Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan kurs rupiah yang mencapai Rp18.000 per dolar AS mulai membayangi industri telekomunikasi. Biaya bahan baku serat optik meningkat yang berisiko mendongkrak harga layanan internet rumah.
Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) memperkirakan harga kabel fiber optik, perangkat jaringan, hingga peralatan pendukung telekomunikasi berpotensi mengalami penyesuaian seiring meningkatnya biaya impor.
Komponen yang berpotensi mengalami kenaikan biaya antara lain kabel fiber optik (FO), aksesoris jaringan FO seperti patch cord (kabel penghubung), splitter (pembagi sinyal optik), closure (pelindung sambungan kabel fiber optik), dan drop core (kabel distribusi ke pelanggan). Selain itu, terdapat perangkat aktif seperti Optical Line Terminal (OLT), Optical Network Terminal (ONT) atau Optical Network Unit (ONU), Optical Distribution Frame (ODF), dan Optical Distribution Cabinet (ODC), perangkat pendukung jaringan metro maupun transport, hingga berbagai tools dan peralatan teknis.
Ketua Umum Apjatel Jerry Siregar mengatakan sebagian besar komponen tersebut menggunakan bahan baku maupun modul impor, sehingga pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya pembangunan jaringan baru maupun ekspansi kapasitas.
“Perkiraan pelaku industri menunjukkan potensi penyesuaian harga di rentang 5–12%, bergantung pada vendor, negara asal produk, dan metode pembayaran,” kata Jerry kepada Bisnis, Senin (8/6/2026).
Selain perangkat, Apjatel juga menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap biaya jasa dan tenaga kerja. Jerry menjelaskan biaya tenaga kerja untuk pekerjaan konstruksi jaringan seperti fiber roll-out, pemeliharaan, dan instalasi pelanggan memang tidak secara langsung dipengaruhi oleh pergerakan kurs.
Namun, dalam praktiknya, kontraktor dan penyedia jasa kerap melakukan penyesuaian tarif karena kenaikan harga perangkat dan material pendukung.
Selain itu, kebutuhan penggantian alat kerja yang banyak berbasis impor serta perubahan struktur biaya operasional akibat fluktuasi ekonomi turut memberikan tekanan terhadap biaya proyek.
“Hal ini berpotensi mendorong peningkatan biaya total proyek meski proporsinya lebih kecil dibanding kenaikan pada perangkat,” kata Jerry.
Lebih lanjut, Jerry mengatakan sebagian besar perangkat teknologi informasi (TI) dan sarana jaringan telekomunikasi yang digunakan di Indonesia masih bergantung pada komponen serta produk impor. Karena itu, fluktuasi nilai tukar secara otomatis memengaruhi struktur biaya pelaku industri.
Menurut dia, pelemahan rupiah membuka peluang kenaikan harga berbagai perangkat TI. Dalam satu tahun terakhir harga perangkat memang sempat membaik seiring meredanya krisis chip global, tetapi depresiasi rupiah kembali meningkatkan tekanan biaya impor.
Perangkat yang berpotensi terdampak antara lain laptop dan PC berbasis komponen impor, server dan storage, perangkat jaringan seperti router, switch, dan firewall, serta berbagai komponen pendukung seperti chipset, modul memori, power supply unit (PSU), dan peripheral lainnya.
Bagi distributor maupun integrator, dampak pelemahan kurs umumnya langsung terasa pada biaya pengadaan.
Sebagian pelaku industri memperkirakan kenaikan harga perangkat dapat berada di kisaran 5%-10%, tergantung pada durasi dan kedalaman pelemahan rupiah serta kontrak pengadaan masing-masing vendor.
Menghadapi kondisi tersebut, Apjatel mendorong pelaku industri melakukan berbagai langkah mitigasi. Di antaranya optimalisasi stok dan perencanaan pengadaan agar tidak terlalu terdampak fluktuasi jangka pendek, negosiasi dengan vendor global untuk memperoleh skema pembayaran yang lebih stabil, serta peningkatan penggunaan komponen lokal yang memenuhi standar kualitas.
Selain itu, Apjatel juga mendorong kolaborasi dengan pemerintah guna menjaga kesehatan ekosistem industri telekomunikasi di tengah tekanan nilai tukar.
“Apjatel juga mendorong seluruh anggota untuk menjaga kualitas layanan dan memastikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi tetap berjalan, karena konektivitas adalah kebutuhan dasar masyarakat dan fondasi ekonomi digital,” kata Jerry.
Biznet Terdampak
Di sisi lain, PT Supra Primatama Nusantara (Biznet) mengakui kondisi ekonomi saat ini turut memengaruhi sejumlah aspek bisnis, termasuk harga bahan baku dan perangkat jaringan fiber optik.
Meski demikian, Senior Manager Marketing Biznet Adrianto Sulistyo mengatakan perusahaan telah lebih dulu menyiapkan berbagai komponen jaringan untuk mendukung pembangunan infrastruktur.
“Kami tetap dapat terus berjalan sesuai rencana, yang tentunya juga didasarkan pada kebutuhan bisnis, permintaan pasar, serta target market yang tepat,” kata Adrianto kepada Bisnis, Senin (8/6/2026).
Dia menjelaskan Biznet saat ini berfokus pada optimalisasi teknologi dan pengembangan jaringan yang efektif sesuai dengan target pasar. Pengembangan jaringan juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan internet berkualitas tinggi di setiap wilayah.
Menurut Adrianto, ketersediaan komponen jaringan yang telah dipersiapkan sebelumnya membuat pembangunan infrastruktur Biznet tetap berjalan sesuai rencana sekaligus menjaga kualitas layanan kepada pelanggan.
Selain memperluas cakupan jaringan ke lebih banyak wilayah, Biznet juga memperkuat infrastruktur melalui penambahan kantor cabang agar dapat melayani pelanggan secara lebih cepat dan dekat.
Terkait harga layanan, Adrianto menegaskan hingga saat ini tidak ada perubahan tarif yang diberlakukan perusahaan.
Bahkan, di sejumlah kota lapis kedua dan ketiga, Biznet menerapkan harga layanan perumahan Biznet Home yang lebih terjangkau dengan menyesuaikan daya beli masyarakat setempat.
“Tentu hal ini juga tidak akan membawa pengaruh pada kualitas layanan Internet kami, di mana seluruh layanan Biznet didukung oleh infrastruktur handal serta teknologi canggih dan modern, yang membuat layanan Biznet akan selalu stabil di segala kondisi,” ungkapnya.