Bisnis.com, JAKARTA — Akademisi mengingatkan kehadiran spektrum frekuensi yang memadai untuk mempercepat penetrasi 5G di Indonesia.
Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef Matheus Edward mengatakan bahwa kepemilikan spektrum frekuensi yang memadai merupakan variabel penentu utama kualitas layanan 5G suatu operator.
Dalam teknologi seluler, lanjutnya, lebar dan kontinuitas spektrum menjadi kunci utama.
Operator dengan spektrum yang lebih lebar dan tersusun kontinu akan lebih optimal dalam menghadirkan kecepatan dan stabilitas 5G.
Dia menjelaskan secara ideal satu operator membutuhkan alokasi sekitar 100 MHz spektrum untuk layanan 5G yang optimal.
“Dengan kepemilikan minimal 50 MHz yang terus-menerus pada pita TDD, layanan 5G sudah dapat beroperasi dengan performa yang cukup baik,” kata Ian dikutip Senin (23/2/2026).
Selain spektrum, Ian menegaskan bahwa infrastruktur backbone yang kuat dan terintegrasi turut berkontribusi terhadap konsistensi pengalaman pengguna.
Kombinasi kedua faktor tersebut yang umumnya tecermin dalam hasil pengukuran lembaga independen seperti OpenSignal.
Dalam laporannya, OpenSignal menempatkan Telkomsel sebagai operator dengan performa 5G terbaik di Indonesia berdasarkan laporan Mobile Network Experience edisi Desember 2025.
Telkomsel meraih nilai tertinggi dalam enam kategori sekaligus, yakni pengalaman video 5G, kecepatan unduh, kecepatan unggah, konsistensi kualitas jaringan, Coverage Experience, dan Availability Experience.
Temuan ini menegaskan bahwa keunggulan jaringan 5G tidak hanya ditentukan oleh skala ekspansi infrastruktur, tetapi juga oleh faktor-faktor teknis yang lebih mendasar.
Di sisi lain, laporan yang sama menyoroti realita yang lebih menantang bagi industri secara keseluruhan. Penetrasi 5G Indonesia masih berada di kisaran 10%, jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia yang telah mencapai sekitar 50%.
Ian mengidentifikasi tiga faktor penghambat utama percepatan adopsi 5G di Indonesia. Ketiganya adalah keterbatasan alokasi spektrum 5G yang tersedia secara nasional, harga perangkat yang belum sepenuhnya terjangkau, serta model bisnis dan use case yang masih terus berkembang.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa sebagian operator saat ini masih mengoptimalkan spektrum yang sama untuk melayani jaringan 4G.
Implementasi 5G pun berjalan berdampingan dengan jaringan generasi sebelumnya, sehingga sumber daya spektrum terbagi.
Menghadapi tantangan tersebut, Ian menekankan perlunya reformasi kebijakan pengelolaan spektrum yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang ekosistem digital nasional, bukan sekadar optimalisasi penerimaan negara.
"Jika spektrum dikelola dengan struktur biaya yang rasional dan diberikan kepada operator yang memiliki komitmen membangun secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat melalui layanan yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi digital yang lebih kuat," ujar Ian.