Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana melepaskan 172 juta barel minyak dari cadangan darurat Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari upaya terkoordinasi negara-negara di seluruh dunia untuk meredakan lonjakan harga minyak mentah dan BBM di tengah perang Iran.
Pelepasan cadangan yang diumumkan oleh Menteri Energi AS Chris Wright dalam sebuah pernyataan pada Rabu, akan memerlukan waktu sekitar 120 hari hingga seluruh minyak dari Strategic Petroleum Reserve (cadangan minyak strategis) milik Departemen Energi AS benar-benar disalurkan. Langkah ini merupakan bagian dari rencana negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) untuk melepaskan total 400 juta barel minyak dari cadangan global.
“Langkah ini bertujuan untuk membantu dunia melewati masa ketika arus pasokan minyak terganggu oleh Iran, tetapi pada akhirnya militer Amerika Serikat akan menang,” kata Wright dalam wawancara dengan Fox News, dikutip dari Bloomberg, Kamis (12/3/2026).
“Mudah-mudahan dalam beberapa minggu ke depan kita akan mulai melihat lalu lintas kapal kembali ke Selat Hormuz," imbuhnya,
Harga minyak mentah, bensin, solar, dan bahan bakar jet melonjak tajam sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Perang tersebut membuat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti, padahal sekitar seperlima aliran minyak dunia melewati jalur itu.
Adapun, Strategic Petroleum Reserve AS saat ini berisi sekitar 415 juta barel minyak, atau sekitar 60% dari kapasitasnya, setelah serangkaian pelepasan cadangan oleh pemerintahan sebelumnya di bawah Presiden Joe Biden. Termasuk di antaranya penjualan 180 juta barel untuk membantu menurunkan harga bensin setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, langkah yang menuai kritik dari Trump dan sejumlah anggota Partai Republik lainnya.
Trump telah berjanji untuk kembali mengisi cadangan tersebut. Cadangan minyak strategis ini dibentuk setelah embargo minyak Arab pada 1970-an dan disimpan di gua-gua garam di sepanjang Pantai Teluk AS. Kapasitas maksimumnya sekitar 713,5 juta barel.
Kontrak berjangka minyak mentah acuan AS naik hingga 4,1% setelah pengumuman tersebut dan diperkirakan akan terus menguat mengingat besarnya guncangan pasokan global yang dipicu oleh konflik Timur Tengah.
ClearView Energy Partners menilai pelepasan 400 juta barel yang sebelumnya diumumkan oleh International Energy Agency juga merupakan pengakuan resmi bahwa krisis Hormuz telah menjadi cukup serius sehingga negara-negara industri harus mencairkan sepertiga dari ‘polis asuransi’ minyak mereka.
“Masih belum jelas kapan selat itu bisa kembali dibuka, baik ranjau laut maupun senjata anti-kapal masih dapat menimbulkan ancaman besar,” tulis firma konsultan yang berbasis di Washington tersebut.
Rencana pelepasan cadangan AS terjadi ketika Trump menghadapi tekanan politik untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar. Pemilu paruh waktu pada November akan sangat dipengaruhi oleh sikap masyarakat Amerika terhadap biaya hidup dan sejumlah jajak pendapat menunjukkan publik memberi penilaian buruk terhadap kinerja presiden dalam menangani perekonomian.
Secara teoritis, Strategic Petroleum Reserve memiliki kapasitas untuk melepas sekitar 4,4 juta barel per hari, menurut situs web Departemen Energi AS. Dibutuhkan sekitar 13 hari agar minyak dari sistem tersebut mencapai pasar terbuka setelah presiden memerintahkan penjualan.
Namun, analisis yang disiapkan Departemen Energi AS pada 2016 menyebutkan bahwa jumlah sebenarnya yang dapat dilepas mungkin terbatas pada sekitar 1,4 juta hingga 2,1 juta barel per hari. Selama pelepasan cadangan pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina, jumlahnya bahkan tidak pernah melebihi 1,1 juta barel per hari, menurut analisis data pemerintah oleh ClearView.