Bisnis.com, JAKARTA — Mantan profesor fisika Universitas Harvard, Dr. Michael Guillen, memicu diskursus baru di kalangan akademisi dengan klaim bahwa hukum kosmologi dapat menunjuk pada lokasi spesifik "Surga".
Guillen menempatkan lokasi tersebut pada jarak yang hampir tak terbayangkan, yakni 273 miliar triliun mil dari Bumi. Dia berargumen bahwa prinsip-prinsip astronomi yang diterima secara luas dapat diinterpretasikan selaras dengan deskripsi religius kuno mengenai alam di luar ruang dan waktu.
Dikutip dari laporan Daily Star, Rabu (11/2/2026), argumen Guillen berpijak pada konsep dasar kosmologi modern, yaitu ekspansi alam semesta.
Berdasarkan pengamatan astronom Edwin Hubble, galaksi-galaksi bergerak menjauhi Bumi, dengan objek yang lebih jauh bergerak dengan kecepatan yang makin tinggi.
“Secara teoritis, sebuah galaksi yang berjarak 273 miliar triliun mil dari Bumi akan bergerak dengan kecepatan 186.000 mil per detik, yang merupakan kecepatan cahaya,” papar Guillen.
Jarak tersebut selaras dengan yang biasa disebut para astronom sebagai Horison Kosmik (Cosmic Horizon), batas terluar dari alam semesta yang dapat diamati (observable universe). Di luar titik ini, cahaya dari galaksi belum memiliki cukup waktu untuk mencapai Bumi.
Guillen juga menyoroti bahwa horison ini menandai pergeseran fundamental dalam sifat realitas itu sendiri. Dia merujuk pada observasi astronomi dan teori relativitas umum serta khusus Albert Einstein yang mengindikasikan bahwa waktu berhenti di Horison Kosmik.
“Pada jarak khusus itu, jauh di angkasa luar yang sangat dalam, tidak ada masa lalu, masa kini, atau masa depan. Hanya ada ketidakwaktuan [timelessness],” ujar Guillen.
Menurut Guillen, kondisi tanpa waktu ini mencerminkan deskripsi Surga yang ditemukan dalam teks-teks Kitab Suci. Dia berpendapat bahwa kitab suci menguraikan beberapa tingkatan Surga, yang masing-masing sesuai dengan ranah eksistensi yang berbeda.
Guillen menjelaskan bahwa tingkat terendah adalah atmosfer Bumi, tingkat menengah adalah luar angkasa, dan tingkat tertinggi adalah lokasi di mana Tuhan bersemayam.
Dia meyakini apa pun yang berada di luar Horison Kosmik memiliki sifat luar biasa di luar jangkauan pemahaman manusia tentang ruang dan waktu.
“Sebagai seorang ilmuwan, saya memahami pentingnya definisi,” tambahnya.
Sebaliknya, mayoritas astronom memandang Horison Kosmik sebagai batas praktis pengamatan semata, bukan penghalang fisik ataupun spiritual. Batas ini mendefinisikan apa yang dapat diukur dan dipelajari, bukan tepi dari eksistensi itu sendiri.
Secara ilmiah, horison ini merepresentasikan jarak terjauh di mana cahaya memiliki waktu untuk mencapai Bumi sejak alam semesta bermula sekitar 13,8 miliar tahun lalu. Cahaya tertua yang dapat diamati saat ini adalah latar belakang gelombang mikro kosmik (Cosmic Microwave Background).
Radiasi ini terbentuk ketika alam semesta awal cukup dingin bagi cahaya untuk bergerak bebas, meninggalkan sinyal yang masih menyelimuti kosmos hingga kini. Penemuannya pada 1965 menjadi salah satu bukti terkuat bagi teori Big Bang.