Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Ketua BKPM Todotua Pasaribu mengungkapkan bahwa ada pemerintah daerah (Pemda) yang rela menurunkan harga sewa tanah besar-besaran demi menarik investasi asing langsung.
Todotua mengaku kerap dihubungi kepala daerah untuk meminta masukan agar ada investor yang menanamkan modal ke wilayahnya. Dia pun menanyakan berapa harga tanah di wilayah tersebut.
Ternyata, sambungnya, harga lahan dipatok Rp5 juta per meter. Dia pun mengungkapkan bahwa ada perusahaan Vietnam yang berminat buka peternakan dan pabrik susu.
Hanya saja, calon investor itu hanya mau menyewa lahan dengan harga Rp100.000 per hektare per tahun. Adapun, investor asing itu ingin menyewa 35.000 hektare lahan sehingga Pemda hanya akan menerima Rp3,5 miliar per tahun.
"Saya panggil Bupatinya, 'Pak Bupati, gini, kau terima dapat dari tanah memang cuma Rp3,5 miliar, tapi coba pikir, karena 35.000 hektare lahan ini, dia mau bikin penanaman feedstock-nya, jagung dan bunga matahari. Tentunya ada ekosistem ekonomi yang terjadi di daerahmu'," cerita Todotua dalam Forum Investasi Nasional 2025 yang diselenggarakan secara daring, Kamis (13/11/2025).
Menurut Todotua, kepala daerah akhirnya setuju menurunkan biaya lahan tersebut. Investor asal Vietnam itu pun menanamkan modalnya ke daerah tersebut.
Mantan CEO Bomba Group ini pun menekankan bahwa investasi tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga penyerapan lapangan kerja hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga tercipta ekosistem perekonomian baru, yang kembali menarik investasi.
"Berbicara konteks investasi, tidak hanya bagaimana kita mengelola atau meng-approach investasi baru itu masuk terjadi, tetapi juga konteksnya bagaimana existing investasi [investasi yang ada] bisa kita jaga dan harus bertumbuh," jelasnya.
Dia pun mengingatkan bahwa investasi merupakan komponen terbesar kedua pembentukan produk domestik bruto (PDB). Pada kuartal III/2025 sendiri, Badan Pusat Statistik mencatat investasi berkontribusi hingga 29,09% untuk PDB (hanya kalah dari konsumsi rumah tangga sebesar 53,14%).
Dengan demikian, Kementerian Investasi dan Hilirisasi coba terus menciptakan iklim usaha yang menarik investor sehingga target pertumbuhan ekonomi 8% bisa tercapai pada 2029. Dia meminta semua pihak bekerja sama dalam mencapai menciptakan iklim investasi yang bersahabat itu.
"Orang mau investasi di sini susah, ditekan, diperas, dipalak, ya kan? Habis itu, nggak pasti izinnya keluar. Siapa yang mau masuk?" kata Todotua.
Lebih lanjut, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, dia menjelaskan pemerintah telah menargetkan investasi sebesar tak kurang dari Rp13.000 triliun selama 2024—2029. Angka itu naik signifikan dibandingkan realisasi investasi sebesar Rp9.200 triliun selama 2014—2024.
Adapun secara tahunan, perincian target investasi yaitu Rp1.650 triliun pada 2024, Rp1.900 triliun pada 2025, Rp2.175 triliun pada 2026, Rp2.567 triliun pada 2027, Rp2.969 triliun pada 2028, dan Rp3.014 triliun pada 2029.