan tersebut. Ini merupakan perkara yang sangat penting dan utama, sehingga amalan yang sudah diketahui kehalalan dan kemaslahatannya akan dapat tercapai dengan pertimbangan kemungkinan dapat direalisasikannya.Siapa saja yang mampu melaksanakannya, maka mereka inilah orang-orang yang memiliki azam kuat untuk melaksanakannya. Terlebih jika ia telah bermusyawarah terlebih dahulu dengan orang yang berpengalaman dan terpercaya.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qashash ayat 26,
“Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”
Untuk itulah, setiap manusia tidak mungkin sukses dalam melakukan suatu amalan kecuali dengan mengambil tiga ketetapan hukum tersebut. Yaitu hukum syar’i, siyasah kemaslahatan, dan realitas kemungkinan. Dengan demikian, amal perbuatan yang kita lakukan merupakan amalan yang halal, bermaslahat, dan dapat direalisasikan. Wallahu A'lam
7 Perkara yang Dapat Membatalkan Pahala Amal, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Ada beberapa perkara yang dapat membatalkan pahala amal yang penting diketahui. Perkara apa saja itu dan bagaimana penjelasannya dalilnya? Ada beberapa perkara... | Halaman Lengkap [886] url asal
#pahala #pahala-amal-saleh #perkara-yang-menghancurkan-amal #ganjaran-pahala
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 08/11/25 10:47
v/32020/
Ada beberapa perkara yang dapat membatalkanpahala amalyang penting diketahui. Perkara apa saja itu dan bagaimana penjelasannya dalilnya?Dalam Islam, amal ibadahyang kita lakukan bisa batal, artinya bisa gugur dan terhapus. Tentu saja hal ini akan merugikan kita di dunia maupun di akhirat. Kita rugi karena kita tidak mendapat padahal Allah Subhanahu w Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan amalan soleh dengan penuh ketaatan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi." (QS. Az-Zumar : 65)
7 Perkara yang Membatalkan Pahala Amal
1. Perbuatan syirik
Jadi, di antara yang akan membatalkan keimanan adalah berbuat syirik atau menyekutukan Allah. Kalau syirik, tidak saja amal yang batal. Bahkan keislaman dan keimanan pun juga otomatis batal jika berbuat syirik.Menurut Syaikh Abdul Azis bin Muhammad bin Ali al-Abdul Lathif, dalam kitabnya Nawaqid al Iman Al Qauliyah wa Al Amaliyah menyebutkan bahwa semua muslim wajib mengenakan Allah semata. Tidak boleh meyakini ada yang selain Allah Subhanahu wa Ta'ala yang disembah, diyakini bisa memberi manfaat dan mudharat, yang diyakini berkuasa atas sesuatu yang belum terjadi.
Tidak boleh ada yang selain Allah yang bisa membuat seseorang bahagia atau bersedih. Semuanya harus diyakini kehendak Allah Ta'ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Wajib memberikan seluruh bentuk amal ibadah kepada Allah Ta'ala semata.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."
(QS. Al-Baqarah : 163)
2. Murtad
Penyebab pembatal amalan yang lainnya adalah keluar dari agama Islam (murtad). Jika seseorang sudah murtad maka amal ibadahnya terdahulu menjadi batal.Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"... Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.""
(QS. Al-Baqarah : 217)
Seorang ahli malam, mufasir, dan ahli fikih bernama Muhammad bin Ahmad asy-Syarbini yang wafat tahun 977 H, mendefinisikan murtad adalah memutus Islam dengan niat (sengaja), dengan ucapan atau perbuatan, baik dia mengucapkan dengan maksud menghina syariat Islam atau mengingkari hukum hukum Islam.
3. Nifaq dan riya'
Makna nifaq adalah seseorang menampakkan kebaikan, padahal dia menyembunyikan keburukan, baik berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan) ataupun berkaitan dengan amal perbuatan. Dia membenci kebaikan Islam namun dia tampil seolah-olah baik kepada Islam.Sedangkan riya' adalah seseorang beramal shalih kepada Allah Ta’ala, akan tetapi dia ingin dilihat dan ingin dipuji manusia. Dia memperbagus amalnya, atau melakukan suatu amal dengan kualitas yang lebih baik, namun tujuannya mengharapkan pujian manusia dengan amalnya tersebut.
Keduanya bisa membatalkan amal Shalih karena menyimpang dari tuntutan ibadah yang seharusnya murni karena Allah Ta'ala semata. Riya’ adalah salah satu ciri dari ciri-ciri orang munafik.
Allah Ta’ala berfirman :
"Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa' : 142)
4. Mendatangi dukun, peramal dan sejenisnya
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun dan mempercayai ucapannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap (syariat) yang diturunkan kepada Muhammad. (Hadis Shahîh, al-Jâmi` ash-Shaghîr)
Dalam lafazh lain, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Barangsiapa mendatangi peramal, kemudian dia bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidaklah diterima shalatnya sepanjang empat puluh hari. (HR. Muslim)
5. Durhaka terhadap kedua orang tua
Seperti mengungkit-ungkit sedekah yang diberikan, mendustakan takdir, adalah termasuk perkara yang membatalkan amal Shalih.Pelaku tiga perbuatan ini diancam dengan gugurnya pahala amalan yang mereka kerjakan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Ada tiga golongan manusia yang Allâh tidak akan menerima dari mereka amalan wajib (fardhu), dan tidak pula amalan sunnat (nafilah) mereka pada hari Kiamat kelak; seorang yang durhaka kepada orang tuanya, seorang yang menyebut-nyebut sedekah pemberiannya, dan seorang yang mendustakan takdir. (Hadis Shahîh, al-Jâmi` ash-Shaghîr)
6. Pecandu khamer (minuman keras)
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa minum khamer, tidak diterima shalatnya empat puluh hari, jika dia bertaubat maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuninya. Jika dia mengulanginya, tidaklah diterima shalatnya empat puluh hari, jika dia bertaubat maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuninya. Jika dia mengulanginya tidaklah diterima shalatnya empat puluh hari, jika dia bertaubat maka Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuninya. Jika dia mengulangi lagi ke empat kalinya tidaklah Allâh Subhanahu wa Ta’ala menerima shalatnya empat puluh hari, jika dia bertaubat Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima taubatnya, dan kelak Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan memberikannya minum dari sungai khabal”. Wahai Abu ‘Abdirrahmân, apa itu sungai khabal? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sungai (berisi) nanah penduduk neraka”. ( HR at-Tirmidzi)7. Kedurhakaan isteri kepada suaminya yang shalih
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada tiga golongan manusia, shalat mereka tidak melampaui telinga mereka; budak yang kabur dari majikannya sampai dia kembali, seorang isteri yang melewati malam hari dalam keadaan suaminya murka kepadanya, seorang imam bagi sekelompok kaum padahal mereka membencinya”. ( HR at-Tirmidzi)#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56