Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pengelola jaringan Guardian dan IKEA, PT DFI Retail Nusantara Tbk. (HERO) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis sepanjang 2026.
Perseroan akan mempercepat ekspansi jaringan Guardian melalui skema lisensi dan waralaba, sekaligus memperkuat kanal digital IKEA di tengah tantangan daya beli dan ketidakpastian ekonomi.
President Director DFI Retail Nusantara Hadrianus Wahyu Trikusumo mengatakan belum dapat memberikan proyeksi kinerja keuangan secara rinci untuk sepanjang 2026.
Namun, perseroan memastikan realisasi bisnis hingga kuartal I/2026 serta pencapaian Guardian dan IKEA pada paruh pertama tahun ini masih berada di jalur yang sesuai dengan target internal.
"Full year kami belum bisa memberikan prediksi. Namun sejauh ini hasil kuartal I dan pencapaian Guardian maupun IKEA hingga Mei masih baik dan on track sesuai target yang telah kami tetapkan," ujarnya dalam Public Expose yang dikutip, Selasa (30/6/2026).
Hadrianus memaparkan untuk Guardian, perseroan tengah mempersiapkan ekspansi melalui model waralaba. Namun, karena proses sertifikasi waralaba masih berlangsung, perusahaan untuk sementara menggunakan skema lisensi bisnis sebagai langkah awal memperluas jaringan toko.
Selain melalui lisensi, HERO juga tetap melanjutkan pembukaan gerai Guardian milik sendiri dengan menyasar pusat-pusat perbelanjaan baru di lokasi strategis yang sesuai dengan kriteria perseroan.
Head of Finance Guardian Indonesia Melia Asmita mengatakan strategi pertumbuhan Guardian pada tahun ini berfokus pada peningkatan aksesibilitas dan kepercayaan pelanggan.
Pihaknya berencana memperbanyak peluncuran produk kecantikan lokal dari pelaku UMKM. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas pilihan produk sekaligus mendekatkan merek-merek lokal kepada konsumen.
"Kami berkomitmen untuk menghadirkan solusi kesehatan dan kecantikan yang semakin mudah dijangkau melalui ekosistem omnichannel yang kuat, produk-produk terpercaya, serta berbagai inisiatif yang mendukung gaya hidup sehat," jelasnya.
Sementara itu, strategi yang diterapkan perseroan untuk pertumbuhan kinerja IKEA berbeda.
Hadrianus memilih mengoptimalkan kanal digital dibandingkan membuka toko fisik baru. Dia menilai ukuran gerai IKEA yang besar membutuhkan investasi dan biaya operasional yang tinggi sehingga perusahaan lebih memprioritaskan peningkatan produktivitas toko yang telah beroperasi.
"Store IKEA ukurannya besar sehingga biaya operasionalnya juga besar. Karena itu kami fokus meningkatkan performa toko yang ada, sedangkan ekspansi lebih diarahkan ke kanal online," ujarnya.
Untuk lini bisnis IKEA, perusahaan telah menyiapkan tiga fokus utama pada semester II/2026.
Pertama, melanjutkan investasi pada infrastruktur dan peningkatan pengalaman pelanggan yang telah dimulai sejak tahun lalu.
Kedua, mengincar segmen konsumen dengan nilai transaksi tinggi. Di tengah tren pelemahan daya beli secara global, perusahaan melihat masih terdapat peluang dari pelanggan yang melakukan pembelian dalam nominal besar meski frekuensi transaksi cenderung menurun.
"Secara keseluruhan basket size memang mengalami penurunan. Namun masih ada pelanggan yang melakukan pembelian dengan nilai cukup tinggi dan itu akan menjadi target kami ke depan," katanya.
Ketiga, mempercepat pengembangan bisnis IKEA for Business, yakni divisi yang melayani kebutuhan pelanggan korporasi seperti apartemen, pengembang perumahan, hingga perkantoran.
Menurutnya permintaan dari segmen business to business (B2B) menunjukkan pertumbuhan yang kuat dalam dua tahun terakhir dan dinilai masih memiliki prospek yang menjanjikan.
"IKEA for Business menjadi salah satu area yang pertumbuhannya cukup baik. Ke depan kami akan terus mengembangkan segmen ini karena peluangnya masih sangat besar," ujarnya.
Menilik kinerja keuangan HERO pada kuartal I/2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,4 triliun atau tumbuh 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,21 triliun. Sementara itu, per kuartal I/2026, HERO membukukan laba bersih senilai Rp87 miliar. Naik bila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp27,1 miliar.
Meski demikian, HERO juga mengakui kondisi ekonomi saat ini masih memberikan tekanan terhadap industri ritel, terutama akibat kenaikan harga sejumlah bahan baku yang berdampak pada biaya operasional.