Bisnis.com, JAKARTA — PT Data Sinergitama Jaya Tbk. (ELIT) atau Elitery, emiten penyedia layanan managed services dan solusi cloud, menargetkan pertumbuhan kinerja pada 2026 seiring dengan langkah ekspansi ke pasar Malaysia hingga Eropa. Untuk mengoptimalkan laba, perseroan juga mengincar proyek dengan margin tinggi.
Pada 2026, ELIT mencanangkan pendapatan Rp470 miliar dan laba bersih Rp47 miliar. Target tersebut meningkat dari realisasi Rp462 miliar dan Rp34 miliar pada 2025.
Direktur Utama ELIT, Kresna Adiprawira, mengatakan perseroan berkomitmen memperluas jangkauan bisnis internasional sekaligus memperkuat posisinya sebagai perusahaan teknologi asal Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global.
Sebagai langkah awal, ELIT telah memperluas kehadiran di Malaysia melalui Elitery Global Technology Sdn. Bhd. dan tengah menjajaki peluang kerja sama untuk membuka pasar di kawasan Eropa Barat. Diharapkan pasar global berkontribusi sekitar 15% dari total pendapatan 2026.
"Kami sekarang sedang berbicara dengan beberapa calon mitra di Eropa Barat. Dari kunjungan yang kami lakukan awal tahun ini, kami melihat ada kebutuhan yang besar terhadap tenaga kerja di bidang cloud dan cybersecurity," ujar Kresna dalam Paparan Publik, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, sejumlah perusahaan di Eropa menghadapi kesulitan mencari sumber daya manusia untuk mendukung operasional layanan cloud dan keamanan siber. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Elitery untuk menawarkan layanan berbasis talenta Indonesia.
Dia menjelaskan model bisnis yang disiapkan adalah memanfaatkan keunggulan biaya melalui skema delivery center di Indonesia dan Malaysia, sementara fungsi penjualan dan pengembangan pasar dilakukan di Eropa.
"Semua service delivery akan kami lakukan dari Indonesia dan atau Malaysia. Sementara di Eropa fokusnya untuk sales dan solution architecting. Dengan pendapatan dalam euro dan biaya operasional berbasis rupiah, terdapat peluang efisiensi yang cukup menarik," katanya.
Kresna menambahkan saat ini perseroan telah mencapai kesepahaman prinsip dengan sejumlah calon mitra di Eropa, meski kerja sama tersebut belum dapat diumumkan karena masih dalam tahap finalisasi.
Selain ekspansi geografis, ELIT juga mengandalkan pertumbuhan bisnis dari meningkatnya kebutuhan layanan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), cloud computing, dan keamanan siber.
Perseroan mengembangkan sejumlah platform AI seperti Elipedia dan Elitementor, serta memperkuat layanan keamanan siber proaktif. Elitery juga mengantongi sertifikasi Google Cloud Managed Service Provider (MSP) dan Managed Security Services Provider (MSSP), serta meraih AWS Migration Competency Designation pada awal 2026.
"Inovasi teknologi, terutama di bidang cybersecurity dan AI, serta ekspansi regional merupakan fokus utama kami di masa depan. Elitery berkomitmen untuk terus bertumbuh sebagai perusahaan teknologi asal Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global, khususnya di kawasan Asia dan Eropa," ujar Kresna.
Pada 2025, Elitery mencatat pertumbuhan laba bersih 30,35% secara tahunan menjadi Rp33,72 miliar. Laba kotor naik 7,69% menjadi Rp124,33 miliar, sementara EBITDA meningkat 17,49% menjadi Rp68,69 miliar.
Peningkatan profitabilitas tersebut tercermin dari gross profit margin (GPM) yang naik dari 24,14% menjadi 26,86%, ditopang oleh kontribusi layanan bernilai tambah tinggi seperti solusi cloud, managed services, serta keamanan siber. Diharapkan pada 2026 GPM meningkat menjadi 30%.
Menurut Kresna, Elitery berfokus kepada proyek dengan margin tinggi. Dengan demikian, perseroan dapat meraup laba lebih besar.
Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), pemegang saham juga menyetujui usulan perseroan untuk tidak membagikan dividen dari laba tahun buku 2025. Keputusan itu diambil untuk mendukung kebutuhan ekspansi bisnis dan menjaga fleksibilitas keuangan di tengah potensi gejolak ekonomi global.